Kuliah Online Gratis (KOG)!
Kuliah Online Gratis (KOG) kini hadir menawarkan pembelajaran yang sesuai dengan Abad 21. 100% GRATIS, SEBULAN 1X!
Senin, 19 November 2012
PETUNJUK BARU KOG
PETUNJUK BARU DALAM MENGIKUTI KULIAH ONLINE GRATIS
1. Klik Modzila (jika tidak ada Internet Explorel), lalu ketik www.sampenulis.wordpress.com, klik Formulir Kuliah Online dan copy paste ke Word, isilah formulir dan kirimkan ke email otodidaktor@yahoo.co.id
2. Menyediakan waktu minimal 1 bulan sekali untuk mengakses www.sampenulis.wordpress.com supaya dapat mempelajari buku CARA BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI
3. Diskusi dan konsultasi dapat dilakukan melalui No. HP 085235930884 -Ahmad Zamhari Hasan- (Bahkan, jika saya tidak online setiap pertengahan bulan, Anda dapat ber-SMS ria atau menghubungi No HP tersebut dengan keterangan bahwa Anda sudah terdaftar sebagai Otodidaktor/Mahasiswa/wi Kuliah Online)
4. Jika sudah menngkhatamkan atau menyelesaikan membaca buku CARA BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, maka bacalah KRITERIA KELULUSAN KULIAH ONLINE, lalu jawablah PERTANYAAN EVALUASI KULIAH ONLINE.
5. Bacalah buku Cara Berbisnis Secara Islami dan 3 Langkah Sederhana Untuk Sukses! Sebagai buku pendukung untuk menyelesaikan Kuliah Online.
6. Jika Anda membutuhkan hiburan, bacalah Kumpulan Cerpen atau Novel Bidadari Posmodern atau Puisi. Anda dapat membaca artikel atau makalah lain yang ada dalam www.sampenulis.wordpress.com. Jika blog ini tidak bisa diakses, Anda dapat menemukannya di www.sampenulis.blogspot.com
7. Saat Anda menyelesaikan semua tahapan di atas, maka Anda dianggap Lulus Kuliah Online
KRITERIA KELULUSAN KULIAH ONLINE
(Meski Tanpa Ijazah)
1. Membaca buku CARA BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI minimal 3x;
1. Membaca Buku sampai selesai
2. Membaca Ulang supaya dapat menjawab (melaksanakan tugas) Pertanyaan Evaluasi Kuliah Online
3. Membaca Ulang sesuai kebutuhan untuk dimanfaatkan dalam kehidupan
2. Menjawab (melaksanakan tugas) Pertanyaan Evaluasi Kuliah Online
3. Berkomitmen pada diri sendiri untuk belajar sendiri (Belajar Otodidak) seumur hidup!
4. Mau menjadi orang baik yang diwujudkan dengan membantu 3 orang secara ikhlas karena Allah sesuai kemampuan
5. Bekerja apa saja asal halal dengan berusaha menggabungkan antara pekerjaan dan pengetahuan, sebab inilah rahasia sukses di masa depan.
PERTANYAAN EVALUASI KULIAH ONLINE
1. Apa yang dimaksud Belajar Otodidak (selanjutnya disebut BO)? Ceritakan seorang tokoh yang berhasil melalui BO!
2. Bagaimana cara mengelola kegagalan? Apa saja usaha Anda untuk berhasil? Susunlah Rencana Aksi pada jangka Pendek, Menengah dan Panjang Anda secara terperinci!
3. Bedakan hal-hal berikut ini! (Nilai 20, yang lain bernilai 10, jadi total 100)
1. Otak Kanan dan Otak Kiri
2. Fantasi dan Imajinasi
3. Tesis dan Anti Tesis
4. Keberhasilan dalam Perspektif Baru dan Persprektif Lama
5. Bisikan Malaikat dan bisikan Setan dalam hati
6. Cara menarik Kesimpulan dan cara membuat Keputusan
7. Cara Membaca buku Sastra dan cara membaca buku ilmiah
8. Cara menulis puisi dan cara menulis ilmiah popular
4. Apa Manfaat masa lalu bagi Anda? Sebutkan nilai-nilai baru yang sedang menguasai dunia postmodern (setelah zaman modern)! Bagaimana cara Anda menghadapi masa kini dan mendatang?
5. Mengapa penulis buku BO menyatakan “BUKAN SEBERAPA BANYAK BUKU YANG DIBACA, MELAINKAN SEBERAPA BESAR MANFAAT DARI SATU?” Sebutkan 10 Cara Kreatif Membaca buku! Lakukan 10 Cara Kreatif Membaca Buku terhadap; Buku Cara Berbisnis Secara Islami dan 3 Langkah Sederhana Untuk Sukses! Serta satu buku lain terserah Anda!
6. Pekerjaan apa yang sedang Anda tekuni atau hendak Anda tekuni pada depan? Apa saja usaha-usaha yang telah/akan Anda lakukan supaya berhasil? Bagaimana cara menjalani kehidupan sehari-hari dengan tetap BO seumur hidup?
7. Tulis sebuah makalah sebanyak 1200 kata atau 6 halaman folio tentang bidang yang Anda Senangi!
8. Isilah 3 Tes yang ada dalam buku 3 Langkah Sederhana Untuk Sukses yakni;
1. Tes Kecerdasan Berganda (Tulis 2 Jenis Kecerdasan terbanyak, a dan g atau b dan d atau lainnya)
2. Tes Wira Usaha Islami (Tulis jawaban 1) 2) 3) berapa jumlahnya)
3. Tes Mukmin Sejati (Tulis jawaban a. b. c berapa jumlahnya)
NB: Cara Menjawab dengan Nilai Terbaik apabila;
1. Menjawab dengan mengutip pendapat yang ada dalam buku Cara Belajar Otodidak Sampai Mati karena merupakan Buku Diktat Kuliah Online!
2. Menjawab berdasarkan pandangan tokoh lain atau buku lain
3. Menjawab dengan pandangan Anda Sendiri.
CARA MENGISI FORMULIR DAN EMAIL
Ketik saat memulai ngenet: www.sampenulis.blogspot.com maka tulisan Cara Mengisi Formulir diblog dulu dan klik ctrl (control) C, lalu tempatkan dalam Word (tentu saja harus membuka Microsoft Word terlebih dahulu) dan ctrl V. Setelah itu Control S (save/simpan) tulis nama file: formulir, lalu ISI FORMULIR. Setelah selesai diisi, blok semua Ctrl A, lalu ke Ctrl V ke Email:
Cara memblok: Jika menggunakan Control A (yang diblok semua) padahal yang mau digandakan (copy) hanya sebagian, cara Ctrl+Shift dengan menggunakan fungsi panah kanan atau bawah (panah empat yang menunjukkan krusor atas, bawah, kiri dan kanan. Lalu control C (copy) dan tempatkan hasil copyan dan klik control V.
Formulir Kuliah Alternatif Online
1. Nama : ……………………………………………………..
2. Tempat Tgl. Lahir : ……………………………………………………..
3. Alamat : ……………………………………………………..
……………………………………………………..
Bersedia mengikuti Kuliah sebulan sekali, sesuai Jadwal: Hari Ahad minggu pertama awal bulan, pukul 08.30-10.30 secara Online.
4. Apa yang paling tidak disenangi ketika belajar : ……………………..
………………………………………………………………………………
5. Tujuan Pribadi/Cita-Cita apa yang hendak dicapai:
a. Tertinggi: …………………………………………………………………
b. Menengah: .………………………………………………………………
c. Biasa: .....…………………………………………………………………
6. Usaha-usaha Anda untuk mencapai cita-cita
a. ……………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………
d. ……………………………………………………………………………
e. ……………………………………………………………………………
f. ……………………………………………………………………………
7. Tantangan yang dihadapi untuk mencapai cita-cita
a. ……………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………
8. Latar belakang Ortu
a. Nama Bpk/Ibu ……………………………………………………………
b. Pekerjaan Bpk/Ibu ………………………………………………………..
c. Nama saudara …………………………………………………………….
d. Prakiraan Penghasilan Ortu Sebulan ..…………………………………….
9. Bidang studi apa yang paling disenangi sebelumnya
a. ……………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………
10. Agama : …………………………………………………………………….
11. Email ……………………………. Facebook ……………………………...
No HP. …………………………………….
12. Memberi informasi jika berhalangan untuk mengikuti kuliah melalui dunia maya
13. Ingat Anda TIDAK MENDAPAT GELAR/IJAZAH, tapi KEAHLIAN. Saat Anda berhasil, Insya Allah Anda memberikan Sertifikat Khusus.
14. Bersungguh-sungguh dalam mengikuti Kuliah Alternatif Online ini.
15. Menjalankan komitmen/janji yang dibuat sebaik-baiknya
16. Pengalaman
a. ……………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………
17. Latar belakang Pendidikan
a. ……………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………
18. Kegiatan-kegiatan yang dijalani saat ini/pekerjaan (bagi yang bekerja)
a. ……………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………
19. Apa saran Anda untuk Kuliah Alternatif Online
a. ……………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………
………………….., ….-….-……..
Otodidaktor,
( …………………………… )
Untuk mengirim email:
1. Pilih New/Compose : messege atau tulis pesan
2. Cc: sam_penulis@yahoo.com (email saya yang dituju)
Cc: otodidaktor@yahoo.co.id (email lain yang ingin dikirim)
Subjek : formulir (judul tulisan)
3. Di bawah Attach file, barulah tempat kamu meletakkan data yang ingin dikirim, tulis Control V (paste) = (ingat, sebelumnya sudah isi formulir, control A, control C, sekarang waktunya memunculkan di email).
4. Attach file: (untuk mengirim naskah lain yang disimpan di Direktori C/D atau flash disc). Setelah itu muncul pilihan …….. browes, masukkan data yang ingin dipindah. …….. Browes jika ada data lain. Lalu pilih Attache File dan Continu, lalu tunggu. INGAT, JIKA TIDAK ADA DATA LAIN, Attach file TIDAK USAH DIPAKAI.
5. Send (berada di atas): kirim tulisan, maka tulisan terkirim. Biasanya memunculkan tulisan Back to Inbok, klik dua kali, maka kembali ke Inbok.
Untuk Membuka dan Membaca Email;
1) Klik 2x Modzila atau e Internet Eksplorel, lalu tulis: mail.yahoo.com/mail.yahoo.co.id atau www.gmail.com, (jika perlu pilih Sigh In) lalu isi nama email Anda ………………. Pasword …………….
2) Klik Inbok atau kotak pesan 2x, lalu klik 2x pesan yang diterima;
a. Membaca langsung pesan yang diterima
b. Membaca pesan yang diterima dari attach file, klik 2x (judul tulisan di bawah subjek dan di atas pesan yang diterima), klik 2x Downloud, pilih open (membuka file) atau save (untuk menyimpan langsung). Lalu Save As (simpan di tempat yang Anda inginkan)
3) Kalau Anda ingin membaca pesan yang pernah dikirim, klik Sent, lalu klik 2x!
Fungsi dalam email:
1. Inbok : kotak surat untuk menerima email dari saya atau orang lain
2. Sent : untuk mengetahui tulisan yang telah terkirim atau memanfaatkan tulisan lama yang telah dikirim.
3. Draft: untuk menyimpan tulisan
4. Spam : Tong sampah/tulisan yang dikirim oleh orang yang tidak dikenal, biasanya berisi penipuan dari orang lain.
LIHAT SUB JUDUL BULAN MEI 2011
UNTUK MENDAPATKAN BUKU GRATIS DARI SAYA.
Ahmad Zamhari Hasan
Jumat, 27 Mei 2011
3 LANGKAH SEDERHANA Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat Ahmad Zamhari Hasan
Cover Belakang
Buku ini berisi 3 Langkah Sederhana untuk sukses di dunia dan akhirat; 1. cara mudah untuk Belajar Sendiri, 2. Cara Berwirausaha Islami, dan 3. Cara menjadi Mukmin Sejati. Tiga Tema dalam satu paket? Terobosan yang luar biasa.
Percayalah! Anda benar-benar membutuhkannya untuk meraih keberhasilan dalam belajar, bekerja, usaha, dan menjalani kehidupan. Apalagi jika Anda mengikuti Pelatihan Learning For Living, wow dasyat sekali pengaruhnya!
Isinya Mencerminkan:
“Kesederhanaan adalah sebagian dari iman,” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
“Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D.
“Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dan kerja, adalah kunci-kunci sukses baru menuju masa depan,” laporan Scans.
“Sesungguhnya Takwa memiliki jalan sendiri. Apabila seseorang melalui jalan itu, maka nilai-nilai ketakwaan akan terpatri di dalam dirinya dan perbuatannya akan mencerminkan cahaya Al-Qur’an dan Hadits.” Sa’id Hawwa
“Allah, Pemilik keagungan, mencintai tiga perkara dari hamba-hambaNya, yaitu; Mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbakti kepada Allah SWT; menangis ketika sedih karena telah melakukan maksiat; dan bersabar ketika tidak punya sesuatu buat memenuhi kebutuhan.” Malaikat Jibril
Ikutilah Pelatihan
Learning For Living (LFL) (FOTO TRAINER)
LFL merupakan lembaga Pelatihan yang berupaya mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menaklukkan abad 21, mengasah keterampilan kewirausahaan, menemukan potensi manusia dan mengembangkannya, membentuk kepribadian unggul yang tahan uji dan beramal sholeh, didukung Trainer dan Tim berpengalaman. 15% dari ketuntungan disumbangkan pada Pesantren/Lembaga Pendidikan Gratis.
Ka Tulis Tiwa Press Jakarta
LEARNING FOR LIVING (LFL)
3 LANGKAH SEDERHANA
Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat
Ahmad Zamhari Hasan
Halaman judul:
LEARNING FOR LIVING (LFL)
3 LANGKAH SEDERHANA
Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat
Copyrigt, Zamhari Hasan
Penerbit, Ka TulisTiwa Press Jakarta
Cetakan I, Februari 2009
Kata Pengantar Penulis
Alhamdulillah buku ini dapat diselesaikan berkat rahmat, hidayah, taufik dan ma’unah Allah, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Shalawat dan salam disampaikan pada Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan terbaik bagi segenap umat manusia di muka bumi.
“Di antara kenikmatan dunia, cukuplah bagi Anda Islam; di antara kesibukan, cukuplah bagi Anda ketaatan, dan di antara pelajaran, cukuplah bagi Anda kematian sebagai pelajaran berharga bagi Anda.” Ali Bin Abi Thalib
Selama ini begitu sulit rumusan yang dipergunakan untuk meraih kesuksesan di berbagai sendi kehidupan, baik di dunia maupun akhirat. Pasti dalam hati Anda terbetik “Kenapa tidak ada buku sederhana untuk sukses?” Buku ini adalah jawabannya.
Buku ini merupakan panduan teoritis dan praktis yang berisi poin-poin penting yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, supaya Anda mampu menjalani kehidupan yang lebih baik, mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan era global, mampu bangkit di saat krisis dan menaklukkan abad 21 ini.
Isi buku ini sebenarnya merupakan pengembangan Modul Pelatihan Learning For Living (LFL) yang terdiri dari Belajar Otodidak, Wirausaha Islam, dan Mukmin Sejati. Untuk itu, bagi pembaca buku yang hendak mendalami isinya, menyimak penjelasan lengkap setiap poin-poin penting, mengintegrasikan dalam kepribadian dan merasakan manfaat secara langsung, dapat mengikuti Pelatihan LFL. Kebetulan Trainer juga penulis buku ini.
Berhubung manfaat suatu Pelatihan hanya dirasakan dalam kurun waktu sebentar, terkadang seminggu atau tiga bulan saja, maka kehadiran buku ini tentu sangat penting. Diharapkan, mereka mampu memotivasi dirinya sendiri dengan membaca buku ini, apalagi jika langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih pada Habib Saggaf, Nurrohiem, Rahmat, Yan Heriyansyah, dan guru Sekolah/Pesantren Gratis, semoga Allah senantiasa meridhoi langkah kita. Amin! Terima kasih yang tak terhingga pada semua guru yang pernah berjasa, kedua orang tua; Bapak Mohammad Hasan dan Ibu Syarrah, Zubairi Hasan, Jumladi dan sahabat penulis di seluruh Indonesia.
Daftar Isi
Langkah 1: Belajar Otodidak Seumur Hidup
1. 7 Value in living
2. Metode Mengetahui Gaya Belajar
3. Cara Menemukan dan Mengembangkannya 10 Kecerdasan Berganda
4. Beberapa Langkah Penting Agar Sukses Belajar Otodidak
5. Memiliki Kompetensi Pendukung
Langkah 2 : Menekuni Wirausaha Islam
1. Makna kewirausahaan
2. Perpaduan ‘Azm dan Tawakkal
3. Cara Sukses Berwirausaha Islami
4. Tes Wirausaha Islami
5. Makropreneur dan Nilai-Nilainya
Langkah 3: Menjadi Mukmin Sejati
1. Berislam dengan benar
2. Membentuk Kepribadian Mukmin Sejati
3. Menjalani Kehidupan Sehari-Hari
4. Tes Mukmin Sejati
5. Meningkatkan Kualitas Keimanan
Profil Pelatihan LFL (Learning For Living)
Profil Trainer atau Penulis
Bahan Bacaan
Kami Bukan Saya
Gelega hati membara membakar tubuh yang kian renta, hawa panas menyelimuti tak kira rasa, letupan hasilkan bara api berkobar, hanguskan segenap yang ada, tak peduli apa-apa.
Dalam buaian api membara, kekuatan pikiran seperti bangkai tak berguna, terjerembab dalam tong sampah, hanya para pemulung yang bisa mengambil manfaat, mestikah kita jadi pemulung tuk bisa ambil manfaat.
Menarik nafas perlahan kecilkan bara api, tenangkan diri dengan bisikan Ilahi, asma Allah mengalun merdu penuhi jiwa, basuh bara api dengan air kehidupan, rona muka memerah merona sawo matang, degub jantung bergerak cepat jadi normal, hati nurani terbuka kembali.
Hati nurani mampu atasi bara api, pikiran tak mampu melakukannya, pikiran berfungsi normal berkat bantuan nurani, pikiran tak bisa dibiarkan bergerak sendiri sebagaimana api semakin berkobar dengan kayu.
Rasionalitas adalah produk unggulan Barat yang dijual dengan harga murah meriah.
Ketika segala sesuatu bernilai jual, pikiran bukan lagi sesuatu yang bernilai, pikiran bukan lagi barang antik, pikiran sudah menjadi barang murahan yang di jual di Mall.
Aneh bin ajaib, umat Islam terlena dalam buaian pikiran, meninggalkan nurani pada tong sampah, padahal pikiran dan nurani berjalan seiring dalam keislaman, sesuatu yang tidak dimiliki Barat.
“Alah…! Kami menikmati kehidupan kosmopolit dengan cara melacurkan diri pada Barat, kami keruk kekayaan mereka tuk diri sendiri, tak peduli menginjak-injak nilai Islam, tak peduli Al-Qur’an dan Sunnah; keberadaannya antara ada dan tiada, tak peduli ajaran-ajaran Islam; sesuatu yang tak mampu menangkap nilai-nilai kebaruan. Kami hidup karena Barat, oleh Barat, dibentuk Barat, dan mematuhi Barat.”
Beruntung kami bukan saya, saya tak mau menjual diri demi harta yang tak bisa dibawa ke kubur, saya tidak rela menjadi pelacur meski hidup dalam kekurangan, saya tidak bisa menyamakan diri dengan mobil, rumah, kartu kredit dan popularitas: benda-benda itu tetap objek, saya sebagai subjek.
Islam agama yang mampu mensinergikan semesta; dunia, alam kubur, dan akhirat, dalam kesatuan makna yang hakiki. Islam menumbuhkan keyakinan untuk hidup, Islam memperkuat dasar-dasar jalani hidup penuh arti. Islam mengajarkan berbuat, membela sesama, menegakkan kebenaran hakiki, dan mewarnai kehidupan dengan tinta-tinta emas sejarah. Islam menyatukan; imajinasi, panca indera, pikiran, perasaan, tubuh dan hati nurani dalam kesatuan utuh, hanya saja umatnya tak mampu bersikukuh.
Langkah 1: Belajar Otodidak Seumur Hidup
“Tuntulah Ilmu dari pangkuan Ibu sampai ke Liang Lahat,” Hadits
Ruang kelas terbaik di Negara ini atau Negara manapun bukanlah di sekolah atau universitas, tapi berada di sekitar meja makan di rumah Anda. Dr. Richard Berenden dalam The Creating The Future.
Mengapa di ruang makan? Sebab di sinilah sebuah keluarga menikmati makan dengan senang hati sambil berbicara tentang berbagai hal yang dialami. Tanpa disadari, pembicaraan yang ada, sebenarnya merupakan bentuk pendidikan yang efektif bagi keluarga. Bukankah untuk membangun suatu bangsa yang besar, dimulai dengan membangun keluarga? Meja makan Anda adalah tempat terbaik untuk belajar. Apalagi jika para orang tua semenjak saat ini mengatur sebuah pembelajaran terpadu dengan mempersiapkan satu nasihat, satu kalimat hikmah, satu pesan moral atau satu ayat Al-Qur’an/Hadits, setiap makan bersama, dengan tetap dalam suasana santai dan gembira. Buku ini dapat dijadikan panduan. Penyampaiannya dilakukan seakan-akan spontan sesuai keadaan, masalah yang dihadapi anak, dan kebutuhan waktu itu. Jangan kaget, ketika anak-anak mereka sukses kelak, mengakui secara jujur bahwa guru terbaiknya adalah orang tua. Ini berarti setiap orang harus mau belajar sendiri seumur hidup.
Makna Belajar Otodidak (BO)
1. Definisi BO adalah pembelajaran yang dilakukan seseorang atas kemauan, tekad dan keinginan sendiri, meski terkadang belajar pada orang lain
2. Prinsip utama BO: Filosofi air yang berusaha menembus batu, butuh proses, waktu, ketekunan dan kegigihan untuk berhasil.
3. Ilmu itu seperti air yang dituangkan ke dalam gelas, jika terlalu banyak tumpah, jika terlalu sedikit kita kehausan, jadi secukupnya sesuai kebutuhan dan langsung diminum.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Anda memerlukan pegangan nilai-nilai untuk mampu beradabtasi dengan era global atau informasi; zaman ketikdakpastian, kerancuan nilai, resesi ekonomi dunia, kompleksitas masalah dan pemanasan global. Setelah melewati proses panjang, akhirnya ditemukan 7 nilai penting.
“Orang yang paling berbahagia adalah yang mempunyai hati alim, badan sabar dan ridha dengan apa yang ada di tangannya.” Ahli Hikmah
7 Value in living (BPKM SB2):
1. Belajar Otodidak (BO) Seumur Hidup; menghadapi perkembangan pesat di bidang teknologi dan informasi, akselarasi perubahan dan kenyataan hidup, diperlukan kemauan yang kuat dalam diri setiap orang untuk belajar sendiri seumur hidup. Jika dulu pembelajaran seumur hidup Lifelong Education dianggap slogan, kini menjadi keharusan, jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk gagal, putus asa, dan terpinggirkan.
2. Proses dan Hasil; pembelajaran merupakan sebuah proses terus menerus dalam upaya membentuk kepribadian yang unggul secara permanen, proses ini berlangsung seumur hidup, sebab manusia paripurna dicapai ketika kematian menjemput. Tapi Anda butuh hasil jangka pendek yang kasat mata; peningkatan pengetahuan, peningkatan nilai ujian dan penghasilan, jenjang karir atau jabatan, keahlian beberapa bidang ilmu secara mendalam, dan mengelola Wirausaha yang menguntungkan.
3. Kerja Sama; abad 20 merupakan zaman persaingan dengan prinsip seleksi alam atau yang kuat akan menjadi pemenang, sehingga memaksa setiap orang untuk saling menjatuhkan, maka dalam abad 21 justru nilai utamanya ialah kerja sama. Jika Anda ingin sukses, maka harus memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan siapa saja dalam upaya mengembangkan usaha, karir dan pekerjaan, sehingga secara otomatis meningkatkan kualitas hidup.
4. Mandiri; kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup, membuat Anda mampu menjalani kehidupan sesuai yang diinginkan. Jika Anda mampu melakukan sesuatu yang Anda mau, sebenarnya Anda adalah orang sukses, sebab seringkali Anda tidak mampu melakukan apa yang Anda mau walau materi serba berkecukupan. Kemandirian dapat dicapai jika Anda mampu memanfaatkan peluang yang ada di depan mata dengan tanpa memilih-milih pekerjaan atau usaha. Jalani usaha/pekerjaan yang ada, tekuni, kembangkan, evaluasi dan kelola keuntungan!
5. Semangat Pantang Menyerah; menjalani kehidupan penuh liku-liku, jalan terjal, masalah, kesulitan, tantangan dan penderitaan, selama Anda tidak mengenal kata “Menyerah” insya Allah Anda berhasil. Batasan untuk menyerah ialah kematian, artinya jangan pernah menyerah selama Anda masih hidup. Ingat! Thomas Alva Edison mengatakan bahwa dengan menyerah sebenarnya seseorang sudah sangat dekat dengan keberhasilan. Ingat! Ibnu Hajar belajar 10 tahun justru tidak mampu menyerap ilmu yang dipelajari alias merasa bodoh, namun dengan melihat air yang menetes sedikit demi sedikit mampu menembus batu, justru menjadi Tokoh Islam terkemuka yang banyak melahirkan Ulama’ dan Ilmuan.
6. Beriman Penuh Keyakinan; orang Barat lari pada spritualitas karena kebingungan menghadapi era global ini, sebab kehidupan mereka menjauh dari nilai-nilai agama. Spritualitas Islam yang diwujudkan dengan keimanan penuh keyakinan tanpa keraguan, terbukti menjadi pegangan hidup bagi umat Islam yang mampu mencapainya. Untuk itu, dalam menjalankan ibadah sehari-hari, Anda melakukannya sepenuh hati, menjadikannya sebagai kebutuhan hidup dan penuh keyakinan.
7. Bahagia Dunia dan Akhirat; apalagi yang ingin dicapai jika sudah mampu bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini dapat diraih, jika mampu mengisi kehidupan dengan hal-hal yang bermanfaat, menjalani hidup apa adanya, berbuat baik secara tulus, memiliki manajeman konflik yang baik, beramal sholeh dan melakukan segala sesuatu guna memperoleh ridha Allah.
Metode Mengetahui dan Memahami Gaya Belajar
“Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D.
Setiap orang memiliki gaya unik masing-masing individu. Dalam berbagai penelitian di Barat ditemukan 3 Gaya Belajar yakni Visual, Auditori dan Kinestetik (VAK). Anda pahami dulu ketiganya, lalu temukan Gaya Belajar yang cocok dengan diri Anda dengan mengisi Tes Metode Mengetahui Gaya Belajar, insya Allah Anda memahami apa yang dimaksud Belajar Bagaimana Belajar (BBB) seperti yang diharapkan Luis Alberto Machado, Ph.D.
Gaya Belajar Unik Masing-Masing Individu (VAK)
Pembelajar Visual ; Memiliki indera mata yang kuat. Beberapa tips untuk Anda;
1. Memperhatikan dengan seksama proses pembelajaran,
2. Membuat kesimpulan buku dengan menggunakan cara dan bahasa sendiri
3. Membuat kata kunci sepert VAK (Visual, Auditori dan Kinestetik), penjelasan maksud diingat dan disampaikan kembali pada orang lain
4. Berlatih berbicara sendirian dan di depan umum
5. Perlu memanfaatkan waktu kosong dengan merenungkan sesuatu, membaca, menulis, dan menggambar.
6. Kata Kunci; Melihat, Membaca dan Berbicara.
Pembelajar Auditori; Memiliki indera pendengaran yang tajam. Beberapa tips untuk Anda;
1. Merekam kesimpulan setiap pelajaran di tape atau Hp, lalu mendengarkan hasil rekaman saat belajar sendiri.
2. Perlu merangsang diri untuk banyak bertanya,
3. Berbicara pada diri sendiri dan bermain drama.
4. Memperdalam suatu bidang ilmu sesuai minat dan kesenangannya, ketika sampai pada titik ini, maka semangat belajar membara dan motivasi meningkat.
5. Mengisi waktu kosong dengan berdongeng/bercerita pada orang lain, bermain musik, bernyanyi, berdebat dan berfilosofi (mengungkapkan kalimat-kalimat penuh makna),
6. Kata Kunci Membaca yang disukai, Menderngar dan Bertanya.
Pembelajar Kinestetik: Memiliki tubuh yang penuh potensi. Beberapa tips untuk Anda;
1. Membaca buku di tempat terbuka,
2. Paling baik belajar dengan tindakan fisik dan mengetahui secara langsung lewat pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
3. Belajar sambil menggerak-gerakkan kaki/tangan.
4. Fokus pada buku yang dipelajari selama 7 menit, lalu jalan-jalan sambil mencerna yang dibaca, begitu terus sampai waktu 1 jam belajar tiap hari selesai.
5. Menggunakan waktu kosong untuk; membuat kerajinan tangan, berkebun, merawat tanaman, olah raga, dan memperbaiki barang yang rusak (teknik).
6. Kata kunci Membaca sambil bergerak, Praktik dan Kreativitas fisik.
“Lingkungan yang positif dan kaya emosional bukan barang mewah tetapi sungguh merupakan kebutuhan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik pada abad 21,” Dr. Koburo Nabayasyi
Metode Mengetahui Gaya Belajar!
Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang cocok bagi Anda;
kepribadian, minat atau kesenangan, dan tingkah laku.
1. a) Duduk tegak saat membaca buku
b) Sering mengangguk-anggukkan kepala sambil membaca
c) Suka mempermainkan fulpen/kertas dan menggerakkan kaki sambil membaca
2. a) Suka Berhubungan dengan orang lain secara langsung yakni bertemu antar wajah
b) Suka berhubungan dengan orang lain melalui telepon/Hp atau internet
c) Suka berhubungan dengan orang lain sambil melakukan hal lainnya
3. a) Melihat lurus ke depan atau memandang ke pendidik
b) Melihat ke kiri dan ke kanan atau ke bawah saat pembelajaran.
c) Seorang yang melihat ke kanan (padahal bukan kidal) atau ke atas saat pembelajaran
4. a) Jika berbicara cepat
b) Berbicara dengan suara yang berirama
c) Berbicara dengan lambat atau terpatah-patah.
5. a) Punya ingatan yang bagus walau beberapa hari lalu.
b) Menghapal kata-kata atau gagasan yang pernah diucapkan
c) Ingat lebih baik menggunakan alat bantu teknologi/alat peraga
6. a) Tidak merasa bosan duduk lama mendengarkan materi pembelajaran
b) Kadang merasa bosan dan tidak, suka belajar di ruangan
c) Merasa bosan duduk lama dan senang belajar di luar di luar ruangan
7.a) Senang membaca buku
b) Senang bertanya
c) Senang belajar sambil praktik
8. a) Suka mengisi TTS dan menonton
b) Suka mendengarkan radio, drama dan diskusi/telewicara
c) Menyukai kegiatan sosial, olahraga atau lintas alam.
9. a) Selera berpakaian penuh gaya
b) Selera berpakaian yang penting merk
c) Selera berpakaian sederhana
10 .a) Menyatakan emosi dengan ekspresi muka
b) Mengungkapkan emosi melalui kata-kata atau ucapan
c) Mengungkapkan emosi melalui gerak tubuh seperti memukul
11. a) Aktivitas kreatif; menulis, menggambar dan melukis
b) Aktivitas kreatif; berdongeng, bermain musik, menyanyi dan berdiskusi
c) Aktivitas kreatif; kerajinan tangan, berkebun, menari dan olah raga
12. a) Saat diam suka melamun atau menatap ke angkasa
b) Saat diam suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri
c) Saat diam selalu merasa gelisah, tidak bisa duduk tenang
Setelah menjawab, coba dihitung mana yang terbanyak jawabannya
1. Kalau jawabannya banyak a) berarti Anda Pembelajar Visual.
2. Kalau jawabannya banyak b) berarti Anda Pembelajar Auditori
3. Kalau jawabannya banyak c) berarti Anda Pembelajar Kinestetik
4. Anda dapat memanfaatkan semua Gaya Belajar di atas, jika telah mampu mempraktikkan satu Gaya Belajar yang sesuai dalam kurun waktu tertentu.
Sebagai tindak lanjut dari hasil tes, diperlukan beberapa langkah praktis dalam belajar. Inilah Tips sederhana dalam belajar 5 M:
1. Membaca 10 menit setelah pulang sekolah dan bangun tidur
2. Menyediakan waktu 2 jam setiap hari untuk belajar (membaca/menulis/berpikir)
3. Menyenangi apa yang dipelajari
4. Menyukai semua guru agar dapat barokahnya
5. Membuat suasana dan tempat belajar yang baik
“Seekor ulat tergelantung di pohon, dia bergerak pelan-pelan untuk mencapai puncak, tapi akhirnya sampai juga, di waktu berbeda ulat di atas tali bergoyang terkena hembusan angin kencang, namun sampai juga merayap ke puncak.” Ahmad Zamhari Hasan
Cara Menemukan dan Mengembangkan 10 Kecerdasan Berganda
Menurut Howord Gardner terdapat 8 Kecerdasan Berganda (Multiple Intelegences) Versi Howard Gardner, sedang penulis yang sudah melakukan penelitian sederhana terhadap 1000 orang lebih selama 2 tahun menemukan 2 kecerdasan tambahan yakni Kecerdasan Otodidaktor dan Kecerdasan Spritualitas, jadilah 10 Kecerdasan Berganda. Untuk mampu menaklukkan Abad 21 Anda harus mampu mengembangkan minimal 4 Kecerdasan Berganda yang dimiliki. Berikut ini uraian 10 Kecerdasan Berganda yang disertai dengan metode mengetahuinya!
1. Kecerdasan Linguistik (Kemampuan Mengeksplorasi Bahasa), yang harus Anda lakukan ialah; bercerita, bermain permainan ingatan dengan nama, membaca dan menulis cerita, melakukan permainan kosa kata, mengerjakan teka-teki, padukan membaca dan menulis, menulis dengan kata-kata sendiri, berdebat, berdiskusi dan berceramah atau pidato. (Hamka, Hatta, Ibnu Taimiyah)
2. Kecerdasan Matematis Logis (Kemampuan Berhitung dan Bermain logika), yang harus Anda lakukan ialah; rangsang dengan pemecahan masalah, lakukan permainan berhitung dengan komputer atau kalkulator, gunakan logika (akal sehat/pikiran), miliki tempat untuk menghimpun semua hal, biarkan segala sesuatu diselesaikan secara bertahab, dan padukan kemampuan menghitung dengan materi lain. (Habibie, Enstein)
3. Kecerdasan Visual Spasial (Kemampuan Visualisasi yang kuat), yang harus Anda lakukan ialah; gunakan gambar untuk belajar, membuat buku corat coret khusus, padukan seni menggambar dengan pelajaran lain, gunakan gambar di dinding sebagai perangsang, berpindah ruang untuk mendapatkan pandangan baru, gunakan grafik komputer, mengikuti kursus komputer desaign grafis, menggunakan peta konsep, sketsa, poster dan berlatih membuat iklan, drama atau video. (Dedy Mizwar, Affandi,George Wasington)
4. Kecerdasan Musikal (Kemampuan Bermusik), yang harus Anda lakukan ialah; bermain alat musik, belajar lewat lagu, belajar diiringi musik lebih baik, bergabung dengan kelompok paduan suara, menulis nada musik, padukan musik dengan bidang lain, latihan menulis lirik atau puisi, menciptakan jenis musik tertentu, dan memanfaatkan komputer untuk mengembangkan kemampuan bermusik. (Iwan Fals, Bethhoven)
5. Kecerdasan Kinestetik (Kemampuan Mengeksplorasi Tubuh) yang harus Anda lakukan ialah; gunakan latihan fisik sebagai upaya meningkatkan kecerdasan, gunakan gerak dalam belajar, dramatisasikan proses belajar, mempraktikkan apa yang dipelajari, melakukan kerajinan tangan, olah raga sebagai sarana memfokuskan diri, gunakan permainan peran dan pelajaran lapangan, menulis di buku harian atau catatan, sebaiknya belajar teknik. (Michael Schumacer, Valentino Rosi, Taufik Hidayat, Thomas Alva Edison)
6. Kecerdasan Interpersonal (Kemampuan Berhubungan dengan Orang Lain), yang harus Anda lakukan ialah; lakukan aktivitas pembelajaran bersama, belajar kerja sama, memberi banyak waktu bersosialisasi, libatkan diri dalam organisasi, gunakan teknik belajar berpasangan, gunakan keterampilan berkomunikasi, padukan dengan semua mata pelajaran, jadikan proses belajar mengasyikkan, bekerja dengan tim, ajari orang lain, gunakan sebab akibat. (Amien Rais, Hermawan Kertajaya, Jack Ma)
7. Kecerdasan Intrapersonal (Kemampuan Mengeksplorasi diri), yang harus Anda lakukan ialah; lakukan pembicaraan dari hati ke hati, melakukkan pengembangan diri untuk mendobrak rintangan belajar, berpikir dan mendengarkan, lakukan studi mandiri, beri waktu merenungkan diri, dengarkan suara hati Anda dan diskusikan dengan teman, refleksikan apa yang dirasakan atau dipikirkan dalam tulisan, kontrol proses belajar, ajarkan bertanya dan ajarkan penguasaan diri. (Emha Ainun Nadjib, Frans Kafka)
8. Kecerdasan Naturalis (Kemampuan Belajar dari Semesta); bertani atau berkebun sambil mencari cara-cara bercocok tanam yang baru, menangani secara langsung baru memahami rahasia dari sesuatu, belajar pada jagad raya, lingkungan dan bumi tentang bermacam-macam hal, menguasai tentang tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti pertanian organik, mengelola lingkungan yang hijau dan Asri, dan mencintai keindahan alam. (Bob Sadino, Fauzi Shaleh).
9. Kecerdasan Otodidaktor (Kemampuan Belajar Sendiri), yang harus Anda lakukan ialah; belajar dari hal-hal kecil dan sederhana, membantu orang lain mendapatkan kemudahan dalam menyerap suatu makna dan hikmah, mengasah intuisi dengan melakukan kontemplasi (perenungan), mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, mempelopori sesuatu yang dianggap baru, senang membaca buku, pengalaman atau kenyataan, menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran dan melakukan kegiatan sosial. (Irwan Hidayat, D Zawawi Imron)
10. Kecerdasan Spritual (Kemampuan Spritualitas), yang harus Anda lakukan ialah; melakukan introspeksi diri terhadap perjalanan hidup yang dijalani, membaca dan mendalami Al-Qu’an/Hadits sebagai sarana mendapatkan ilmu atau hikmah, mendekatkan diri pada Allah melalui dzikir dan ibadah supaya komunikasi berlangsung intensif, dan berupaya mengajar atau memberikan ceramah (KH. Idris Jauhari, Ilham Arifin, Ary Ginanjar Agustian)
Setiap orang sebenarnya memiliki banyak Kecerdasan Berganda melebihi yang disebutkan di atas, hanya untuk kesuksesan pembelajaran, peningkatan karier dan pekerjaan masa depan, perlu memfokuskan diri untuk mendalami satu atau dua Becerdasan Berganda saja dalam kurun waktu tertentu. Ahmad Zamhari Hasan
Metode Mengetahui Kecerdasan Berganda
Lingkari atau silang dua kolom (a,b,c,d,e,f,g,h,i,j ), misalnya a) dan g) yang cocok bagi Anda; kepribadian, pemikiran, prilaku, minat, kesenangan dan keinginan.
1. a) suka membaca buku
b) suka berhitung
c) suka seni, menggambar atau memahat
d) suka menyanyi
e) suka melakukan olahraga fisik
f) suka bekerja sama
g) senang melihat sisi batiniah manusia
h) suka memelihara binatang peliharaan
i) belajar dari buku lebih mudah dari pada melalui orang lain
j) senang membaca Al-Qur’an
2. a) suka ceramah atau pidato
b) suka pada ketepatan
c) suka menggunakan metavora (perbandingan)
d) sensitif (peka) terhadap nada
e) memiliki kontrol terhadap obyek/sasaran
f) pintar berhubungan dengan orang lain
g) selalu melakukan penilaian terhadap diri sendiri
h) dapat mengenali dan menamai pohon, tumbuhan, dan bunga yang beragam
i) memiliki ego yang tinggi
j) suka mempelajari sejarah para Nabi atau Ulama’
3. a) berpikir sistematis (runut atau teratur)
b) suka berpikir menggunakan angka
c) berpikir dengan gambar
d) sensitif terhadap warna nada musik
e) berpikir mekanik ( seperti putaran mesin )
f) mampu membaca maksud hati orang lain
g) memiliki perasaan yang kuat
h) menyukai pengetahuan tentang tubuh bekerja dan kesehatan
i) berpikir radikal atau ekstrim
j) berpikir melingkar
4. a) mampu berargumentasi (berpendapat dengan alasan kuat)
b) menyukai keadaan yang teratur
c) mudah membaca peta, grafik dan diagram
d) sensitif terhadap kekuatan emosi musik
e) belajar dengan bergerak lebih menyenangkan
f) menikmati berada di tengah-tengah orang banyak
g) memiliki kesadaran terhadap kemampuan diri
h) suka bertani atau memancing
i) menyukai keadaan yang tidak teratur
j) memahami tanda-tanda dari fenomena alam
5. a) teratur dalam melakukan berbagai hal
b) suka berpikir logis (masuk akal)
c) memiliki indera warna yang hebat
d) sensitif (peka) terhadap susunan musik yang rumit
e) memiliki respon dan reflek yang bagus
f) memiliki banyak teman
g) peduli pada tujuan hidup
h) senang bekerja di kebun atau halaman rumah
i) memiliki insting (naluri yang alami) yang bagus
j) memiliki indera keenam yang bersifat spiritual
6. a) Memiliki kemampuan menulis
b) sangat suka bermain angka di komputer
c) mengingat berdasarkan gambar lebih mudah
d) mampu membuat lirik/syair/puisi
e) mahir dalam kerajinan tangan
f) mampu berkomunikasi dengan baik
g) memiliki motivasi diri yang tinggi
h) berminat pada masalah sosial dan motivasi manusia
i) senang belajar pada hal-hal kecil dan sepele
j) senang shalat dan berdzikir (baik sendiri atau bersama)
7. a) mengeja dengan mudah
b) suka memecahkan masalah
c) menggunakan semua indera untuk membayangkan sesuatu
d) sensitif terhadap irama musik
e) belajar dengan melibatkan diri dalam proses belajar
f) menikmati kegiatan bersama
g) ingin berbeda dari orang kebanyakan
h) senang informasi tentang jagad raya dan bumi
i) mampu melihat makna sesuatu dari sudut yang berbeda
j) suka berkomunikasi dengan hati nurani
8. a) suka permaianan kata-kata
b) senang melakukan percobaan-percobaan ilmiah
c) Mampu menggambarkan citra mental dalam gambar
d) terkadang suka pada suatu kekuatan di luar dirinya
e) gampang mengingat yang dilakukan bukan yang dikatakan
f) mampu bernegoisasi (tawar menawar) dengan baik
g) amat sadar pada kekuatan dan kelemahan diri
h) menyenangi isu lingkungan hidup dan pemanasan global
i) senang mengajar atau membantu orang dengan ilmu
j) menjadi orang yang paling bermanfaat sebagai prinsip hidup
9. a) punya ingatan tajam tentang hal-hal sepele
b) suka mencatat secara teratur
c) suka menonton film atau drama
d) menyenangi alat musik tertentu (gitar, suling atau gendang)
e) resah jika tidak melakukan apa-apa
f) suka menengahi pertengkaran
g) sadar diri
h) suka pada lingkungan asri dan alami
i) senang mempelopori hal-hal baru
j) melakukan segala sesuatu karena mengharap ridha Allah
10 a) senang belajar Bahasa
b) senang belajar Matematika atau Logika
c) senang belajar Melukis
d) senang belajar Seni Musik
e) senang belajar Ilmu Terapan atau Teknik
f) senang belajar Ilmu Sosial
g) senang belajar Humaniora (kemanusiaan)
h) senang belajar Ilmu Alam
i) senang belajar sendiri ilmu-ilmu yang bermanfaat
j) senang belajar Ilmu Agama
Sekarang hitung berapa jumlah masing masing kolom
a) ......... Kecerdasan Linguistik
b) ........ Kecerdasan Matematis Logis
c) ........ Kecerdasan Visual Spasial
d) ........ Kecerdasan Musikal
e) ........ Kecerdasan Kinestetis
f) ........ Kecerdasan Interpesonal
g) ........ Kecerdasan Intrapersonal
h) ........ Kecerdasan Naturalis
i) ........ Kecerdasan Otodidaktor
j) ........ Kecerdasan Spritual
“Orang mencari guru ke sana ke mari, malah ada yang melakukan perjalanan dengan jalan kaki mulai Cirebon sampai ujung pulau Madura, padahal guru ada di mana-mana, pada siapa saja, asal mampu membaca dengan cerdas melalui pandangan yang terbuka.” Ahmad Zamhari Hasan
Manfaat memahami berbagai Gaya Belajar dan Kecerdasan Berganda adalah:
1. Untuk dapat belajar dengan mudah, dan memudahkan Anda menerapkan prinsip BO seumur hidup, sebab telah mengetahui cara yang paling efektif dan mudah.
2. Untuk mengendalikan hidup Anda. Semua orang memiliki gaya unik, menurut Dr. Robert Sternberg sebagai gaya mengatur. “Cara yang disukai siswa dalam menggunakan kecerdasan mereka,” katanya “sama pentingnya dengan kumpulan kecerdasan itu sendiri.” Sebenarnya semua orang perlu mengatur aktivitasnya sendiri. Dan dalam melakukannya, mereka akan memiliki gaya pengaturan diri yang membuat mereka nyaman. Otak, perasaan dan hati mengendalikan aktivitas seperti pemerintah; legislatif (menciptakan, menfungsikan, membayangkan dan merencanakan), ekskutif (penerapan dan tindakan) yudikatif (penilaian, evaluasi dan perbandingan). Pemerintah mental ini melibatkan ketiga fungsi, setiap orang memiliki salah satu yang dominan.
3. Untuk guru dan orang tua; mereka bisa memahami bermacam-macam Gaya Belajar dan Kecerdasan Berganda yang dimiliki anak didik atau anaknya, sehingga bisa melayani semua perbedaan yang ada sesuai kebutuhan. Bagi orang tua bisa menghilangkan kasih sayang berlebihan pada salah satu anak karena ternyata mereka semua berpotensi atau memiliki kecerdasan berbeda sesuai dengan gaya masing-masing, hanya masalahnya belum dioptimalkan.
4. Bagi yang menekuni suatu profesi tertentu, menguasai kecerdasan berganda akan membantu menangani kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat menekuni pekerjaan, sebab diri telah memahami kecerdasan berganda yang dimiliki.
5. Bagi yang berwirausaha, hal ini membantu memudahkan mereka untuk menemukan gaya uniknya dalam bekerja, memberikan cara yang tepat menangani masalah-masalah yang timbul, menumbuhkan kreativitas, inovasi dan terobosan baru yang dibutuhkan.
Hal di atas membuktikan firman Allah “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At Tin; 4)
Beberapa Langkah Penting Agar Sukses (BO)
“Barang siapa berpegang teguh pada akalnya semata, niscaya dia akan sesat, barang siapa mencari kecukukan melalui harta bendanya, niscaya dia akan menjadi kekurangan; dan barang siapa yang mencari kemulyaan makhluk, niscaya dia akan terhina.” Ahli Hikmah
Supaya berhasil dalam BO, maka perlu empat langkah tambahan yakni meruntuhkan Tembok Mental penghalang dengan membangun Mental Baru, menumbuhkan sikap Percaya Diri, Merumuskan Cita-Cita dengan benar dan Cara Mengatasi Masalah.
Meruntuhkan Tembok Mental Untuk Belajar
1. Saya ini bodoh
2. Belajar itu sulit
3. Belajar itu tidak menyenangkan jadi harus dijauhi
Membangun Mental Baru agar Behasil dalam Belajar
1. Saya meyakini sebagai orang yang cerdas dan pintar
2. Belalar itu mudah asal mengetahui caranya
3. Belajar itu menyenangkan jika mampu mensiasatinya
“80 persen kesulitan belajar berhubungan dengan stress. Singkirkan stress, Maka Anda menyingkirkan berbagai kesulitan,” Gordon Stokes
Tips supaya percaya diri menurut Gordon Dryden & Jeannete Vos
1. Keselamatan dari bahaya fisik
2. Identitas diri; siapa aku? Untuk apa aku hidup? Apa yang harus kulakukan?
3. Keamanan emosi dari intimidasi dan rasa takut
4. Afiliasi ; memiliki harga diri dan martabat
5. Misi ; hidup memiliki tujuan dan arah
6. Keahlian di suatu bidang ilmu dalam kurun waktu minimal 3 tahun, lalu memperdalam bidang ilmu lainnya, sehingga memiliki beberapa keahlian.
Tips Mencapai Cita-Cita
1. Menulis cita-cita besar yang diraih
2. Meniti Tangga Sekolah sampai berhasil; Akademis dan Belajar Otodidak (BO)
3. Melakukan hal-hal kecil dalam hidup seperti; membaca/menulis 1 jam tiap hari, membantu orang lain sesuai kemampuan, dan beribadah dengan taat sebab kembali pada masing-masing individu.
4. Menjalani hidup sederhana dan apa adanya
Tips Mengatasi Masalah 5 M
1. Mencari konpensasi positif; berlari, mandi berlama-lama, olah raga dan main Games
2. Melihat masalah dengan cerdas; banyak yang lebih sengsara dari Anda, tapi Anda tetap mampu menjalani kehidupan, contoh; korban Tsunami Aceh.
3. Menghadapi masalah dengan kreatif; menulis dalam puisi, cerpen, novel dan buku
4. Mengadukan masalah pada Allah lewat shalat Tahajjud dan dzikir
5. Menyelesaikan masalah dengan; mempersempit masalah, menemukan jalan keluar terbaik dan menjalankannya dengan segala resiko.
Memiliki Kompetensi Pendukung
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq; 1-5)
Dalam menjalani kehidupan abad 21 ini, kita perlu memiliki beberapa keterampilan atau kompetensi, dalam kaitan dengan pembelajaran, paling tidak harus memiliki 3 kompetensi; memahami cara membaca buku secara kreatif, mengerti cara-cara menulis, dan mampu berkomunikasi yang bisa mempengaruhi orang lain.
Membaca buku secara kreatif
• Memilih buku bacaan
• Baca kata pengantar dulu, baru daftar isi, dan pendahuluan, hal ini agar kita memperoleh gambaran umum dari buku.
• Selesaikan bacaan secara utuh
• Baca ulang secara cepat dengan membuat garis bawah
• Menulis kesimpulan secara acak dalam komputer atau buku tulis.
• Mengatur tulisan menjadi teratur atau sistematis dan memberikan penjelasan
• Membuat tulisan dengan judul baru
• Melakukan telaah kritis pada beberapa kesimpulan
• mempraktikkan apa yang diketahui
Menulis yang kreatif
• Membiasakan diri mencatat setiap kali mendapatkan ide, ilham, sesuatu yang baru
• Mengulas ide yang ada dengan mengaitkan informasi dengan pengalaman
• Membaca buku yang berhubungan dengan sesuatu yang hendak ditulis
• Mencari informasi tambahan di internet
• Melakukan studi kasus atau lapangan untuk mendukung bukti-bukti yang ada
• Menyusun kerangka karangan Menulis berdasarkan kerangka karangan
• Dalam menulis, buat seakan-akan bercakap-cakap dengan pembaca
• Baca ulang atau diedit
• Manfaatkan tulisan dengan mengirim ke media, memberikan pada yang membutuhkan atau menulis Blok di intertet
Komunikasi yang berpengaruh menurut Michael Leboeuf
• Setiap berkomunikasi, mulailah dengan selalu memikirkan tujuan,
• Sesuaikan pesan Anda dengan audiens Anda,
• Berkomunikasi secara positif dengan menghindari pembicaraan sia-sia, apalagi negatif
• Menarik dan mempertahankan perhatian mereka pada Anda,
• Membangun kepercayaan dengan membangun komunikasi yang jujur dan membina hubungan baik,
• Mengunakan prinsip KISS (Keep it short and simple), semakin pendek dan sederhana pesan Anda, semakin besar pengaruhnya.
Membentuk Masyarakat masa depan; “Suatu masyarakat pembelajar berkesinambungan dan kreatif analitis dengan keterampilan untuk tidak tergantung secara ekonomi (pentingnya skill kewirausahaan). Suatu masyarakat dimana perolehan produktivitas dibagikan secara adil hingga memungkinkan baik waktu kerja maupun waktu luang menjadi sarana memenuhi potensi personal maksimal.” Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.
Langkah 2 : Menekuni Wirausaha Islam
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda; “Ada tiga faktor sebagai penyelamat dan tiga faktor perusak…. Adapun tiga faktor penyelamat adalah takut pada Allah dalam kesunyian dan keramaian; bersahaja baik dalam kondisi faqir maupun kaya; berlaku adil di waktu senang dan marah. Tiga faktor perusak adalah teramat kikir, mengikuti hawa nafsu, dan membanggakan diri senditi…”
Sejarah adalah sebuah perputaran zaman, pada setiap zaman muncul suatu kekuatan yang menguasai ekonomi dunia; zaman kuno dikuasai Funisia atau Mesir, Yunani dan Romawi, abad 5-7 Byzantium sebagai pusat perdagangan (untuk tingkat Asia Tenggara, Sriwijaya berkuasa abad ketujuh selama 600 tahun), Arab Islam memegang kendali pada abad 7-14, dilanjutkan dengan Eropa; Belgia dan Belanda, Itali, Prancis, Jerman, Inggris, setelah perang dunia kedua muncul Uni Sofyet, Jepang, Inggris dan AS sebagai kekuatan baru, akhir abad kedua puluh dan awal abad 21 sang penguasa tinggal AS sendirian memimpin dunia dengan sewenang-wenang meski Jepang dan Eropa tetap kuat, sedang Uni Soviet hancur karena salah mengelola ekonomi meski kini Rusia mulai menggeliat, pada awal abad 21 muncul kekuatan baru yakni China, Singapura dan India, bahkan China diperkirakan mampu mengimbangi AS pada tahun 2020, pertanyaannya, kemanakah Indonesia yang kaya dengan kekayaan alam? Menunggu 2050, nggak terlambat? Mari kita mulai saat ini, dengan pelatihan yang akan ditindaklanjuti praktik langsung dalam mengelola usaha!
“Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dan kerja, adalah kunci-kunci sukses baru menuju masa depan,” laporan Scans.
Realitas kehidupan masa kini menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl;
• Dunia berubah dengan laju semakin kencang
• Kehidupan, masyarakat, dan perekonomian, menjadi lebih kompleks
• Sifat dasar pekerjaan berubah dengan cepat; pertanian, industry, jasa dan informasi
• Jenis-jenis pekerjaan menghilang dengan kecepatan tak terbayangkan
• Inilah zaman ketidakpastan
Makna Wirausaha Islam
Entrepreneur adalah seseorang yang mengelola usahanya dengan mengatur sedemikian rupa supaya memperoleh keuntungan, dengan menanggung resiko, usaha tersebut dikelola sebaik-baiknya menggunakan segala sumber daya yang dimiliki, sehingga bisa tumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Wirausahawan dianggap berhasil, apabila mampu meningkatkan diri dari usaha kecil menjadi usaha menengah, syukur-syukur meningkat lagi menjadi usaha elit. Intinya ialah keberanian berwirausaha apa saja, mengelolanya secara profesional, bekerja keras dan cerdas.
Sedang Wirausaha Islam ialah pengelolaan usaha yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, tentu saja dikontekstualisasikan dengan era global atau informasi seperti yang kini berlangsung. Contoh yakni Fauzi Sholeh pemilik perumahan Pesona Depok dan Pesona Kahyangan yang berhasil karena menerapkan Manajeman ‘Azm dan tawakkal.
Perpaduan Antara ‘Azm dengan Tawakkal
Makna ‘Azm; usaha fisik, pikiran, perasaan, kesadaran dan hati. Usaha fisik bukan hanya kerja keras, melainkan juga cara mengatur waktu, menggunakan waktu minimal 42 jam dalam seminggu untuk usaha (7 jam setiap hari dengan 1 hari libur), dan memanfaatkan peluang sebaik-baiknya, juga ketekunan dalam mengelola usaha. Pikiran bermakna; melakukan kalkulasi terhadap usaha yang dikelola, merancang strategi yang tepat dan sesuai, membaca perubahan dan keadaan dengan cerdas, dan melakukan pencatatan agar diketahui penghasilan dan pengeluaran. Perasaan harus dicerdaskan dengan menjalin hubungan yang harmonis, berkomunikasi yang baik, semangat pantang menyerah, mental baja merasakan berbagai situasi, menjadikan krisis atau keterpurukan sebagai kesempatan, bersaing secara sehat. Semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, alam bawah sadar dimanfaatkan dengan relaksasi setelah lelah berusaha. Huruf “fa” dalam ayat di atas bermakna hati nurani, yang disucikan dengan memperbanyak istigfar, sehingga dapat bertawakkal dengan benar. Nabi Muhammad SAW membaca 100 Istigfar setiap hari, kita umatnya selayaknya membaca 1000 Istigfar atau minimal 100X setiap hari secara istiqomah seumur hidup.
Sedang tawakkal diwujudkan dalam banyak aspek; shalat karena butuh, memperkuat dengan Tahajjud, Dhuha dan Hajat, membaca surat Waqi’ah sehari sekali, bersedekah, berdoa hanya pada Allah dengan yakin, dan berdzikir. Menjalankan shalat lima waktu bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan sebagaimana kita membutuhkan makan, menyesal rasanya jika tidak shalat. Shalat Hajat, Dhuha dan Tahajjud telah dibuktikan intelektual dan pengusaha Muslim sebagai sarana mendukung upaya mereka dalam meraih keberhasilan. Surat waqi’ah berisi beberapa pertanyaan kritis Allah pada manusia tentang pencipta dan pengatur segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, sebuah ajakan untuk bertawakkal. Bersedekah dapat membantu kelangsungan usaha, sebab akan mendapatkan simpati dari orang lain, sekaligus Allah akan menambah rizki orang yang rajin bersedekah secara ikhlas. Berdoa hanya pada Allah untuk meminta dimudahkan dan dimurahkan rizki, sehingga usaha yang optimal menghasilkan sesuatu yang optimal pula. Dzikir sebagai bentuk tawakkal terakhir untuk mensinergikan usaha dengan tawakkal.
Sebagai Bukti, Aa Gym awalnya memulai usaha dengan menjadi pedagang buku, pedagang bakso dan baru merintis “bengkel akhlak sederhana,” berhubung Aa Gym konsisten menerapkan ‘Azm dan tawakkal, maka dari pedagang buku menjadi unit usaha MQ, dan dari “bengkel akhlak” menjadi Pesantren Daarut Tauhied, bahkan merambah unit-unit usaha lainnya. Dalam konteks ini, Aa Gym berhasil memperoleh “jatah” rizkinya, malah karena konsistensi tinggi dan pengabdian pada Islam melalui ceramah agama, Allah menambah “jatah” rizkinya melebihi yang dibayangkan sebelumnya.
“…apapun yang tengah dijalani saat ini –profesi apa pun- semestinya harus dianggap yang terbaik, oleh karena itu, ia harus pula dikelola secara profesional, secara sungguh-sungguh.” Elvyn G Masassya
Membuat visi dan misi yang sederhana dalam mengelola usaha, misal, Visi; membuat unit usaha makanan yang tiada banding kelezatannya dengan harga terjangkau, Misi; menjadikan makan sebagai gaya hidup baru yang menyenangkan sesuai dengan cara-cara yang Islami.
Menetapkan Tujuan dan Prioritas menurut Michael Leboeuf
Menetapkan tujuan-tujuan Anda sendiri; bisnis, karier, dan hidup.
Menulis tujuan-tujuan Anda
Merumuskan tujuan-tujuan yang menantang namun tetap berkemungkinan untuk dicapai
Sebuah tujuan harus dapat diukur, sebagai contoh; berapa penghasilan perbulan yang ingin dicapai, berapa yang terjual dalam kurun waktu tertentu, berapa besar presentase penjualan, antara biaya dengan pemasukan lebih besar pemasukan.
Tujuan-tujuan Anda harus sejalan dengan pernyataan visi dan misi Anda
Menetapkan prioritas tujuan sangat penting, dan berupaya menjalankan sebaik-baiknya
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan …..” (QS Ar-Ruum;8)
Cara Sukses Berwirausaha Islami
Dalam rangka meraih keberhasilan pengelolaan wirausaha Islam, maka dibutuhkan beberapa hal yakni mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan, memahami cara sederhana memperluas jaringan, dan berusaha menjadi kaya dengan cara-cara yang Islami.
Penerapan nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan
Kejujuran sebagai modal utama; nilai modal kejujuran unlimited (tak terhingga), ingat Nabi Muhammad sukses dengan nilai ini.
Berani memulai usaha dari nol dengan tanpa mengenal kata gagal, gengsi, takut, menyerah, dan malas.
Perhitungan pangkal kaya dan sukses; cara mengelola keuntungan sama pentingnya dengan besarnya keuntungan yang diperoleh, artinya atur keuangan dengan baik.
Mengembangkan usaha terus menerus; terkadang usaha kembang kempis, mampu bertahan, mengalami kemajuan, stagnan atau jalan di tempat, dan terkadang hampir bangkrut, maka dengan prinsip belajar dan terus menerus mengembangkan sumber daya yang ada, insya Allah dapat diatasi
Bangga dengan kesuksesan orang lain membuat Anda bahagia menjalani hidup
Bersabar dalam menekuni usaha
Membayar hak pekerja atau karyawan tepat waktu dan memberikan insentif
Konsumen adalah raja yang dilayani super terbaik
Kreatif dalam mengelola usaha, tidak pernah berhenti untuk melakukan terobosan-terobosan baru yang diperhitungkan dengan matang
Mengelola Hutang Piutang dengan benar
Bekerja dengan cerdas; artinya dalam bekerja senantiasa memanfaatkan pikiran/imajinasi
Sedekah pendukung utama kesuksesan usaha, hal ini sudah dibuktikan kebenarannya
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah 261)
Cara memperluas jaringan menurut Mechael Le Bouf;
Mempersiapkan sejumlah kartu nama, nomor Hp/telepon, dan email,
Mencari unit usaha lain yang saling melengkapi dengan usaha yang sedang dikelola, misalnya pendakwah, pengajar, dan pengusaha sukses,
Bekerja sama dengan para pesaing yang mau dan mampu bersaing secara sehat merupakan peluang untuk memperluas jaringan dengan cara saling merekomendasikan pada pelanggan atau konsumen,
“Segala yang berputar akan kembali” kalau ingin memperoleh refrensi, maka harus merefrensikan orang lain.
Menghadiri beberapa pertemuan /undangan atau silaturrahmi untuk memperluas jaringan dan menambah teman baru, pastikan mendapatkan kontak penting dan refrensi dari orang-orang yang hadir,
Bergabung dalam kelompok sosial, kelompok dunia maya atau keagamaan
Memperluas hubungan lewat dunia Maya dengan tetap berhati-hati
Menjadi Kaya dengan cara yang Islami
1. Berpegang teguh pada nilai-nilai dan ajaran Islam
2. Membuka cakrawala berpikir bahwa rizki Allah luas
3. Memiliki kepribadian yang baik
4. Memiliki jiwa Wirausaha yang tahan uji
5. Memiliki mental baja yang terasah dengan masalah dan krisis
6. Mengatur waktu dengan baik
7. Melakukan differensiasi usaha yang beragam
8. Membaca perubahan yang terjadi, melakukan langkah-langkah tepat
9. Mampu mengelola informasi menjadi bahan produktif
10. Menjadikan usaha yang dikelola sebagai anugerah Allah terbaik
“Allah menyayangi orang yang bersikap murah hati, baik ketika menjual, membeli atau menagih (hutang).” (HR. Bukhari)
Tes Wirausaha Islam
Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang sesuai dengan kepribadian, prilaku, kebiasaan, dan tidak boleh berbohong demi kepentingan Anda sendiri.
1) Mau memulai usaha dari nol
2) Mau memulai usaha dengan modal besar
3) Mau mengembangkan usaha yang ada
1) Saya akan membayar gaji atau upah bekerja dengan lebih baik, malah ditambah bonus
2) Saya akan menunda pembayaran gaji pekerja demi mengembangkan usaha
3) Saya akan membayar gaji pekerja sesuai UMR (Upah Minimum Regional)
1) Prinsip bisnis menggabungkan antara kelancaran dan keuntungan
2) Prinsip bisnis keuntungan besar
3) Prinsip bisnis kelancaran usaha
1) Menggunakan cara-cara berwirausaha yang sesuai ajaran agama
2) Menghalalkan segala cara
3) Tidak peduli sesuai ajaran agama atau tidak
1) Kejujuran sebagai modal utama
2) Uang sebagai modal utama
3) Keahlian sebagai modal utama
1) Menjadikan pesaing sebagai partner bisnis
2) Menjadikan pesaing sebagai musuh yang berusaha disingkirkan
3) Menjadikan pesaing sebagai sarana pembelajaran
1) Senang berhubungan dengan siapa saja
2) Senang berhubungan dengan orang yang berkepentingan saja
3) Senang berhubungan dengan orang yang mendatangkan keuntungan
1) Mengembangkan usaha sesuai situasi dan kondisi
2) Mengembangkan usaha dengan cepat dan terburu-buru
3) Mengembangkan usaha perlahan-lahan
1) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan peluang untuk maju
2) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan penyebab kegagalan
3) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan sarana untuk berkembang
1) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu secara sukarela
2) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu secara terpaksa
3) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu sebagai tanggung jawab sosial
1) Senantiasa berusaha optimal dan bertawakkal pada Allah secara seimbang
2) Mengandalkan usaha dan kemampuan diri saja untuk berhasil
3) Usaha lebih banyak dan kuat dibanding tawakkal (ibadah spritual dan sosial)
1) Riski Allah sangat luas di seluruh jagad raya
2) Rizki Allah terbatas yang ada di sekitar lingkungan kita saja
3) Rizki Allah seluas negara Indonesia di Nusantara
1) Mencari rizki guna menjalani hidup yang lebih baik di dunia dan akhirat
2) Mencari rizki untuk menjadi orang yang kaya raya
3) Mencari rizki guna memenuhi kebutuhan hidup sendiri, keluarga dan masyarakat
1) Bersabar dalam keadaan usaha susah, krisis, stagnan (jalan di tempat), dan maju
2) Menggerutu dan menyalahkan orang lain jika bisnis menurun atau stagnan
3) Bersabar jika bisnis menurun dan stagnan
1) Mengelola usaha dengan menggabungkan teori bisnis dengan praktik
2) Mengelola usaha asal-asalan (yang penting jalan)
3) Mengelola usaha berpekal pengalaman dalam praktik bisnis saja
Nilai tes; 1. a) 10 poin
2. b) 5 poin
3. c) 7 poin
4. Coba kalikan jumlah poin Anda; …………. X …………….. = ……………….
Jika memiliki Poin antara 100-150 berarti Anda di jalur yang benar untuk menjadi Wirausahawan Muslim yang sukses, tapi jika memiliki poin 100 ke bawah, Anda harus introspeksi diri sekaligus melakukan pembenahan dalam bertingkah laku dan mengelola usaha, sebagai alternatif Anda bisa bekerja pada orang lain dalam mencari penghasilan, sebab hal ini lebih aman dengan resiko kecil.
“Apabila engkau menghendaki suatu urusan, maka hendaklah dilakukan dengan pelan-pelan, sehingga Allah melapangkan (mental) dan menemukan jalan keluar.” (Ibnul Mubarok)
Makroprenuer dan Nilai-Nilainya
Makroprenuer yakni menekuni pekerjaan yang ada sambil mempersiapkan sebuah usaha yang paling disenangi pada masa mendatang, dan meninggalkan yang lama ketika usaha baru telah berjalan dengan baik. Istilah ini dipopulerkan Michael Le Bouf. Berhubung untuk menjadi makroprenuer butuh perubahan terhadap diri sendiri, maka perlu memahami tentang perubahan dalam mengelola usaha dan nilai-nilai makroprenuer supaya berhasil. Makropreneur juga cocok bagi yang bekerja pada orang lain, tapi merasa tidak aman karena pemecatan atau PHK, pekerjaan yang ditekuni tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh, tidak puas dengan gaji yang diperoleh, dan ingin menikmati tantangan baru dalam hidup.
Perubahan Usaha menuntut 5 hal (Rhenald Kasali);
• Visi tentang arah depan (Vision)
• Keterampilan (Skills) untuk mampu melakukan tuntutan baru, keterampilan ini harus terus dipelihara, ditumbuhkan dan dikembangkan
• Insentif yang memadai (Insentives), baik langsung maupun tidak langsung, cash non-cash, individual maupun kelompok.
• Sumber daya (Resources) yang memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan
• Rencana tindak (Action Plan); rangkaian tindakan yang diintegrasikan dalam langkah-langkah spesifik dan terencana, tertulis dan dimengerti.
Nilai-nilai Makroprenuer.
Menjadikan rumah atau kontrakan sebagai kantor untuk memulai bisnis dengan menyediakan ruang khusus, jam kerja khusus, dan peralatan yang memadai.
Memilih bidang usaha yang menguntungkan sesuai minat masing-masing.
Menjadi pembelajar seumur hidup dan pandai berkomunikasi.
Membidik konsumen, memenuhi kebutuhannya, secara khusus konsumen pertama adalah segalanya, dan mempertahankan hubungan yang baik.
Orientasi usaha fokus pada konsumen, bukan pada ego sendiri.
Ide-ide menarik dan unik banyak sekali yang perlu dicari, dirumuskan dan dituangkan dalam sebuah perencanaan.
Manfaatkan waktu dan energi sebaik-baiknya untuk keberhasilan usaha.
Menguasai peralatan teknologi yang benar-benar dibutuhkan dalam mengelola usaha.
Berkaca pada orang yang telah berhasil di bidang usaha yang ditekuni.
Perlu bekerja sama dengan pakar keuangan, mentor, kolega profesional jika sudah maju.
Dalam menekuni usaha di atas dilakukan dengan penuh kesabaran dan daya tahan yang luar biasa.
Ketika berhasil mengelola usaha, tentu Anda meningkat menjadi bos, baik skala kecil atau besar, untuk itu perlu bekal tambahan cara menjadi bos yang baik dengan memahami Level of Leadership menurut (Rhenald Kasali);
• Level 1; posisi Anda jadi bos karena SK, berfungsi sebagai manager yang bekerja dengan system dan senang memerintah pada bawahan.
• Level 2; permission (Relationship); memimpin dengan hati, membangun kasih sayang tanpa memandang persamaan atau perbedaan, dan menganggap karyawan atau pekerja sebagai partner bukan bawahan.
• Level 3; production (result) pemimpin yang berorientasi pada hasil bukan prosedur, pekerja atau karyawan dihargai karena prestasi kerja. Pemimpin yang mampu = good company
• Level 4; People Development, pengembagan sumber daya manusia & personhood guna menghadapi kompleksitas zaman dan menuju usaha yang great company
• Level 5; Personhood, pemimpin yang memiliki jati diri yang dibentuk oleh karakter yang kuat, sehingga siapa saja respek bukan hanya atas apa yang telah ia berikan (personal) atau manfaatnya, melainkan karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut.
Anda awalnya bertindak sebagai bos yang memerintah dengan seenaknya, hal ini kurang baik, untuk itu tingkatkan pada level 2 yakni bertindak sebagai partner bisnis terhadap karyawan atau pekerja, namun supaya usaha menguntungkan perlu orientasi pada hasil, inilah inti level 3. Agar perusahaan meningkat menjadi Good Company atau perusahaan baik, level ke 4 harus ditempuh, sedang jika ingin menjadi perusahaan yang hebat Great Company, level ke 5 menjadi keniscayaan.
Percayalah! Nilai-nilai yang kontekstual dengan era Global seperti; kejujuran, kegigihan, ketekunan, inovasi, kreativitas, pelayanan super terbaik, kepribadian yang baik, mental baja, entrepreneur atau makropreuer dan dermawan, hakikatnya seiring dengan nilai-nilai yang dianut Islam! Ahmad Zamhari Hasan
Langkah 3: Menjadi Mukmin Sejati
“Segala tingkah laku setiap mukmin harus berdasarkan tiga perkara, yaitu; melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ridha pada qodar (taqdir). Sekurang-kurangnya keadaan orang mukmin itu tidak lepas dari salah satu di antara ketiganya. Oleh sebab itu, setiap orang mukmin harus memiliki komitmen dalam hatinya, mendorong jiwanya dan merealisasikan melalui anggota tubuhnya sesuai dengan ketiga hal itu dalam setiap kondisinya.” Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Selama ini Anda berupaya mencapai derajat keimanan yang tinggi atau Mukmin sejati, namun Anda merasa tidak mampu mencapai hal itu. Salah satu masalahnya ialah kemungkinan Anda tidak tahu caranya, belum adanya panduan praktis tentang upaya menjadi Mukmin Sejati dan barometernya belum jelas. Dalam pembahasan ini, insya Allah merupakan jawaban yang tepat dari permasalahan ini. Bahkan, Alhamdulillah Anda dapat mengetahui dalam Tes Mukmin Sejati, sedang dalam keadaan Islam KTP atau Keturunan, Muslim yang sesungguhnya, atau Mukmin Sejati.
Berislam dengan benar
a) Bersyahadat dengan benar; memahami maknanya, meyakini kebenarannya, dan mempraktikkan dalam kenyataan. ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al-Anbiya’;25).
b) Shalat lima waktu sebagai sarana berkomunikasi dengan Allah dan filter bagi setiap individu
c) Puasa merupakan bentuk pengorbanan sekaligus pengontrol hawa nafsu
d) Zakat atau sedekah sebagai sarana mensucikan diri atau harta, bentuk kepedulian dan menciptakan keharmonisan sosial
e) Haji merupakan penyempurna ibadah, bagi yang tidak mampu memperbanyak ibadah dan amal sholeh pada hari Jum’at
f) Dzikir secara khusyu’
g) Membiasakan dalam kehidupan sehari-hari
“Beribadahlah pada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya ia melihatmu,” (HR. Abu Nu’aim/hasan).
Membentuk Kepribadian Mukmin Sejati
Untuk membentuk kepribadian Mukmin Sejati, intinya melakukan 3 hal yakni Menyucikan dari dari sifat-sifat tercela, Penanaman Nilai-nilai Islam dalam kepribadian, dan Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Poin-poin penting tentang hal ini, berasal dari buku, Kajian Lengkap Penyucian Jiwa Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa berdasarkan Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali.
Menyucikan Diri dari Sifat-Sifat Tercela
Ada beberapa hal yang harus disucikan dalam diri yakni; sombong, kafir, munafik, fasik, syirik, riya’, cinta kedudukan dan jabatan membabi buta, dengki, ujub, pelit, angan-angan kosong, Cinta dunia, marah, dan hawa nafsu, serta menutup pintu-pintu masuk setan
Sombong ialah merasa paling hebat dari yang lain, seperti Iblis yang merasa lebih hebat dari Nabi Adam karena diciptakan dari api, sedang Nabi Adam dari tanah. Kesombongan bermuara pada keinginan untuk disebut yang serba paling dan ingin memperlihatkan pada orang lain. “Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar buah dzarrah.” (HR. Bukhari)
Tingatan-tingkatan sombong; sombong pada Tuhan seperti Fir’aun, sombong pada Rasul dengan merasa lebih berhak menjadi Rasul dibanding Nabi Muhammad SAW yang berasal dari manusia biasa, sombong terhadap manusia dengan merasa paling mulia, sedang yang lain hina, merasa selalu berada di atas orang lain dan meremehkan orang.
Kesombongan berasal dari; merasa paling tinggi ilmu yang dimiliki, paling taat dalam beribadah dan beramal shaleh, merasa memiliki garis keturunan terbaik, merasa memiliki fisik yang sempurna, merasa memiliki harta yang banyak, merasa memiliki kekuatan atau kesaktian yang paling hebat, dan merasa memiliki murid atau pengikut terbanyak.
Supaya tidak sombong; mengetahui siapa diri kita dan siapa Tuhan kita, seseorang yang memahami dirinya sendiri akan bersikap tawadhu’, apalagi jika mengenal Allah dengan sebenarnya, membiasakan diri untuk merendah di hadapan orang lain seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, merasa bahwa diri seperti buih di tengah lautan yang luas, dan menyederhanakan sesuatu yang rumit atau sulit. “Kesederhanaan adalah sebagian dari iman,” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Kafir yakni mengingkari Allah dan Rasul yang dapat menggugurkan syariat dan menjerumuskan seseorang pada neraka jahannam. Supaya terhindar dari kekafiran; berkeyakinan pada satu Tuhan yakni Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir yang diutus Allah, meski setiap 100 tahun Allah mengutus seorang mujtahid (pembaharu) Islam.
Munafik terdiri dari pikiran dan perbuatan, munafik secara pikiran yakni apa yang dikatakan tentang keimanannya tidak sama dengan yang diyakini dalam hati (menimbulkan sikap ragu-ragu dalam keimanan), kemunafikan perbuatan apabila apa yang dikatakan tidak sama dengan yang dilakukan dan; suka melanggar janji, suka berbohong, khianat pada amanah, dan melakukan tipu muslihat.
Supaya tidak termasuk orang munafik; bila berjanji ditepati, jujur dalam berbicara dan perbuatan, menjalankan amanah atau tugas dengan penuh tanggung jawab, menjauhi tipu muslihat, berusaha menyesuaikan pembicaraan dengan tingkah laku, lebih banyak berusaha atau berkarya dari berbicara, dan beriman dengan penuh keyakinan.
Fasiq yakni mengerjakan hal-hal yang telah dilarang oleh Allah dan melanggar apa-apa yang diperintahkan. Supaya tidak termasuk orang fasiq; mengerjakan ibadah wajib, mencari rizki yang halal, memakan makanan yang halal, dan menghindari perbuatan maksiat, jika melakukannya cepat-cepat beritigfar.
Syirik yakni menyekutukan Allah dengan yang selainNya, menyifatiNya kepada sesuatu yang tidak berhak diterimaNya. Hindarilah memohon pada kuburan meski kuburan ahli ibadah atau Ulama’, berdoa pada selain Allah, dan lebih percaya azimat atau kesaktian dari pada Allah.
Supaya tidak syirik; jika menjenguk kuburan ahli ibadah atau Ulama’ sekadar sarana mengingat kematian, memotivasi diri mengikuti jejaknya, dan berdoa hanya pada Allah. Membaca La Ilaha Illallah wa muhammadur rasulullah setiap hari minimal 33X setiap hari, dan membaca surat Al-Ikhlas selesai Al-Fatehah dalam shalat lima waktu.
Riya’ yakni melakukan ibadah atau dzikir dengan mengharap pujian dan imbalan. Tingkatan-tingkatan riya’; melakukan ibadah tanpa tujuan sama sekali, kecuali ingin dipuji orang, orang yang beribadah dengan mengharap pahala dan pujian dengan mengharap pujian lebih besar, orang yang beribadah karena mengharap pahala dan pujian sama besar, orang yang apabila dilihat orang beribadah lebih rajin dibanding beribadah sendirian.
Perbuatan-perbuatan Riya’ atas ibadah; riya’ atas keimanan yakni dimulut mengaku Muslim padahal di hati hakikatnya seorang musrik/kafir/munafik, riya’ atas ibadah fardhu biasanya dilakukan orang bodoh, riya’ atas shalat sunnah dilakukan orang ‘Alim.
Tujuan-tujuan Riya’; kemaksiatan, misalnya orang yang kelihatan wara’ supaya dipuji orang semata, melakukan ibadah supaya mendapat imbalan yang halal, melakukan sesuatu karena khawatir orang lain memberikan penilaian yang buruk.
Supaya tidak Riya’; melepaskan riya’ sampai ke akar-akarnya dengan melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah dan melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi, dan mencegah akibat-akibat dari penyakit riya’ ketika beribadah yakni menghindari bisikin-bisikan setan dan rayuan hawa nafsu.
Cinta kedudukan dan jabatan secara membabi buta, membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mencapainya, termasuk menggadaikan agama yang dianut, tapi bagi orang yang memiliki kecakapan sebagai pemimpin seperti nabi Yusuf, Umar bin Khattap dan Umar bin Abdul Aziz dianjurkan untuk tampil dengan syarat demi kemaslahatan umat Islam dan manusia secara keseluruhan bukan demi tujuan pribadi.
Dengki; mengharapkan hilangnya kebahagiaan atau kenikmatan dari orang lain. “Dengki dapat memakan kebaikan (kebahagiaan) sebagaimana api memakan kayu bakar,” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah). Macam-macam dengki; tidak senang pada kenikmatan yang diperoleh orang lain dan mengharapkannya hilang (hasad), keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang sama dengan orang lain (ghabthah) atau melebihinya (munafasah/ persaingan) yang dilakukan dengan cara-cara tercela, untuk persaingan yang baik tidak termasuk hal ini.
Tidak ada kedengkian kecuali terhadap dua perkara; “seorang yang diberikan harta dan digunakan di jalan yang benar, dan seorang yang diberikan ilmu dan ia mengamalkan serta mengajarkan pada orang lain.” (HR. Bukhari Muslim)
Supaya tidak dengki terhadap orang lain; merasa senang dengan kebahagiaan orang lain siapa tahu dapat mengambil manfaat darinya, ketika timbul rasa dengki cepat-cepat beristigfar dan menghilangkannya agar tidak tertanam dalam jiwa, tawadhu’ atau rendah hati di hadapan siapa saja, menerima apa yang diperoleh apa adanya, malah penuh rasa syukur, dan ridha pada taqdir Allah baik atau buruk.
Ujub atau membanggakan diri sendiri, egois yang salah kaprah dan cepat merasa puas dengan apa yang telah diperoleh atau dicapai. “…janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS An-Najm;32) Zaid bin Aslam berkata; “Jangan meyakini apa yang kamu kerjakan itu telah sempurna karena itulah yang dinamakan ujub.”
Sifat ujub berasal dari perasaan bahwa dirinya telah menjadi manusia sempurna. Idlalu ‘amal ialah seseorang yang merasa memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, sehingga merasa berhak mendapatkan segala kenikmatan dari Allah atas amal atau ibadah yang telah dilakukan, dan tidak menyukai segala perkara yang tidak disukainya.
Ujub terbagi dalam; bangga atas kecantikan atau ketampanan, keindahan suara, dan semua hal yang berkaitan dengan fisik, bangga atas kemampuan atau kekuatan yang dimiliki, bangga atas kepintaran atau kecerdasan yang dimiliki, bangga atas garis keturunan yang berasal dari orang alim, penguasa, orang kaya atau ningrat, bangga karena memiliki banyak keturunan, pembantu dan sanak famili, bangga atas harta yang dimiliki, dan bangga atas pendapat sendiri, padahal keliru atau salah.
Supaya tidak ujub yakni melakukan yang sebaliknya, jika merasa pintar timbulkan bahwa diri bodoh, jika merasa paling taat beribadah, di luar sana masih banyak yang lebih taat, malah Malaikat beribadah setiap detik, jika merasa ujub karena usaha sendiri, coba selidiki dari mana asal semua potensi yang dimiliki manusia, ternyata berasal dari Allah, jadi untuk apa merasa bangga, mempelajari Al-Qur’an atau Sunnah untuk mencari sandaran atas suatu masalah, bersandar pada akal budi yang sehat, dan bertanya pada orang yang lebih alim dan bijaksana.
Pelit ialah tidak mau menggunakan hartanya walau membutuhkan atau tidak mau menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang lain. Pelit merupakan sifat yang menghalangi terciptanya persaudaraan, kehidupan masyarakat yang harmonis, dan saling tolong menolong. “Jauhilah sifat pelit, karena sifat ini telah mengajak umat-umat sebelumnya, sehingga mereka saling menumpahkan darah, menodai kehormatan, dan memutuskan silaturrahmi.” (HR. Hakim) “Tidaklah masuk ke surga orang yang pelit, penipu, pengkhianat dan berperangai buruk.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Tingkat pelit tertinggi; menahan harta yang dimiliki padahal dirinya membutuhkan, seperti sakit tidak mau berobat.
Tingkatan-tingkatan dermawan; itsar yakni mementingkan orang lain, dengan memberikan sesuatu yang sebenarnya dibutuhkannya, sifat ini dimiliki Rasulullah dan Abu Bakar r.a, Umar, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, as-sukha memberikan sesuatu yang tidak ia perlukan, melaksanakan wajib bis syar’i (membayar zakat dan berkurban), wajib bil muru’ah (kebiasaan/ iauran, selamatan, dan sedekah).
Supaya tidak pelit; manusia hidup pasti mati, maka untuk apa bersikap pelit, menjauhkan angan-angan yang berlebihan untuk kebutuhan yang akan datang, melakukan perenungan terhadap akibat-akibat buruk dari sifat pelit, melatih diri untuk mengutamakan orang lain dari diri sendiri, meyakini bahwa bersedekah justru membuat kaya harta dan hati.
Ghurur (angan-angan kosong) hidup dalam dunia khayal bukan kenyataan. Imam Ghazali sebenarnya telah menyusun kriteria ghurur ini sesuai zamannya, namun dalam kesempatan ini, hamba Allah berusaha menjelaskan sesuai keadaan sekarang.
Ingin menjadi orang yang sukses, padahal pemalas dan mudah menyerah pada keadaan. Merasa paling pintar, padahal jarang membaca teks dan kehidupan. Merasa menjadi orang yang suci, padahal sering berbuat maksiat, beribadah karena mengharap imbalan, dan berdzikir di depan banyak orang saja. Ingin shalat di bulan atau planet Mars, padahal tidak pernah melakukan penelitian mendalam untuk sampai ke bulan atau planet Mars. Berangan-angan menjadi orang yang hebat dan terkenal, tapi menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Melakukan musafir di jalan Allah karena kesaktian dan kedigdayaan. Hijrah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tapi tetap melakukan kemaksiatan dan kemunkaran. Mengajak orang lain berbuat baik, padahal diri sendiri tidak pernah melakukan. Merasa mampu mencapai derajat ma’rifatullah (mengetahui Allah dengan mata hati) dan musyahadah (menyaksikan Allah langsung), padahal sebenarnya belum mampu mencapainya.
Supaya tidak ghurur ialah berangan-angan sesuatu yang mungkin, berusaha mewujudkan angan dalam kenyataan, melakukan sesuatu yang ada di depan mata, menjalani kehidupan apa adanya, berusaha menjadi orang yang suci lahir dan batin, melakukan musafir dan hijrah karena Allah dengan mengerjakan hal-hal yang baik, berusaha mencapai cita-cita atau terkenal dengan cara-cara yang benar, dan menyimpan rahasia ma’rifatullah atau musyahadah jika pun mampu mencapainya, apalagi belum mampu.
Kemarahan yang dzalim, Abdulllah bin Amr r.a bertanya pada Rasulullah; “Apa yang menyelamatkanku dari kemurkaan Allah?” beliau menjawab “jangan marah!”
Sifat marah sebenarnya bisa positif jika digunakan untuk melindungi diri dan melawan kemunkaran. “Sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya.” (HR. Baihaqi). Murah hati lebih tinggi dari menahan amarah, sebab orang yang murah hati tidak merasa berat saat menahan amarah. “… Orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati …” (QS Al-Furqan;63). Berkaitan dengan kemarahan manusia terbagi; tafrith yakni sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk marah, ifrath yakni orang marah secara berlebihan sehingga keluar dari akal sehat, syariat dan ketaatan pada Allah, ini disebabkan gharizah (naluri atau tabiat) dan I’tiyadiyah (pergaulan), “Hanya dengan ketenangan hati dapat menahan gejolak emosi,” (hadtis).
Pengaruh amarah; berubahnya warna kulit menjadi merah, lisan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya, anggota tubuh bergerak untuk menganiaya atau melakukan kekerasan, hati dipenuhi kebencian, dendam, dan kemaharahan. “Orang yang kuat itu bukan diukur dengan keperkasaan fisik melainkan yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pada saat marah.” (HR. Bukhari Muslim).
Supaya mampu menahan amarah; merenungkan tentang ayat dan hadits yang mengutamakan menahan amarah dan bersikap lemah lembut, “ ….. dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (QS. Ali Imran;134), takut akan hukuman Allah jika melampiaskan amarah, mengetahui dampak negatif dari akibat kemarahan, dendam, dan kebencian, betapa buruk paras wajah saat marah, merenungkan penyebab-penyebab yang dapat menimbulkan kemarahan dan mencari solusinya, marah merupakan buah dari ujub.
Cinta dunia. “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” (Hadits)
Kategori orang dalam kehidupan dunia; menafikan kenikmatan dunia dengan menyibukkan diri pada kehidupan setelah kematian; ilmu, ibadah dan amal shaleh, sebaliknya kenikmatan yang diperoleh di dunia tidak membawa pada kenikmatan akhirat karena hidup mewah, berlebihan, maksiat dan terbawa permainan dunia, pertengahan antara keduanya yakni menjadikan kenikmatan dunia sebagai sarana menuju akhirat.
Supaya tidak cinta dunia; menikmati kehidupan apa adanya, mengontrol keinginan-keinginan, berhati-hati terhadap tawaran berbagai iklan atau brosur khususnya yang menawarkan sesuatu yang berlebihan, menikmati hiburan yang dibolehkan seperti berjalan-jalan ke tempat wisata, jalan-jalan ke gunung, dan menonton tontonan yang bermanfaat, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat kelak.
Hawa nafsu; hakikatnya semua hal tercela yang disebutkan sebelumnya berasal dari hawa nafsu yakni kecendrungan jiwa yang salah; “Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini ….” (QS. Al-Mukminuun;17). Menurut sufi; “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsu yang ada dalam dirimu.”
Supaya tidak terjebak hawa nafsu; menyucikan diri sesuai ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, mengendalikan hawa nafsu dengan terus mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, mengisi kehidupan dengan amal kebaikan, memanfaatkan waktu kosong dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, berpuasa, dan berolah raga.
Pintu-pintu masuk setan dalam hati menurut Imam Ghazali; marah dan syahwat, dengki dan tamak, kenyang dengan makanan, suka berhias, pakaian yang berlebihan, perabotan yang tidak berguna, dan rumah terlalu mewah, tamak terhadap manusia (menjilat), tergesa-gesa dan tidak berhati-hati, uang dan harta, pelit dan takut miskin, fanatik terhadap madzhab dan pemikiran, mengajak orang awam pada dzat dan sifat Allah, “ …. Hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS an-Nahl;98)
Nabi Muhammad SAW bersabda; “Barang siapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemulyaan taat, maka Allah akan menjadikannya kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara, dan menang tanpa pembela.”
Penanaman Nilai-Nilai Islam dalam Kepribadian
Adapun nilai-nilai Islam yang harus diintegrasikan dalam kepribadian ialah Ubudiyah, ikhlas, jujur pada Allah (shiddiq) dan manusia, zuhud, cinta kepada Allah (mahabbah), takut (khauf) dan penuh pengharapan (raja’), takwa dan wara’, syukur, sabar, berserah diri (taslim) dan ridha, tobat, muraqabah, mujahadah, muhasabah, dan mu’atabah.
Ubudiyah atau penghambaan manusia di hadapan Allah sesuai ayat “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al-Kitab …” (QS Al-Kahfi;1). Perlu diingat bahwa gelar hamba Allah hanya satu tingkat di bawah kerasulan, sebab seseorang yang benar-benar menjadi hamba Allah, maka berupaya sekuat tenaga untuk mampu ma’rifatullah sesuai kemampuan, beribadah wajib dan sunnah dengan penuh ketekunan, menyerahkan diri, harta dan tenaga pada Allah semata, mengabdikan hidup untuk Islam, dan menyebarkan kebaikan di muka bumi. Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kesempatan selalu mengaku sebagai hamba Allah dan Rasulnya, ini menunjukkan derajat yang tinggi disebut sebagai hamba Allah. Jika penulis buku ini ingin disebut hamba Allah, sebagai sarana agar mampu melaksanakan hal-hal di atas dalam kenyataan, bukan berarti sudah menjadi “hamba Allah” dalam arti sesungguhnya. Sebab hidup butuh proses untuk mencapai sesuatu yang tertinggi, hanya kematian yang menghentikan proses ini.
Menjadi hamba Allah juga merupakan sebuah sikap rendah hati manusia pada sesama, sehingga dapat menjalin kehidupan yang harmonis, berusaha menjadi yang terbaik sesuai bidang usaha yang dikelola dan beramal shaleh dengan hasil usaha agar umat Islam dapat diangkat dari kemiskinan dan pengangguran, berbicara sesuai kebutuhan sesuai yang dicontohkan nabi Muhammad, ringan tangan membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Konsep ubudiyah menunjukkan bahwa manusia dalam Islam hakikatnya sama yakni sebagai hamba Allah yang dapat menjadi mulia atau hina, derajat tinggi atau paling rendah, dan sebaik-baik manusia atau sebalinya, tergantung dari tingkah laku, hasil karya nyata, amal shaleh, ketaatan pada Allah, sumbangsih pada sesama manusia, dan kehidupan yang dijalani. Ini juga mengindikasikan pembelaan Islam terhadap kaum lemah, orang-orang miskin, kaum terlantar, orang-orang tertindas, dan orang-orang tak berdaya, sebab mereka semua hamba Allah.
Ikhlas yakni melakukan segala sesuatu karena Allah semata, ketika muncul godaan untuk melakukan sesuatu karena selain Allah, maka cepat-cepat dialihkan kembali. Tingkatan-tingkatan ikhlas; melakukan sesuatu karena mengharap ridha Allah semata (tertinggi), melakukan sesuatu karena mengharap pahala di akhirat, melakukan sesuatu karena mengharap surga, melakukan sesuatu karena Allah meski tetap mendapatkan upah, bayaran dan uang, dan seterusnya sampai karena mengharap surga. “kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS Al-Hijr;40).
Wujud ikhlas dalam kehidupan sehari-hari ialah melihat orang lain kelaparan membantu dengan makanan atau memberikan kebutuhan pokok tanpa ingin dipuji orang, melihat tetangga hidup menganggur, mengajak berdialog, lalu berupaya memberikan sumbangan pemikiran dan modal usaha jika memiliki, melihat orang sekitar hidup dalam kekurangan, maka berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan mencari jalan keluar agar tidak miskin lagi, melihat anak-anak tidak bersekolah, memberikan pendidikan gratis agar mereka bisa membaca dan menulis sebagai bekal untuk belajar sendiri saat dewasa, melihat orang-orang yang berbuat jahat atau maksiat berusaha memberikan nasihat melalui teladan yang baik dengan tidak melakukan hal yang sama, semua itu dilakukan karena mengharap ridha Allah. Sehingga kebaikan menyebar di muka bumi seperti air hujan yang menyuburkan tanaman.
Jika setiap umat Islam di Indonesia, mampu melatih keikhlasan ini sampai mampu mencapai puncaknya, lalu melakukan hal itu secara istiqamah sepanjang hidup, maka problem kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan, perlahan tapi pasti dapat diatasi.
Shiddiq (jujur) kepada Allah dan manusia, “….. orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah …” (QS Al-Ahzab;23).
Jujur pada Allah bermakna; manusia berusaha untuk jujur dalam perkataan, niat, keinginan, tekad, mewujudkannya, perbuatan, bernadzar dan melaksanakan syari’at agama. Jika ingin berniat untuk taat melaksanakan shalat Tahajjud, maka membulatkan tekad di dada, mewujudkannya dalam praktik, dan meningkatkan kualitas ibadah sampai batas kemampuan diri.
Kejujuran adalah barang langka di bumi Indonesia dalam krisis multi dimensi ini. Segala lapisan masyarakat mulai bawah, menengah dan atas, ramai-ramai berikrar “masa bodoh dengan kejujuran”, akibatnya bisa ditebak krisis tanpa kenal akhir menerpa ibu Pertiwi, bahkan ancaman krisis global sedang menanti di depan pelupuk mata.
Kalangan masyarakat kecil yang hidup susah dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan hidup, malah menjadikan kejujuran sebagai hiasan belaka, sedang praktik kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan kebohongan, kepalsuan, kepura-puraan, dan saling menjatuhkan.
Harapan untuk memperbaiki semua itu masih ada, asal mulai detik ini, setiap orang dari kita berusaha untuk jujur. Di sini ditulis “berusaha” yakni mengusahakan untuk bersikap jujur, jika dalam praktik berbohong, maka cepat-cepat beristigfar agar berbohong tidak menjadi kebiasaan. Begitu terus menerus yang dilakukan setiap hari, sehingga perlahan-lahan kejujuran menyatu dalam diri.
Dengan mewujudkan kejujuran dalam berbicara, bergaul, bermusyawarah, berdagang, bertani, bekerja, berusaha, dan berbagai aspek kehidupan, insya Allah rahmatNya akan diberikan pada umat Islam dan pintu rizki dibuka lebar-lebar.
Zuhud bermakna tiga hal; tidak senang ketika memiliki sesuatu dan tidak merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu, menganggap sama antara pujian dan celaan, hatinya dipenuhi kecintaan pada Allah, tapi tidak melupakan dunia.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seringkali kita kehilangan sesuatu; dompet, uang, kartu ATM atau kredit, tabungan, tas, barang lainnya, dan salah transfer uang, setelah hal itu terjadi, tidak menyesalinya, melainkan menganggap sesuatu yang biasa-biasa saja.
Orang yang zuhud; tersenyum saat mendapatkan celaan sebagaimana tersenyum saat mendapatkan pujian, lapang dada saat dibicarakan kejelekan di depan orang banyak sebagaimana lapang dada dibicarakan kebaikannya, bersikap tenang sewaktu mendapatkan fitnah sebagaimana mendapatkan kabar baik, senang mendapatkan rizki yang sedikit sebagaimana mendapatkan rizki yang berlimpah ruah.
Selama ini Zuhud diartikan dengan meninggalkan dunia sama sekali dan hidup penuh ketaatan pada Allah, padahal Allah menciptakan manusia untuk menjalani kehidupan dunia demi rasa cinta padaNya. Seseorang yang pekerjaannya hanya ibadah setiap detik dengan meninggalkan anak dan istri dalam kelaparan atau kekurangan, hakikatnya bukan orang zuhud. Seseorang yang beribadah setiap waktu, tapi kehidupannya ditanggung orang lain, bukan orang yang zuhud. Seseorang yang tidak mau bekerja karena beribadah saja pada Allah, bukan orang zuhud. Orang yang zuhud adalah mau bekerja apa saja asal halal, tapi dalam bekerja diniatkan karena Allah, menggunakan hasil pekerjaan sesuai kebutuhan bukan keinginan, berbagi pada orang lain, dan menjalankan ibadah secara khusu’ karena Allah.
Mahabatullah yakni mencintai Allah di atas siapa pun dan apa pun, sebab cinta sejati hanya milik Allah karena lima alasan; manusia menyukai kesempurnaan, kekekalan, keberadaan dan kehidupan, semua itu milik Allah, manusia mencintai yang berbuat baik kepadanya, sedang kebaikan Allah tidak terhitung dan tidak terbatas “… jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya ….” (QS Ibrahim;34), setiap manusia mencintai orang yang senang berbuat baik, senang menyebarkan kebaikan dan berbuat adil, siapakah yang mampu melakukan semua itu secara sempurna melainkan Allah, setiap orang mencintai keindahan (lahir dan batin) sebab keindahan memancarkan keagungan dan ketentraman, hanya Allah yang Maha Indah, adanya kesesuaian dan keteraturan dalam segala aspek kehidupan semesta, akhirat dan alam ghaib, siapa yang mengaturnya melainkan Allah.
Kemulyaan para sahabat dan Ulama’ terdahulu; pengetahuan tentang Allah, Malaikat, Kitab dan para Rasulnya, kemampuan memperbaiki diri dan memperbaiki akhlak orang lain dengan nasihat, dan kemampuan mensucikan diri dan jiwa dari perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat tercela.
Cinta pada Allah dapat diwujudkan dengan mencintai sesama manusia karena Allah. Orang yang melakukan perjalanan jauh untuk menemui saudaranya karena ingin bersilaturahmi dan memberikan sebagaian harta yang dimiliki padanya sebagai bentuk cinta pada Allah. Orang bekerja siang malam untuk mampu memenuhi kebutuhan keluarga sebagai bentuk tanggung jawab dan cinta pada Allah. Orang kaya memberikan modal usaha pada 10 orang pengangguran, sehingga memiliki usaha untuk hidup mandiri ditujukan sebagai bentuk cinta pada Allah. Seorang pemuda berbagi skill bidang tertentu pada orang lain sampai dia menguasainya sebagai keahlian yang bermanfaat, ini merupakan bentuk cinta pada Allah. Malah, Allah menegur umat Islam yang tidak mau menjenguk orang yang sakit, memakamkan jika meninggal dunia, dan membantunya jika membutuhkan sesuatu.
Allah Maha Segala, sebenarnya tidak butuh cinta manusia, hanya manusia yang butuh cinta Allah, sebab mereka tergantung padaNya, membutuhkan rizkiNya, memohon ampunanNya, mengharap ridhaNya, dan meminta dimasukkan dalam golongan orang-orang shaleh, jujur, baik, dan sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Jadi, bentuk cinta manusia karena Allah hakikatnya sama dengan mencintai Allah asal dilakukan secara tulus tanpa pamrih.
Raja’ adalah mengharapkan sesuatu pada masa mendatang yang dapat menimbulkan kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan yakni pengharapan pada rahmat dan ampunan Allah. Raja’ berkaitan dengan menunggu, apabila yang ditunggu lemah sebabnya disebut tipuan, sedang bila sebabnya tidak jelas disebut angan-angan.
Perbedaan antara raja’ dengan angan-angan karena adanya sebab. Jika seseorang mengharap untuk sukses dalam usaha, lalu berusaha mewujudkannya dengan cara-cara yang terbaik, ini yang disebut dengan Raja’. Jika orang berharap untuk sukses tanpa melakukan usaha apa pun, ini yang disebut angan-angan. Perwujudan usaha dengan cara-cara terbaik merupakan sebab kesuksesan.
Dalam abad 21 ini, dunia angan-angan seringkali mampu diwujudkan dalam kenyataan. Walt Disney berangan-angan untuk memiliki taman bermain sekaligus tempat hiburan, maka terbentuklah Disney Land di beberapa negara di dunia, sedang di Indonesia disebut Taman Fantasi. Orang-orang bermimpi berkomunikasi secara mudah, muncullah Handphone. Orang-orang bermimpi membuat dunia maya menjadi nyata, lahirlah internet dan ipod. Namun perlu dicatat bahwa mimpi yang diwujudkan menjadi nyata dikarenakan beberapa hal; keberanian mewujudkan mimpi walau ditentang dan diejek banyak orang, usaha yang gigih pantang menyerah, menekuni bidang tersebut selama bertahun-tahun baru menemukan titik terang, berulangkali jatuh bangun, membaca keadaan dengan cerdas, pandai memanfaatkan peluang sekecil apa pun, mampu bersinergi dengan orang lain, menemukan lingkungan yang tepat dengan keahlian yang tepat pula. Hakikatnya mereka yang mewujudkan mimpi menjadi nyata, disebut Raja’ atau pengharapan untuk sukses di dunia dengan sebab yang jelas.
Memang makna Raja’ tidak sekadar berhubungan dengan urusan dunia, tapi juga urusan akhirat. Dalam konteks ini, manusia berharap untuk diampuni dosa-dosanya dengan banyak beristigfar dan berbuat baik, manusia berharap mendapatkan surga dengan menjalankan syari’at agama, manusia berharap mencintai Allah dengan mencintai sesama manusia karena Allah, manusia berharap digolongkan dengan orang-orang shaleh, sahabat dan para Nabi dengan meneladani akhlak mulia mereka, manusia berharap ridha Allah dengan melakukan segala sesuatu yang dikehendakiNya dan menerima ketentuanNya baik atau buruk dengan lapang dada.
Khauf yakni perasaan takut pada Allah semata. Ketakutan terhadap azab Allah, siksa kubur yang dasyat, hari perhitungan, hari pembalasan, takut dimasukkan neraka padahal api sebagai unsur terkecilnya kita sudah ketakutan, dan lebih-lebih sangat takut jika tidak berjumpa dengan Allah. Juga takut bahwa amal ibadah tidak diterima oleh Allah, takut dosa-dosa tidak diampuni Allah, takut amal kebaikan tidak dapat mengimbangi dosa dan keburukan; “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS Al-Mukminuun;60).
Perwujudan rasa takut dalam kehidupan sehari-hari ialah berhati-hati dalam berbicara atau bertingkah laku supaya tidak terjebak pada kesalahan, jika pun berbuat salah dijadikan sarana pembelajaran untuk berbuat yang lebih baik, melaksanakan ibadah srpitual dan sosial secara sukarela, membiasakan diri berbuat baik, senantiasa memberikan yang terbaik dalam usaha agar keluarga hidup berkecukupan dan memberi manfaat pada orang lain, dan menimba ilmu setinggi-tingginya untuk diajarkan pada orang-orang yang membutuhkan.
Takwa ialah mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah, melaksanakan ibadah dan amal shaleh dalam makna ihsan, mendekatkan diri pada Allah, dan bersikap adil
“Sesungguhnya takwa memiliki jalan sendiri. Apabila seseorang melalui jalan itu, maka nilai-nilai ketakwaan akan terpatri di dalam dirinya dan perbuatannya akan mencerminkan cahaya Al-Qur’an dan Hadits.” Said Hawwa
Pernyataan Sa’id Hawwa penting dipelajari lebih lanjut. Setiap orang berusaha untuk menjadi yang paling bertakwa, sebab itulah bekal terbaik menuju kehidupan akhirat, sekaligus harapan Allah pada hamba-hambaNya.
Ketika Anda membulatkan tekad untuk bertakwa pada Allah, maka langkah yang ditempuh ialah memperbaiki shalat wajib yang dilakukan, khususnya bacaan-bacaan yang benar, pemahaman pada arti, sehingga dapat shalat dengan khusu’, menambah dengan shalat sunnah Qobliah dan Ba’diyah (sebelum/setelah shalat), menambah dengan shalat sunnah hajat, dhuha dan tahajjud, kedua memperbaiki puasa yang dilakukan tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan seluruh jasad lahiriah dan batin juga berpuasa, melakukan hal-hal yang baik selama berpuasa sebagai sarana berbuat baik 11 bulan kemudian, lalu berusaha menambah dengan puasa sunnah; menjelang Idul Adha, senin dan kamis dan puasa-puasa sunnah lainnya sesuai kemampuan atau kerelaan diri, ketiga, mengeluarkan zakat fitrah atau harta secara rutin ditambah sedekah kapan pun memperoleh rizki yang banyak, meningkatkan diri bersedekah sesuatu yang abadi seperti modal usaha atau ilmu, keempat berhubung haji bagi yang mampu, maka yang tidak mampu dapat senantiasa berbuat baik untuk mengimbanginya, kelima, beriman dengan keyakinan, keenam, musafir di jalan Allah tidak mesti berjalan kaki, menempuh kendaraan tidak apa, asal dilakukan dengan benar di tempat yang benar dengan cara yang benar, sebab ada sebagian orang yang berjalan kaki dari Jawa Barat sampai pulau Madura, namun yang dicari kesaktian dan kedigdayaan, suatu jalan yang jelas-jelas salah, ketujuh, melakukan hijrah dari tempat yang kurang baik atau kurang produktif ke tempat yang lebih baik atau produktif, sehingga prinsip orang terbaik ialah yang paling bermanfaat dapat dipegang teguh. Mungkin jalan di atas yang berusaha ditempuh hamba Allah, sedang Anda dapat mencari jalan takwa sendiri.
Makna takwa dalam kehidupan sehari-hari yakni berusaha untuk bermanfaat pada orang lain sesuai kemampuan, hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup sehingga dapat beribadah dengan tenang, bekerja apa saja asal halal, mewujudkan ibadah spritual dalam tingkah laku yang mulia seperti halnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, memiliki kepribadian yang tangguh dan kuat, dan menjadikan musibah, bencana atau nasib sial sebagai cara Allah mendidik seseorang untuk menjadi yang terbaik.
Wara’ ialah meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi diri, orang lain, lingkungan, dengan diniatkan karena Allah.
Tingkatan wara’ menurut Imam Ghazali. Pertama; wara’ wudul yakni meninggalkan segala perkara yang telah diharamkan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan menyebabkan seseorang berbuat maksiat, contoh, minuman keras (khamar) haram hukumnya, maka kita berusaha tidak meminumnya. Kedua, meninggalkan perkara syubhat yang tidak wajib ditinggalkan akan tetapi disunnahkan, dan meninggalkan yang perkara-perkara makruh, “Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu. “ (HR. Nasa’ie, Tirmidzi, Ibnu Hibban), misal menemukan uang di jalan, lalu kita berusaha mencari yang tidak punya, jika tidak ditemukan berinisiatif menyumbang pada orang yang membutuhkan atau masjid. Ketiga, wara’ muttaqien yakni “Tidaklah seseorang sampai kepada derajat muttaqien hingga ia meninggalkan apa yang dibolehkan bagiNya karena takut mengerjakan apa yang tidak diperbolehkan untuknya,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim) “Kami meninggalkan 9/10 perbuatan yang halal karena takut jatuh pada perbuatan yang haram,” Umar bin Khattab, contoh; orang yang makan sedikit atau secukupnya karena khawatir terlalu kenyang yang memudahkan setan untuk masuk, meninggalkan pakaian yang mewah untuk menggunakan pakaian sederhana karena mengharap ridha Allah seumur hidup, jika pada masa Umar bin Khattab dapat meninggalkan 9/10 perbuatan yang dibolehkan, maka untuk zaman kita sekarang, mampu meninggalkan 1/3 saja asal secara konsisten sudah cukup memadai. Keempat, wara’ as-shiddiqien yakni meninggalkan perkara-perkara yang jelas kehalalannya semata-mata karena Allah, sebagai misal; Rabi’ah Al-Adawiyah dan Ibnu Taimiyah tidak menikah karena ingin mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah dan mengabdikan diri pada Islam.
Makna wara’ dalam kehidupan sehari-hari yakni meninggalkan hal-hal yang tidak produktif, tidak bermanfaat, sesuatu yang sia-sia, dan membuat seseorang stagnan atau mandeg. Sesuatu yang jelas-jelas tidak produktif atau tidak menguntungkan sama sekali dalam usaha, berusaha untuk ditinggalkan dengan menggantinya dengan yang produktif. Seringkali seseorang merasa melakukan hal-hal berharga, padahal yang dilakukan nilai manfaatnya kecil atau tidak ada, maka perlu melakukan sesuatu yang bermanfaat agar menjalani hidup penuh makna. Berapa banyak kesia-siaan yang dilakukan dalam satu hari saja, apalagi dalam sebulan atau setahun, susah menghitungnya, mulai saat ini berusaha meninggalkan hal-hal yang sia-sia ini. Stagnan atau mandeg dalam usaha, kreativitas, dan pekerjaan membuat seseorang putus asa, jalan keluarnya, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, merenung di tempat yang sunyi sambil mendekatkan diri pada Allah, dan mencari peluang usaha baru jika yang lama tidak mungkin ditingkatkan.
Syukur adalah mengerahkan secara total apa yang dimilikinya untuk mengerjakan apa yang paling dicintai Allah. Rasulullah yang jelas-jelas dijamin masuk surga dan menjadi makhluk terbaik masih rajin beribadah sampai bengkak kakinya karena bersyukur, sehingga ketika Aisyah menegur secara halus, beliau bersabda “Apakah kamu tidak mau (Aisyah) kalau aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
Ilmu syukur; nikmat itu sendiri yang disyukuri, penerima nikmat yakni orang yang mendapatkan nikmat dan pemberi nikmat yakni Allah SWT, kebahagiaan atas nikmat yang diperoleh merupakan hal syukur, amal syukur yakni amal lisan dengan hamdalah, amal hati memperbanyak dzikir dalam berbagai keadaan, anggota tubuh melakukan sujud syukur, meningkatkan ketaatan dalam beribadah dan mendekatkan diri pada Allah.
Syukur paling mudah yang enggan dilakukan manusia ialah bersujud syukur, padahal hanya berniat untuk sujud syukur, bersujud sambil membaca “subhanallah walhadulillah wala haula wala quwwata illa billahil aliyil’adzim” atau bisa juga membaca “alhamdulillahirabbil alamien” sebanyak-banyaknya, jika bisa sampai menitikkan air mata. Mengapa hal ini perlu dilakukan?
Tahukah kita bahwa hidup yang dijalani dalam bayang-bayang kematian. Ketika naik angkot, bus, kapal laut dan pesawat rawan kecelakaan, diam di rumah rawan perampokan, tidur di ranjang rawan gempa bumi, duduk santai rawan banjir, berjalan-jalan rawan tertambrak kendaraan, makan daging rawan flu burung, berdiam diri rawan angin topan, berdiri di tanah datar rawan petir, dan lain sebagainya. Maka, kita dapat hidup detik ini harus disyukuri.
Meski Indonesia didera krisis sampai sekarang, namun kita masih dapat makan nyaman meski hanya dengan garam atau krupuk, tidur nyenyak di malam hari, dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga seadanya. Padahal, bisa jadi di bagian dunia berbeda orang-orang hidup kelaparan, ketakutan karena perang, dan kecemasan terus menerus. Bukankah ini pantas disyukuri?
Sampai sekarang, kita sehat walafiat jasmani dan rohani, padahal banyak yang tidak sehat salah satunya. Kita dapat menikmati menjadi orang Muslim dan Mukmin, sehingga mampu bersikap tenang dalam krisis ini, memiliki bekal untuk menjalani kehidupan setelah kematian, sedang orang lain yang tidak beriman hanya menikmati kehidupan dunia yang hampa ini. Adakah nikmat yang lebih besar dari hal ini?
Masih banyak serentetan fakta mengapa Anda harus bersyukur pada Allah. Tapi paling tidak, kini Anda memahami sebagian di antaranya. Dengan bersyukur, luar biasanya, Allah memberikan sesuatu yang lain. Menurut Imam Ghazali, orang yang pandai bersyukur akan memperoleh; kekayaan, doa yang mustajab, memberoleh rizki, mendapatkan ampunan, dan tobat diterima Allah.
Sedang syukur sesama manusia diwujudkan dalam; mengucapkan terima kasih setiap kali mendapatkan kebaikan, rizki, ilmu dan pertolongan, berusaha menempatkan sesuatu pada tempatnya dalam berhubungan sosial, membalas kebaikan dengan yang lebih baik, dan saling tolong menolong atau nasihat menasihati secara tulus.
Sabar lawannya keluh kesah. Sabar terbagi dalam; sabar yang berkaitan dengan tubuh, dan sabar menghadapi keinginan syahwat dan hawa nafsu.
Pertarungan antara motivasi positif (hati yang suci) dan motivasi negatif (hawa nafsu); Motivasi positif mengalahkan yang negatif hawa nafsu, maka seseorang bisa konsisten dalam bersabar. Motivasi negatif mengalahkan yang positif, sehingga hatinya dikuasai setan dan tidak ada keinginan untuk melawannya, orang yang sama sekali tidak sabar. Antara motivasi positif dengan negatif seimbang, terkadang saling mengalahkan, orang yang berusaha melawan hawa nafsunya, kadang bersabar dan kadang tidak. Untuk memperkuat motivasi positif; menumbuhkan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dalam berbagai aspek kehidupan, meningkatkan maqam diri semampu yang bisa dilakukan, membiasakan diri melawan motivasi negatif (hawa nafsu).
Tiga cara mengalahkan hawa nafsu; mengurangi kualitas dan kuantitas makanan yang lezat, tidak melihat hal-hal yang mengundang gejolah syahwat, menghibur diri dengan yang dibenarkan syariat seperti menikah.
Tingkatan-tingkatan sabar; tashabbbur yakni berusaha untuk bersabar, dalam bersabar seperti menanggung beban berat, orang yang dengan mudah bersifat sabar karena sudah terbiasa, dan tasyabaruu yakni yang memiliki kesababaran luar biasa meski sering didzalimi dan dianiaya lahir/batin.
Sabar dalam zaman sekarang diwujudkan dalam; bersabar dalam mengelola dan menghadapi persaingan usaha, malah menjadikan sarana meningkatkan diri atau mencari usaha yang benar-benar baru dan berbeda, bersabar dalam berhubungan dengan orang lain sebab orang yang bersabar kelihatan kalah dari luar tapi menjadi pemenang sejati, sabar dalam hidup berkeluarga dan membesarkan anak, bersabar dalam menghadapi kemaksiatan di depan mata, bersabar melihat terlalu banyaknya barang yang ditawarkan iklan, supermaket, mall dan pusat perbelanjaan, bersabar menghadapi tetangga, dan bersabar dalam menerima cobaan atau ujian Allah. Salah satu rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam sehingga tersebar di segala penjuru dunia, karena beliau memiliki kesabaran yang sempurna, padahal hampir setiap hari dianiaya, difitnah, diejek, dan didzalimi selama 13 tahun, sehingga memaksa beliau hijrah, sesampainya di Madinah yakni 10 tahun, masih diperangi kaumnya yang memaksa beliau berperang di jalan Allah.
Ridha ialah menerima apa pun ketentuan Allah secara sukarela untuk memperoleh ridhaNya, puncak dari ihsan yakni ridha Allah pada hamba-hambaNya. Untuk mencapai ridha, perlu ditumbuhkan rasa cinta pada Allah, cinta yang total menyebabkan menerima apa pun secara sukarela. Berdoa tidak menjatuhkan makam ridha, demikian juga bagi orang yang hijrah dari tempat maksiat menuju tempat yang lebih baik.
Tingkatan ridha; orang yang mencintai kematian karena rindu bertemu dengan Allah, orang yang mencintai kehidupan di dunia karena ingin berkhidmat pada Allah, dan orang yang berkata “Aku tidak memilih antara keduanya (kematian dan kehidupan), akan tetapi aku ridha atas apa yang dipilihkan Allah untukku,” ini merupakan derajat yang paling tinggi. Berusahalah istiqomah!
Umat islam yang mencintai kematian karena rindu pada Allah, sedangkan orang kafir takut mati, sebab menganggap mati sebagai akhir kehidupan. Alangkah berbahagianya menjadi seorang Muslim yang menjadikan kematian sebagai sarana untuk bertemu dengan Allah yang Maha Segala. Suatu pertemuan yang paling diidam-idamkan setiap hambaNya.
Ternyata mencintai kehidupan karena memanfaatkan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada Allah, membantu umat Islam keluar dari kemiskinan, keterbelakangan dan pengangguran, membantu umat manusia menjalani hidup yang lebih nyaman dan baik di dunia, dan menjalani setiap putaran detik atau jam untuk selalu mengingat Allah, juga termasuk dari bagian dari upaya memperoleh ridha Allah.
Tingkatan yang paling tinggi dari keduanya yakni tidak mencintai kematian dan kehidupan melainkan ridha apa pun kehendak Allah SWT. Jika Allah menghendaki untuk mati, dia menyerahkan nyawanya dengan senyum, jika Allah menghendaki untuk hidup agar bermanfaat lebih banyak pada orang lain, dia menjalaninya dengan senyum, jika Allah menghendakinya difitnah manusia tanpa alasan yang jelas, diterima dengan lapang dada, jika Allah menghendakinya menerima kegagalan demi kegagalan, diterima dengan keinginan untuk memperdalam ilmu, jika Allah menghendaki merenung sendirian mengingatNya semata, dijalani sepenuh hati, jika Allah menghendaki hidup menderita, dijalani sepenuh hati. Memang hal ini sesuatu yang amat sulit, tapi bila seseorang bertekad melakukannya, maka tampak mudah saat dijalani dengan sungguh-sungguh.
Ridha berkenaan dengan usaha atau pekerjaan yakni menerima hasilnya dengan lapang dada, mensyukurinya sebagai rahmat Allah meski hasilnya lebih kecil, memanfaatkan untuk hal-hal baik, dan terus menerus berusaha untuk kemudian disedekahkan pada kerabat dan orang-orang yang membutuhkan.
Tobat ialah mengakui kesalahan yang dilakukan, menyesalinya, memperbaikinya dan berusaha tidak mengulanginya. “…Dan bertobatlah pada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung,” (QS Anu-Nuur;31). Menurut Imam Ghazali, Tobat berhubungan dengan ibadah, kemaksiatan dan kedzaliman pada manusia.
Tobat dalam ibadah ialah mengingat sejak balig berapa kali melalaikan shalat, puasa dan zakat, lalu berupaya untuk menggantinya sedikit demi sedikit sampai merasa cukup memadai. Jika tidak dapat menempuh hal ini, dapat dilakukan dengan memperbanyak dzikir pada Allah yakni membaca istigfar 100X setiap hari, atau memperbanyak ibadah sunnah sebagai pengganti.
Tobat berkaitan dengan kemaksiatan yakni mengingat semenjak balig semua kesalahan, kekhilafan, dosa, keburukan, dan kekejian yang dilakukan, lalu menyesali yang telah dilakukannya dan memperhitungkan kadar kemaksiatan secara kualitas dan kuantitas untuk menggantinya dengan kebaikan. “…..sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS. Huud; 114) kemaksiatan pendengaran dengan banyak mendengarkan Al-Qur’an, nasihat agama, dan berdzikir, kemaksiatan dengan mata berusaha ditutup dengan melihat hal-hal positif atau baik, kemaksiatan anggota tubuh dengan memperbanyak ibadah.
Tobat karena melakukan Kedhzaliman pada manusia; apabila menghilangkan nyawa orang, maka harus membayar diyat (denda) dan meminta maaf pada keluarga, apabila dzalim harta atau kehormatan, maka harus meminta maaf dan menggantinya, apabila dzalim hati seperti menyebarkan kejelekan, maka harus meminta maaf pada orang-orang yang pernah mendengarnya.
Pembagian manusia dalam masalah tobat; seseorang yang bertobat dari kemaksiatannya secara total, konsisten sampai meninggal dunia, tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengganti ibadah-ibadah yang telah ditinggalkan, orang yang bertobat dengan rajin melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, serta meninggalkan dosa-dosa besar, tapi kadang tergelincir pada dosa yang tidak disengaja atau tidak berniat melakukannya, orang yang bertobat secara konsisten sampai beberapa lama, namun terkadang dikalahkan hawa nafsunya, sehingga melakukan dosa dengan sengaja, ia tetap berusaha taat dan melawan hawa nafsunya, sedang yang paling buruk yakni orang yang melakukan kemaksiatan lagi tanpa ada keinginan bertobat.
Berhubungan dengan tobat ini, rahmat Allah lebih besar dari mukaNya, renungkanlah kisah berikut ini!
“Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 orang, lalu ia bertanya tentang seorang yang paling mengerti agama. Ditunjukkanlah pada seorang pendeta, ketika sampai orang yang mengantarnya berkata, ‘wahai pendeta, orang ini telah membunuh 99 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ Pendeta itu berkata, ‘tidak mungkin!’ maka pendeta itu dibunuh sampai genap 100 orang. Kemudian ditunjuki pada orang alim ‘wahai orang alim, orang ini telah membunuh 100 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ orang alim itu berkata, ‘Mungkin, tidak ada yang menghalangi tobat hamba kepada Tuhannya. Lalu orang alim memberikan arahan, ‘Pergilah ke tempat itu, di sana penduduknya menyembah Allah, beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke tempat asalmu karena itu merupakan tempat penuh kemaksiatan.’ Lalu pergilah laki-laki itu ke tempat yang diberitahu orang alim tadi. Ketika di perjalanan laki-laki itu meninggal dunia. Terjadilah perdebatan antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Adzab, Malaikat Rahmat berkata, ‘Orang ini datang untuk bertobat’ Malaikat Adzab menjawab, ‘Akan tetapi ia belum melakukan kebaikan sama sekali.’ Maka datanglah Malaikat yang berwujud sebagai manusia, yang berdiri sebagai penengah dan berkata, ‘Ukurlah jarak antara tempat tujuannya dengan tempat dia berasal, mana yang paling dekat itulah yang menentukannya.’ Ketika diukur, ternyata jarak tempat yang dituju lebih dekat dari tempat ia berasal, lalu Malaikat rahmat membawanya. (HR Bukhari Muslim) Dalam riwayat lain “Perbedaan jarak antara keduanya hanya sejengkal.” Riwayat lain menyebutkan “Allah memerintahkan tanah yang ia berasal untuk menjauh dan tanah yang tujuannya mendekat, lalu memerintahkan Malaikat untuk berkata, ‘Ukurlah mana yang paling dekat.’ Ketika diukur, tempat tujuannya lebih dekat sejengkal, maka dosa-dosanya diampuni Allah.
Sebaliknya, ada orang yang sombong dengan ibadah, ketaatan pada Allah, dan merasa paling mulia di dunia, lalu Allah mengujinya dengan wanita, dia mampu menolak, mengujinya dengan berjudi dia mampu menolak, tapi dengan ujian alkohol atau khamr dia akhirnya meminumnya, sehingga kemudian berjudi dan berzina dengan wanita tersebut, setelah itu Allah mencabut nyawanya. Ini contoh su’ul khatimah karena kesombongannya merasa sok suci.
Melihat kedua kenyataan yang saling bertolak belakang ini, mari kita sekarang melihat posisi masing-masing. Jika kita dalam posisi senantiasa berbuat maksiat, cepat-cepat berusaha tobat. Jika kita taat beribadah, mampu menghindari maksiat, dan mendekatkan diri pada Allah, timbulkan perasaan dalam diri bahwa banyak orang di luar sana yang lebih segalanya dari kita, bahkan kita masih jauh untuk mampu disejajarkan dengan Ulama’, orang shaleh, apalagi dengan para Rasul. Jika kita kadang taat, kadang lalai, kadang-kadang bermaksiat, maka berusahalah untuk mengurangi kelalaian dan kemaksiatan karena takut pada adzab Allah. Sebagai tambahan, perlu memperbanyak doa supaya meninggal dalam husnul khatimah.
Muraqabah; mengawasi dengan tajam setiap amal perbuatan yang dilakukan, sebab jiwa tidak bisa dibiarkan bergerak sendiri, dan merasakan pengawasan Allah dalam segala kondisi “Beribadahlah pada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya ia melihatmu,” (HR. Abu Nu’aim/hasan).
Mujahadah; bersungguh-sungguh dalam beribadah, beramal shaleh, mendekatkan diri pada Allah, menuntut ilmu dan mengamalkannya. Abu Darda; “Jika bukan tiga hal, aku tidak ingin hidup walau hanya sehari, yaitu rasa haus karena Allah di waktu-waktu siang hari (puasa), sujud pada Allah di tengah malam, dan mengikuti majelis-majelis orang-orang yang memilih pembicaraan yang baik-baik sebagaimana kurma yang baik-baik dipilih.” Jika jiwa membangkang lawanlah dengan tekad bahwa kesungguh-sungguhan merupakan kebutuhan sebagaimana fisik membutuhkan makanan.
Muhasabah (introspeksi diri). Menyediakan waktu setiap hari, sejenak untuk muhasabah terhadap apa yang dilakukan dalam sehari (berapa kesalahan yang dilakukan, apa yang dilakukan untuk menutup kesalahan, kebaikan apa yang telah dilakukan, sudah cukupkah untuk menutupi dosa, sifat-sifat tercela apa yang belum hilang dalam diri, bagaimana cara mengilangkan), jika kesalahan lebih banyak dari kebaikan, maka memperbanyak istigfar dan memohon maaf jika bersalah pada orang, jika sebaliknya, berusaha untuk lebih baik keesokan harinya mengingat kesalahan-kesalahan di masa lalu masih belum tertutupi.
Mu’atabah; seseorang hakikatnya tidak memiliki daya dan upaya melainkan Allah, untuk itu berusaha mencela diri. Jiwa biasanya mengajak pada hidup enak, menyenangkan, mengikuti hawa nafsu dan melakukan kemaksiatan, maka kita harus senantiasa mencela kehendak hawa nafsu yang rendah ini.
Abdullah bin Mas’ud r.a; “Tunaikan apa yang telah Allah wajibkan pada Anda, niscaya Anda menjadi orang yang paling beribadah; jauhilah larangan-larangan Allah, niscaya Anda menjadi orang yang paling zuhud; dan puasalah dalam menerima bagian (rizki) Anda dari Allah, niscaya Anda menjadi orang yang paling kaya.”
Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari
a) Banyak berdoa pada Allah supaya memperoleh Akhlak yang mulia
b) Bertingkah laku seperti Al-Qur’an berjalan
c) Memperbaiki sandal, menjahit pakaian, mengerjakan pekerjaan rumah
d) Menghadiri undangan, menengok orang sakit, dan tidak sombong
e) Memperlakukan pembantu secara sama
f) Cerdas dan dididik langsung oleh Allah
g) Selalu memulai mengucapkan salam dan suka bersalaman dengan erat.
h) Memberikan penghormatan pada tamu
i) Paling dermawan
j) Tawadhu walau menjadi makhluk paling mulia
Menjalani Kehidupan Sehari-Hari
Luqman hakim berkata pada anaknya; “Wahai anakku! Sesungguhnya diri manusia itu terbagi tiga komponen, yaitu; sepetiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga lagi untuk cacing. Adapun yang untuk Allah adalah rohnya, yang untuk dirinya adalah amalnya, dan yang untuk cacing adalah jasadnya.”
Sebagai pegangan bagi Anda untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang lebih baik, maka perlu melakukan 3 hal yakni senantiasa meningkatkan kualitas pembacaan Al-Qur’an sampai taraf tertinggi seperti yang disarankan Imam Ghazali, melakukan amalan-amalan dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai hadits Nabi, dan beramal sholeh secara langsung.
Cara Mempelajari Al-Qur’an menurut Imam Ghazali
1. Memahami keagungan dan ketinggian firman Allah, karunia dan kasih sayang Allah pada makhlukNya dengan diturunkannya Al-Qur’an.
2. Mengagungkan Allah saat membaca Al-Qur’an di dalam hati, ingatlah ini firman Allah bukan perkataan manusia.
3. Kehadiran hati saat membaca Al-Qur’an dan meninggalkan bisikan hawa nafsu atau jiwa yang tercela.
4. Tadabbur; merenungkan dan memikirkan makna-makna yang dikandung Al-Qur’an, makanya dianjurkan membaca tartil atau pelan-pelan.
5. Tafahhum; mencari kejelasan makna setiap ayat Al-Qur’an dengan tepat dan benar, menyesuaikan pemahaman sesuai konteks zaman sekarang.
6. Menghindari hambatan-hambatan yang menghalangi pemahaman seseorang saat berupaya memahami Al-Qu’an, tidak terjebak pada makharijul huruf, taqlid buta, dan terus menerus berdosa, angkuh dan tergoda hawa nafsu.
7. Takhsys; menyadari bahwa dirinyalah sasaran Al-Qur’an, misalkan membaca ayat yang memberi perintah, maka dirinyalah yang diperintah, demikian juga saat mendengar larangan, nasihat, bimbingan dan petunjuk. “…. yang dengannya Kami teguhkan hatimu,” (QS Huud;120).
8. Taatstsur; hatinya terpengaruh dengan beragam kesan dengan bermacam-macam ayat yang dihayatinya, apapila ilmunya sempurna, maka rasa takut menyelimutinya, rasa cinta mengugah sanubari, dan rasa hormat yang mendalam.
9. Taraqqi; meningkatkan penghayatan sampai ke tingkat mendengarkan Al-Qur’an langsung dari Allah, adapun tingkatan-tingkatannya; seolah-olah seseorang membaca Al-Qur’an di hadapan Allah (tingkat rendah), menyaksikan dengan hati seakan-akan Allah melihatnya, berbicara padanya, membisikkan padanya berbagai nikmat dan kebaikan, melihat mutakallimin (Dzat yang berfirman) pada setiap kalam yang dibacanya, dan melihat sifat-sifatNya pada kalimat-kalimat yang ada, sehingga seluruh pikiran, perasaan, hati terhambat hanya pada Allah, yang lain fana (tingkat paling tinggi).
10. Tabarri; melepaskan diri dari daya dan kekuatan, merasa lemah, hanya memandang dengan pandangan ridha dan kesucian. Apabila membaca ayat-ayat pujian pada orang-orang Muttaqien, dan shaleh dirinya merasa melihat mereka, sehingga ingin memperbaiki diri dan meneladani, sedang apabila mendapat ayat-ayat tentang ancaman, siksa dan azab dirinyalah yang akan mengalami semua itu, sehingga hati tergoncang dan takut.
Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sepuluh surat dapat menolak sepulum macam bencana, yaitu; surat Al-Fatehah menolak murka Allah, surat Yaa Siin menolah dahaga di hari kiamat; surat At-Dhukhaan akan mencegah ketakutan di hari kiamat; Surat Waqi’ah mencegah kefakiran; surat Al-Mulk akan mencegah siksa kubur, surat Al-Kautsar akan menolak permusuhan, surat Al-Kafirun menolak datangnya kefakiran ketika dicabutnya nyawa, ssurat Al-Ikhlas menolak kemunafikan, surat Al-Falaq akan mencegah kejahatan dengki dari orang yang dengki, surat An-Naas akan menolak was-was.”
Beberapa Amalan Penting dalam kehidupan sehari-hari
Istigfar minimal 100X setiap hari “Sesungguhnya hatiku mengalami kelupaan sehingga aku beristigfar setiap hari seratus kali,” (HR. Muslim) “Siapa yang terus membaca istigfar, Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitan, kegembiraan dari setiap kesusahan. Dan Allah akan memberi rizki yang tanpa terkira,” (HR. Abu Daud, Nasa’I Ibnu Hibban). Beristigfar 1000X jika memiliki urusan yang sangat penting.
Jika sedang gelisah membaca:
(Ya hayyu ya qoyyuum birahmatika astaghiitsu) (HR. At-Tirmidzi)
(Rabbie Laa Usyrik bihi Syai’a) (HR. An-Nasa’i)
Sedekah seperti memerdekakan 10 hamba sahaya, ditulis 100 kebaikan, dihapus 100 kejelekan dan menjadi perisai setan dari pagi sampai sore. Membaca setiap hari 100X;
(Laa Ilaha Illallah wahdahu Laa syarikaka Lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir) (HR. Mutafaqun ‘Alaihi)
Seribu kebaikan dan menghapus seribu kesalahan yakni membaca Tasbih 100X tiap hari
“Apakah salah satu dari kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari? Lalu ada yang bertanya, Bagaimana kita mendapatkan seribu kebaikan?” Nabi SAW bersabda; Bertasbih kepada Allah sebanyak seratus kali hingga ditulis oleh Allah seribu kebaikan atau dihapus seribu kesalahan.” (HR. Muslim)
Ringan di lisan tapi berat di timbangan dan dicintai Allah yakni membaca (subhanallah wabihamdihi subhanallhil ‘adzhim)
Salah satu gudang surga yakni membaca (La Haula walaa quwata Illa billah) (HR. Muttafaq ‘Alaihi)
Doa yang paling banyak dibaca Rasulullah yakni doa sapu jagad (Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah, waqina adzabannaar)
Amalan Dzunun atau Nabi Yunus (Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzaalimien) Seseorang yang membaca doa ini dalam keadaan apa pun Allah akan mengabulkan doanya (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad dan Hakim)
Amal Sholeh merupakan salah satu pendukung kesuksesan, bentuk riilnya ialah;
1. Berjanji pada diri sendiri untuk membantu orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimiliki; ilmu, materi, tenaga, pikiran dan doa.
2. Jika Allah memberikan karunia berupa keberhasilan suatu saat nanti, berjanji untuk membantu minimal satu orang miskin, anak yatim piatu, pengangguran atau anak terlantar sampai mampu mandiri.
3. Segera melakukan kebaikan, sebagai misal; 15% keuntungan Pelatihan LFL digunakan untuk mensubsidi Kuliah Alternatif dan Pelatihan Gratis bagi Yatim Piatu, Fakir Miskin dan anak jalanan. Anda juga bisa melakukan hal yang sama agar bahagia di dunia dan akhirat.
“…..sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS. Huud; 114)
Tes Mukmin Sejati
Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang sesuai dengan kepribadian, prilaku, kebiasaan, dan tidak boleh berbohong demi kepentingan Anda sendiri.
a. Biasa bersikap rendah hati terhadap siapa saja
b. Terkadang bersikap rendah hati, terkadang tidak
c. Merasa paling hebat melebihi orang lain
a. Senang melihat orang lain sukses
b. Benci melihat orang lain sukses
c. Mau menjatuhkan orang lain yang sukses
a. Menjalani hidup apa adanya
b. Merasa beban hidup sangat berat dan susah, sehingga kadang mengeluh
c. Suka hidup dalam dunia angan-angan dibanding kenyataan
a. Ketika mau marah, mampu menahannya dengan baik
b. Melampiaskan amarah ala kadarnya
c. Melampiaskan amarah secara berlebihan
a. Mampu mengendalikan keinginan dan mengaturnya
b. Kadang mengikuti keinginan, kadang mampu mengontrolnya
c. Menuruti apa pun yang diinginkan, baik atau buruk
a. Selalu melihat kebaikan dalam diri orang lain walau berbuar jahat sekali pun
b. Selalu membalas kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan
c. Selalu berburuk sangka pada orang lain
a. Berbuat baik secara tulus dengan berusaha merahasiakannya
b. Membanggakan kebaikan yang dilakukan di depan orang banyak
c. Melakukan kebaikan karena ingin dipuji dan mendapat penhargaan
a. Tidak senang ketika memiliki sesuatu dan tidak merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu
b. Senang ketika memiliki sesuatu dan merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu
c. Kecintaan pada harta melebihi kecintaan pada diri dan orang lain
a. Bersedekah menjadi kebiasaan seperti halnya makan
b. Kadang bersedekah, kadang tidak
c. Tidak suka bersedekah dan memberi pada orang lain
a. Hanya takut pada Allah SWT
b. Takut pada siksa kubur dan neraka
c. Takut menghadapi kematian dan manusia
a. Sering memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta
b. Kadang memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta
c. Tidak pernah memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta karena dianggap sia-sia
a. Hidup merupakan pencarian jati diri guna mencapai ridha Allah
b. Hidup merupakan upaya mencari bekal guna mendapatkan surga
c. Hidup di dunia sudah dianggap mencukupi
a. Menerima karunia Allah dengan penuh rasa syukur, sehingga menimbulkan ketaatan beribadah dan beramal shaleh
b. Mensyukuri nikmat Allah ketika senang, sedang ketika ditimpa sengsara justru lupa
c. Apa yang diperoleh dianggap hasil jerih payah sendiri, sehingga tidak perlu bersyukur
a. Ketika melakukan kesalahan, langsung menyesalinya, membaca istigfar dan berusaha tidak mengulanginya
b. Saat melakukan kesalahan menyesalinya dan beristigfar, tapi kembali melakukan kesalahan
c. Ketika melakukan kesalahan, bersikap cuek
a. Menjalankan ibadah sebagai kebutuhan
b. Menjalankan ibadah sebagai kewajiban
c. Malas beribadah, malah melalaikannya
a. Saya beribadah seakan-akan melihat Allah langsung
b. Saya beribadah karena Allah pasti melihat yang dilakukan
c. Saya beribadah karena melihat orang lain melakukan hal yang sama
a. Apabila disebut nama Allah, hati gemetar
b. Apabila disebut nama Allah, hati merasa tenang
c. Apabila disebut nama Allah, biasa-biasa saja
a. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, iman bertambah kuat
b. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, mendapatkan suntingkan semangat baru
c. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, tidak ada perubahan sama sekali
a. Kebaikan dan keburukan berasal dari Allah
b. Kebaikan berasal dari Allah, keburukan berasal dari sendiri
c. Kebaikan dan keburukan berasal dari upaya Manusia
a. Melakukan segala sesuatu karena Allah dan ikhlas tanpa pamrih
b. Melakukan segala sesuatu karena Allah, tapi kadang mengharap pujian manusia
c. Melakukan segala sesuatu karena manusia
a. Menerima taqdir Allah secara sukarela, baik atau buruk
b. Menerima taqdir Allah ketika mendapatkan kebaikan atau rizki
c. Mengingkari kebenaran taqdir Allah karena merasa manusia mampu menentukan taqdirnya sendiri atau suka menyalahkan taqdir Allah
a. Yakin seyakin-yakinnya adanya alam ghaib
b. Percaya adanya alam ghaib dengan tanpa keraguan
c. Percaya adanya alam ghaib, meski kadang-kadang timbul keraguan
a. Saya yakin seyakin-yakinnya kebenaran-kebenaran Islam
b. Saya percaya kebenaran-kebanaran Islam dengan akal atau ilmu pengetahuan
c. Saya percaya kebenaran-kebenaran Islam karena diberitahu orang lain
a. Mengharap perjumpaan dengan Allah sebagai tujuan hidup
b. Mengharap kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak
c. Mengharap kehidupan yang lebih baik di dunia
Jika jawabannya banyak a) berarti Anda memang Mukmin Sejati, Istiqomahlah (konsisten)
Jika jawabannya banyak b) berarti Anda seorang Muslim yang berupaya menjadi Mukmin Sejati, berusahalah untuk meningkatkan diri dengan menjalankan Item a) semuanya
Jika jawabannya banyak c) berarti Anda Muslim karena KTP atau keturunan, berusahalah melakukan yang ada di Item b) supaya meningkat menjadi Muslim sesungguhnya. Wallahu ‘alam bisshowaab
Ali r.a; “Jadilah Anda sebaik-baik manusia dalam pandangan Allah, sementara dalam pandangan mata sendiri sebagai orang yang terjelek, dan jadilah orang sewajarnya dalam pandangan orang lain.”
Meningkatkan Kualitas Keimanan
Rukun Iman terdiri dari; percaya atau beriman pada Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul khususnya yang berjumlah 25, Kitab-kitab Allah; Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an (khususnya Al-Qur’an), hari kemudian, percaya pada ketentuan Allah. Ini bermakna spritual yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah (hamlum minallah) dan sosial yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan makluk lainnya (hamlum minalmakluk)
Tingkatan Keimanan
1. Percaya Rukun Iman dengan taqlid saja (ikut-ikutan tanpa ilmu)
2. ‘Ainul Yaqin; percaya dengan yakin, seperti kebenaran sunnatullah yang sudah dibuktikan Ilmu pengetahuan yang telah teruji kebenarannya dan muraqobah (Allah pasti melihat kita)
3. Ilmul Yakin; kayakinan tanpa keraguan setelah menyaksikan secara langsung kebenaran-kebenaran Islam dan ma’rifatullah (mata hati seakan-akan melihat Allah langsung)
4. Haqqul yakin; Yakin dengan panca indera, akal dan hati dengan menyaksikan secara langsung lahir dan batin tentang kebenaran-kebenaran Islam dan musyahadah (Melihat Allah langsung tanpa hijab seperti Nabi Musa, yang lebih tinggi seperti mi’rajnya Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha)
5. Istiqomah dalam keadaan Haqqul yakin
Contoh; Nabi Ibrahim AS memberi tauladan dalam proses keimanan yakni awalnya sebelum diangkat menjadi Nabi Percaya dengan penuh keraguan pada ciptaan Allah, lalu Percaya tanpa keraguan setelah melihat sunnatullah pada bulan, matahari, dan bintang, percaya dengan dengan ‘Ainul yakin setelah dibakar api tapi tidak apa-apa (dzat api yang panas diganti dingin atas kehendak Allah), Percaya dengan Ilmul yakin setelah melihat langsung mukjizat berupa burung yang dipotong-potong dan disebar ke beberapa gunung tapi bersatu kembali, terbang ke hadapan beliau, percaya dengan Haqqul yakin manakala beliau bersedia mengorbankan anaknya Nabi Isma’il karena Allah semata, meski kemudian diganti kambing/domba sebagai bentuk rahmat Allah, dan puncaknya beliau istiqomah dalam haqqul yakin sehingga mendapatkan gelar Khalilullah. Untuk sahabat Nabi Abu Bakr Shiddiq!
Nabi Ibrahim a.s pernah ditanya; “ Apakah yang menyebabkan Allah menjadikan Anda sebagai kekasihNya?” Nabi Ibrahim menjawab; “Allah menjadikanku kekasihNya (khaliluhu) sebab tiga hal, yaitu: Saya memilih urusan Allah daripada urusan yang lain; saya tidak pernah gelisah mengenai segala hal yang telah menjadi tanggungan Allah untukku; dan saya tidak pernah makan, baik makan malam maupun siang, melainkan bersama tamu.”
Untuk mampu mencapai semua itu, perlu mengambil langkah-langkah;
a) Memilih hal-hal yang mudah dilaksanakan
b) Setelah mampu, baru memilih hal-hal yang sulit tapi bisa dilakukan
c) Bertekad dalam diri untuk melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari
d) Melakukan semua itu dengan senang hati dan sukarela
e) Bersungguh-sungguh untuk mampu meningkatkan diri dalam segala aspek,
f) Berupaya konsisten sampai meninggal dunia
g) Berkeyakinan pada Allah tanpa keraguan secuil pun
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) Hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS; Al-Anbiya’; 47)
Epilog
Malaikat Jibril berkata; “Allah, Pemilik keagungan, mencintai tiga perkara dari hamba-hambaNya, yaitu; Mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbakti kepada Allah SWT; menangis ketika sedih karena telah melakukan maksiat; dan bersabar ketika tidak punya sesuatu buat memenuhi kebutuhan.”
3 Langkah Sederhana untuk meraih kesuksesan; Belajar Otodidak, Wirausaha Islam dan Mukmin Sejati merupakan satu kesatuan langkah yang dilakukan secara terpadu. Artinya, untuk meraih kesuksesan tidak boleh menonjolkan satu Item dengan meninggalkan lainnya, melainkan mengintigrasikan seluruhnya dalam kesatuan langkah. Untuk itu, perlu beberapa langkah berikut ini.
Pertama; Belajar Otodidak seumur hidup merupakan upaya untuk memahami, mengerti dan mendalami segala sesuatu dalam kehidupan yang dijalani dan memahami diri Anda masing-masing, sehingga Anda mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, mengantisipasi masa depan dengan baik, mewarnai kehidupan masa kini dengan kehidupan yang lebih baik, dan membawa bekal yang mencukupi untuk akhirat kelak.
Kedua; Wirausaha Islam merupakan cara untuk mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan abad 21 dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Cara-cara yang ditempuh merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan dengan nilai-nilai masa kini yang terbukti berhasil. Dari sini diharapkan muncul wirausahawan Muslim yang berwawasan global, sehingga dapat membantu kesejahteraan umat Islam lainnya. Berhubung, dalam bisnis tidak ada batasan agama, ras, suku dan latar belakang, maka Wirausahawan Muslim harus mampu bersinergi dengan siapa saja tanpa mengenal perbedaan masing-masing pihak. Hal ini tetap berkesesuaian dengan Islam.
Ketiga; Mukmin Sejati merupakan keharusan dalam abad 21. Inilah yang dimaksud Barat dengan Spritualitas Islam. Dengan menjadi Mukmin Sejati, Anda mampu bersikap benar dalam berbagai keadaan, tahan banting, menjadi manusia yang berusaha sempurna, memiliki benteng yang kokoh terhadap budaya lain yang merusak, dan melakukan segala sesuatu karena Allah dengan penuh keyakinan.
Keempat; perpaduan harmonis antara ketiganya yang insya Allah membimbing Anda untuk bahagia di dunia dan akhirat. Ketika Anda mencari kebahagiaan di dunia saja, coba renungkan, bukankah segala kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan bersifat semu atau sebentar. Itu karena kebahagiaan di dunia hanya sementara, sedang di akhirat kelak bersifat kekal selamanya. Alangkah nikmatnya menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat! Insya Allah (dengan keyakinan) hal itu dapat Anda capai dengan 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Selamat mempraktikkan!
Dalam rangka memudahkan Anda menempuh 3 Langkah di atas, maka kami menawarkan Pelatihan Learning For Living (LFL). Pelatihan ini bukan sekadar menjelaskan 3 Langkah tersebut, melainkan upaya mengintigrasikan seluruhnya dalam diri Anda masing-masing. Sehingga setelah Pelatihan, Anda mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin mengingat Pelatihan kembali, cukup membaca buku ini.
Sebagai bahan perenungan, bacalah puisi ini dengan penuh perasaan, serap maknanya, salami jiwanya, dan jadilah Mukmin yang seutuhnya!
PELATIHAN
Learning For Living (LFL)
Pembelajaran Untuk Kehidupan
Barat Balai Desa Wonosari No.26B Bondowoso
Kontak Person: 085235930884
“Tuntutlah ilmu dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat,” Hadits
Lifelong Education (Pembelajaran seumur hidup)
LFL merupakan lembaga Pelatihan yang berupaya mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menaklukkan abad 21, mengasah keterampilan kewirausahaan, menemukan potensi manusia dan mengembangkannya, membentuk kepribadian unggul yang tahan uji dan beramal sholeh, didukung Trainer dan Tim berpengalaman. 20% dari ketuntungan digunakan untuk mensubsidi Pelatihan Gratis bagi panti asuhan, anak yatim piatu dan fakir miskin.
Visi
Membentuk Generasi Visioner yang mau Belajar Otodidak seumur hidup, Mandiri, dan Beriman sempurna.
Misi
1. Membuka cakrawala baru bahwa kesuksesan mampu diraih dengan kemauan yang kuat untuk Belajar Otodidak seumur hidup.
2. Mengerti jenis Kecerdasan Berganda dan Gaya Belajar yang dimiliki, sehingga mampu mengembangkannya sesuai dengan kepribadian masing-masing untuk memudahkan dalam memilih profesi yang cocok.
3. Mampu bekerja sama dengan siapa saja, sehingga dapat hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Memiliki keimanan yang kuat sebagai benteng menghadapi kompleksitas zaman dan akselerasi perubahan.
5. Melakukan Perubahan Pendidikan di Indonesia dengan perubahan yang signifikan dalam diri pelajar dan mahasiswa, sehingga mereka berhasil dalam hidupnya.
Jenis Pelatihan LFL dan Outputnya:
I. Pelatihan Belajar Otodidak
1. Mengerti Belajar Bagaimana Belajar (BBB), sebab cara belajar sama pentingnya dengan belajar.
2. Belajar bukan sekadar untuk ujian melainkan guna menjalani kehidupan yang lebih baik
3. Meruntuhkan penghalang mental untuk berhasil dalam belajar di sekolah/pesantren
4. Meyakini setiap orang merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah yang cerdas, ini dibuktikan dengan Tes Kecerdasan Berganda yang telah dipersiapkan.
5. Mampu belajar mandiri sesuai dengan gaya masing-masing anak yang memang unik dan khas, dibantu dengan Tes Mengetahui Gaya Belajar.
6. Memiliki semangat belajar seumur hidup
II. Pelatihan Wirausaha Islami
1. Memahami nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan
2. Mengerti dunia entrepreneur dan makroprenuer
3. Motivasi untuk bekerja apa saja asal halal
4. Menguasai skill kewirausahaan
5. Sukses menekuni usaha secara Islami
III. Pelatihan Mukmin Sejati
1. Memahami Islam secara spiritual dan sosial
2. Membuang sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam
3. Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari
4. Menjadi Mukmin Sejati
5. Amal Sholeh sebagai pendukung kesuksesan
LFL TEAM
Mengingat kompleksitas dari sistem kerja animasi, terkait dengan jumlah SDM untuk menempati posisi-posisi ideal, maka kami menyusun Team LFL guna berjalannya proses kerja
Nama-nama anggota team kreatif yang telah bergabung berikut sesuai dengan spesifikasinya, adalah sebagai berikut:
1. Zubairi
• Penasihat
2. Ahmad Zamhari Hasan, Posisi :
• Direktur
• Trainer
3. Jumladi:
• Editor & Graphics Design
4. Iqlimah :
• Administrasi
Pengalaman-Pengalaman:
1. Melakukan Pelatihan di tiga Pondok Pesantren di Sumatera Selatan, sekolah Mts/MA (Pondok Pesantren Aulia Cendikia Palembang, Pondok Pesantren Inayatullah Gasing Banyuasin, Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Banyuasin Sumsel)
2. Pelatihan Guru-guru TK Raudhatul Qur’an Banyuasin
3. Pondok Pesantren Syaichona Kholil Batu Besaung Samarinda (sekolah SMP/SMA).
4. MTs Normal Islam dengan 150 peserta di Samarinda Kalimantan Timur
5. Mahasiswa Institut Dirasah Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Madura Jatim
6. Panti Asuhan Raksa Putra Sindang Barang Bogor Jawa Barat
7. Pondok Pesantren Al-Ma’sum (SMP/SMA Terpadu) Cianjur Jabar
8. Pelatihan Pelajar, Orang Tua dan Guru di SD Islam Yasiru Kebayoran Lama Jakarta
9. Pelatihan Mahasiswa dan Guru di Cisarua Bogor
10. Pelatihan Pelajar SMP Terpadu & SMK berikut guru di Cikampek Jabar
11. Pelatihan Santri Pondok Pesantren Nur’aliyah Cibubur Jawa Barat
Untuk Pembiayaan, kami atur dengan cara berikut ini:
a. Dibayar Seikhlasnya, paling penting ialah saling berbagi ilmu demi peningkatan mutu anak didik. Malah ke depan, untuk Pesantren Gratis, Panti Asuhan dan Yayasan yang benar-benar sosial, insya Allah Gratis
b. Berhubung pelatihan ini merupakan sebuah upaya untuk membantu para pelajar, generasi muda dan masyarakat umum guna mampu menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Maka masalah pembiayaan disesuikan dengan kemampuan klien kami. Untuk wilayah Jawa Timur; Rp. 200.000 + uang transportasi. Untuk di luar Jawa Timur: Rp. 300.000+ Uang Transportasi. Masalah Ini dapat dirundingkan melalui No. Hp. 085235930884 (Ahmad Zamhari Hasan).
c. Pendaftaran dapat dilakukan dengan menghubungi; : 085235930884, sedang pembayaran dilakukan di tempat Pelatihan. Peserta setiap pelatihan dibatasi 100 orang.
d. Pelatihan ini juga mendukung program Kuliah Online Gratis yang kini sedang dijalani Trainer. www.sampenulis.blogspot.com
PROFIL TRAINER
(FOTO)
Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren TMI Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Selepas mondok lebih banyak Belajar Otodidak (BO) tentang; Pendidikan, sastra filsafat, Islam, dan politik.
Mempelopori lahirnya SUASA (Suara Sastra Al-Amien) yang membuatnya aktif menulis kolom, cerpen dan artikel, menjadi staf redaksi majalah Qalam, mempelopori penerbitan majalah Al-Hikam.
Karya tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul, sedang karya terbatu yakni “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” Kha Tulis Tiwa Press Jakarta. Pengalaman mengajar; Pondok Pesantren TMI Al-Amien Madura 2 tahun, Pondok Pesantren Daarul Ulum Bogor 1 tahun setengah, Pondok Pesantren Daarul Fattah Pecalongan Bondowoso, TPA dan MDA Wonosari Bondowoso 6 tahun. (08176956688
BAHAN BACAAN
Kitab Lengkap Penyujian Jiwa (Tazkiyatun Nafs) Intisari Ihya Ulumuddin, Sa’id Hawwa, PENA Jakarta, Cet IV November 2006
Nashaahi’ul ‘Ibaad; Nasehat Buat Hamba Allah, Muhammad Nawawi ibnu Umar Al Jawi, Surabaya; Amelia, 2005
Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong, Ahmad Zamhari Hasan, Kha Tulis Tiwa Press Jakarta, April 2007
Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses, Hasan, Zamhari Jakarta: Ka-Tulis-Tiwa Pres, cetakan I 2006
Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasjid, Bandung; Sinar Baru Algensindo, Cet ke 38 2005
Sosiologi Agama, The Sosiologi of Religion (1962), Max Weber, Penerjemah Mohammad Yamin, , IRCiSoD Yogyakarta, Cet. II 2002
Panduan Lengkap dan Praktis, PSIKOLOGI ISLAM, Muhammad Izzuddin Taufik, Gema Insani Depok, Desember 2006
Zikir dan Doa dalam Kesibukan, KH. Mawardi Labay El-Sulthani, PT. Al-Mawardi Prima Jakarta, cet. III 1996
Cahaya Pencerahan Dr. Aidh Al-Qarni
Antara Al-Ghazali dan Kant, Filsafat Etika Islam, Abdullah, M. Amin, penerjemah Drs. Hamzah, M.Ag, penyunting Husein Heriyanto, Bandung: Mizan, cet. I Agustus 2002
Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Agustian, Ary Ginanjar, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A, Jakarta: Arga Wijaya Persada 2001
Al-Qu’an Digital Ver 2.1, Jumadil Akhir 1425 (Agustus 2004) Website http://www.alquran-digital.com
Al-Qur’an Terjemahan Berbahasa Indonesia, Penyusun DISBINTALAD, Drs. H.A. Nazri Adlani, Drs. H. Hanafie Tamam, Drs. H.A. Faruq Nasution, Jakarta: Sari Agung, 2001
Terjemah Mukhtasyar Ihya ‘Ulumuddin, Kitab Keajaiban Hati, Al-Ghazali, Bird,
Menulis Dengan Emosi, Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Carmel, Penerjemah Eva Y, Penyunting Femmy Shahrani, Bandung: Kaifa, 2001
Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Camus, Albert, dkk, penerjemah Ade Ma’ruf, penyunting Anas Syahrul Alimi, Yogyakarta: Jendela, Cetakan pertama Maret 2002
BATAS NALAR, Rasionalitas dan Perilaku Manusia, Calne, Donald B. Jakarta: KPG, 2004
Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, Dinsi, Valentino, SE, MM, MBA dkk, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004
Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, Dryden, Gordon & Jeanette Vos, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, Cet. III Kaifa Bandung 2001
Dunia Sophie, Gaarder, Jostein, Sebuah Novel Filsafat, Penerjemah Rahmani Astuti, Penyunting Yuliani Liputo, Bandung: Mizan Utama, Cet XV 2004
Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Grunder Jr, Martin J. Penerjemah Lovely, Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka, Cet. I Maret 2006
Bidadari Posmodern, Hasan, Zamhari Yogyakarta: Lintang Sastra, Maret 2006
Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, Hanafi, Hasan, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, Yogyakarta: IRCiSoD, September 2003
3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis, Hall, Doug, penerjemah Mursid Widjanarko, Bandung: Kaifa, Cet. I 2004
Change, Kasali, Rhenald, Ph.D, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005
Marketing Your Self, Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis,Kartajaya, Hermawan, Editor Yuswohadi, Sunarto Ciptoharjono, Jakarta: MarkPlus & Co, 2005
Keterampilan Menjelang 2020 Untuk Era Global, Lampiran Satuan Tugas Tentang Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Think, LeGault, Michael, penyunting Rani Andriani Koswara, Jakarta: Trans Media, cet.1 2006
Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Pilliang, Yasraf Amir, Kebudayaan, Bandung: Jalasutra, 2004
Qoelho, Paulo, The Alchemist, Sang Alkemis, penerjemah Tanti Lesmana, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005
Cara Belajar Cepat Abad XXI, Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, Bandung: Nuansa, cetakan ketiga Mei, 2002
Character Building, Membentuk Watak, Mengubah Pemikiran, Sikap, dan Perilaku untuk Membentuk Pribadi Efektif guna Mencapai Sukses Sejati, Soedarsono, Soemarsono, Jakarta: PT Exel Media Komputindo, 2002
Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I dan II, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, Surabaya: pt bina ilmu, 1993
Imaji dan Imajinasi Suatu Telaah Filsafat Postmodern, Tedjoworo, H. Yogyakarta: Kanisius 2001,
Buku ini berisi 3 Langkah Sederhana untuk sukses di dunia dan akhirat; 1. cara mudah untuk Belajar Sendiri, 2. Cara Berwirausaha Islami, dan 3. Cara menjadi Mukmin Sejati. Tiga Tema dalam satu paket? Terobosan yang luar biasa.
Percayalah! Anda benar-benar membutuhkannya untuk meraih keberhasilan dalam belajar, bekerja, usaha, dan menjalani kehidupan. Apalagi jika Anda mengikuti Pelatihan Learning For Living, wow dasyat sekali pengaruhnya!
Isinya Mencerminkan:
“Kesederhanaan adalah sebagian dari iman,” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
“Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D.
“Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dan kerja, adalah kunci-kunci sukses baru menuju masa depan,” laporan Scans.
“Sesungguhnya Takwa memiliki jalan sendiri. Apabila seseorang melalui jalan itu, maka nilai-nilai ketakwaan akan terpatri di dalam dirinya dan perbuatannya akan mencerminkan cahaya Al-Qur’an dan Hadits.” Sa’id Hawwa
“Allah, Pemilik keagungan, mencintai tiga perkara dari hamba-hambaNya, yaitu; Mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbakti kepada Allah SWT; menangis ketika sedih karena telah melakukan maksiat; dan bersabar ketika tidak punya sesuatu buat memenuhi kebutuhan.” Malaikat Jibril
Ikutilah Pelatihan
Learning For Living (LFL) (FOTO TRAINER)
LFL merupakan lembaga Pelatihan yang berupaya mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menaklukkan abad 21, mengasah keterampilan kewirausahaan, menemukan potensi manusia dan mengembangkannya, membentuk kepribadian unggul yang tahan uji dan beramal sholeh, didukung Trainer dan Tim berpengalaman. 15% dari ketuntungan disumbangkan pada Pesantren/Lembaga Pendidikan Gratis.
Ka Tulis Tiwa Press Jakarta
LEARNING FOR LIVING (LFL)
3 LANGKAH SEDERHANA
Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat
Ahmad Zamhari Hasan
Halaman judul:
LEARNING FOR LIVING (LFL)
3 LANGKAH SEDERHANA
Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat
Copyrigt, Zamhari Hasan
Penerbit, Ka TulisTiwa Press Jakarta
Cetakan I, Februari 2009
Kata Pengantar Penulis
Alhamdulillah buku ini dapat diselesaikan berkat rahmat, hidayah, taufik dan ma’unah Allah, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Shalawat dan salam disampaikan pada Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan terbaik bagi segenap umat manusia di muka bumi.
“Di antara kenikmatan dunia, cukuplah bagi Anda Islam; di antara kesibukan, cukuplah bagi Anda ketaatan, dan di antara pelajaran, cukuplah bagi Anda kematian sebagai pelajaran berharga bagi Anda.” Ali Bin Abi Thalib
Selama ini begitu sulit rumusan yang dipergunakan untuk meraih kesuksesan di berbagai sendi kehidupan, baik di dunia maupun akhirat. Pasti dalam hati Anda terbetik “Kenapa tidak ada buku sederhana untuk sukses?” Buku ini adalah jawabannya.
Buku ini merupakan panduan teoritis dan praktis yang berisi poin-poin penting yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, supaya Anda mampu menjalani kehidupan yang lebih baik, mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan era global, mampu bangkit di saat krisis dan menaklukkan abad 21 ini.
Isi buku ini sebenarnya merupakan pengembangan Modul Pelatihan Learning For Living (LFL) yang terdiri dari Belajar Otodidak, Wirausaha Islam, dan Mukmin Sejati. Untuk itu, bagi pembaca buku yang hendak mendalami isinya, menyimak penjelasan lengkap setiap poin-poin penting, mengintegrasikan dalam kepribadian dan merasakan manfaat secara langsung, dapat mengikuti Pelatihan LFL. Kebetulan Trainer juga penulis buku ini.
Berhubung manfaat suatu Pelatihan hanya dirasakan dalam kurun waktu sebentar, terkadang seminggu atau tiga bulan saja, maka kehadiran buku ini tentu sangat penting. Diharapkan, mereka mampu memotivasi dirinya sendiri dengan membaca buku ini, apalagi jika langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih pada Habib Saggaf, Nurrohiem, Rahmat, Yan Heriyansyah, dan guru Sekolah/Pesantren Gratis, semoga Allah senantiasa meridhoi langkah kita. Amin! Terima kasih yang tak terhingga pada semua guru yang pernah berjasa, kedua orang tua; Bapak Mohammad Hasan dan Ibu Syarrah, Zubairi Hasan, Jumladi dan sahabat penulis di seluruh Indonesia.
Daftar Isi
Langkah 1: Belajar Otodidak Seumur Hidup
1. 7 Value in living
2. Metode Mengetahui Gaya Belajar
3. Cara Menemukan dan Mengembangkannya 10 Kecerdasan Berganda
4. Beberapa Langkah Penting Agar Sukses Belajar Otodidak
5. Memiliki Kompetensi Pendukung
Langkah 2 : Menekuni Wirausaha Islam
1. Makna kewirausahaan
2. Perpaduan ‘Azm dan Tawakkal
3. Cara Sukses Berwirausaha Islami
4. Tes Wirausaha Islami
5. Makropreneur dan Nilai-Nilainya
Langkah 3: Menjadi Mukmin Sejati
1. Berislam dengan benar
2. Membentuk Kepribadian Mukmin Sejati
3. Menjalani Kehidupan Sehari-Hari
4. Tes Mukmin Sejati
5. Meningkatkan Kualitas Keimanan
Profil Pelatihan LFL (Learning For Living)
Profil Trainer atau Penulis
Bahan Bacaan
Kami Bukan Saya
Gelega hati membara membakar tubuh yang kian renta, hawa panas menyelimuti tak kira rasa, letupan hasilkan bara api berkobar, hanguskan segenap yang ada, tak peduli apa-apa.
Dalam buaian api membara, kekuatan pikiran seperti bangkai tak berguna, terjerembab dalam tong sampah, hanya para pemulung yang bisa mengambil manfaat, mestikah kita jadi pemulung tuk bisa ambil manfaat.
Menarik nafas perlahan kecilkan bara api, tenangkan diri dengan bisikan Ilahi, asma Allah mengalun merdu penuhi jiwa, basuh bara api dengan air kehidupan, rona muka memerah merona sawo matang, degub jantung bergerak cepat jadi normal, hati nurani terbuka kembali.
Hati nurani mampu atasi bara api, pikiran tak mampu melakukannya, pikiran berfungsi normal berkat bantuan nurani, pikiran tak bisa dibiarkan bergerak sendiri sebagaimana api semakin berkobar dengan kayu.
Rasionalitas adalah produk unggulan Barat yang dijual dengan harga murah meriah.
Ketika segala sesuatu bernilai jual, pikiran bukan lagi sesuatu yang bernilai, pikiran bukan lagi barang antik, pikiran sudah menjadi barang murahan yang di jual di Mall.
Aneh bin ajaib, umat Islam terlena dalam buaian pikiran, meninggalkan nurani pada tong sampah, padahal pikiran dan nurani berjalan seiring dalam keislaman, sesuatu yang tidak dimiliki Barat.
“Alah…! Kami menikmati kehidupan kosmopolit dengan cara melacurkan diri pada Barat, kami keruk kekayaan mereka tuk diri sendiri, tak peduli menginjak-injak nilai Islam, tak peduli Al-Qur’an dan Sunnah; keberadaannya antara ada dan tiada, tak peduli ajaran-ajaran Islam; sesuatu yang tak mampu menangkap nilai-nilai kebaruan. Kami hidup karena Barat, oleh Barat, dibentuk Barat, dan mematuhi Barat.”
Beruntung kami bukan saya, saya tak mau menjual diri demi harta yang tak bisa dibawa ke kubur, saya tidak rela menjadi pelacur meski hidup dalam kekurangan, saya tidak bisa menyamakan diri dengan mobil, rumah, kartu kredit dan popularitas: benda-benda itu tetap objek, saya sebagai subjek.
Islam agama yang mampu mensinergikan semesta; dunia, alam kubur, dan akhirat, dalam kesatuan makna yang hakiki. Islam menumbuhkan keyakinan untuk hidup, Islam memperkuat dasar-dasar jalani hidup penuh arti. Islam mengajarkan berbuat, membela sesama, menegakkan kebenaran hakiki, dan mewarnai kehidupan dengan tinta-tinta emas sejarah. Islam menyatukan; imajinasi, panca indera, pikiran, perasaan, tubuh dan hati nurani dalam kesatuan utuh, hanya saja umatnya tak mampu bersikukuh.
Langkah 1: Belajar Otodidak Seumur Hidup
“Tuntulah Ilmu dari pangkuan Ibu sampai ke Liang Lahat,” Hadits
Ruang kelas terbaik di Negara ini atau Negara manapun bukanlah di sekolah atau universitas, tapi berada di sekitar meja makan di rumah Anda. Dr. Richard Berenden dalam The Creating The Future.
Mengapa di ruang makan? Sebab di sinilah sebuah keluarga menikmati makan dengan senang hati sambil berbicara tentang berbagai hal yang dialami. Tanpa disadari, pembicaraan yang ada, sebenarnya merupakan bentuk pendidikan yang efektif bagi keluarga. Bukankah untuk membangun suatu bangsa yang besar, dimulai dengan membangun keluarga? Meja makan Anda adalah tempat terbaik untuk belajar. Apalagi jika para orang tua semenjak saat ini mengatur sebuah pembelajaran terpadu dengan mempersiapkan satu nasihat, satu kalimat hikmah, satu pesan moral atau satu ayat Al-Qur’an/Hadits, setiap makan bersama, dengan tetap dalam suasana santai dan gembira. Buku ini dapat dijadikan panduan. Penyampaiannya dilakukan seakan-akan spontan sesuai keadaan, masalah yang dihadapi anak, dan kebutuhan waktu itu. Jangan kaget, ketika anak-anak mereka sukses kelak, mengakui secara jujur bahwa guru terbaiknya adalah orang tua. Ini berarti setiap orang harus mau belajar sendiri seumur hidup.
Makna Belajar Otodidak (BO)
1. Definisi BO adalah pembelajaran yang dilakukan seseorang atas kemauan, tekad dan keinginan sendiri, meski terkadang belajar pada orang lain
2. Prinsip utama BO: Filosofi air yang berusaha menembus batu, butuh proses, waktu, ketekunan dan kegigihan untuk berhasil.
3. Ilmu itu seperti air yang dituangkan ke dalam gelas, jika terlalu banyak tumpah, jika terlalu sedikit kita kehausan, jadi secukupnya sesuai kebutuhan dan langsung diminum.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Anda memerlukan pegangan nilai-nilai untuk mampu beradabtasi dengan era global atau informasi; zaman ketikdakpastian, kerancuan nilai, resesi ekonomi dunia, kompleksitas masalah dan pemanasan global. Setelah melewati proses panjang, akhirnya ditemukan 7 nilai penting.
“Orang yang paling berbahagia adalah yang mempunyai hati alim, badan sabar dan ridha dengan apa yang ada di tangannya.” Ahli Hikmah
7 Value in living (BPKM SB2):
1. Belajar Otodidak (BO) Seumur Hidup; menghadapi perkembangan pesat di bidang teknologi dan informasi, akselarasi perubahan dan kenyataan hidup, diperlukan kemauan yang kuat dalam diri setiap orang untuk belajar sendiri seumur hidup. Jika dulu pembelajaran seumur hidup Lifelong Education dianggap slogan, kini menjadi keharusan, jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk gagal, putus asa, dan terpinggirkan.
2. Proses dan Hasil; pembelajaran merupakan sebuah proses terus menerus dalam upaya membentuk kepribadian yang unggul secara permanen, proses ini berlangsung seumur hidup, sebab manusia paripurna dicapai ketika kematian menjemput. Tapi Anda butuh hasil jangka pendek yang kasat mata; peningkatan pengetahuan, peningkatan nilai ujian dan penghasilan, jenjang karir atau jabatan, keahlian beberapa bidang ilmu secara mendalam, dan mengelola Wirausaha yang menguntungkan.
3. Kerja Sama; abad 20 merupakan zaman persaingan dengan prinsip seleksi alam atau yang kuat akan menjadi pemenang, sehingga memaksa setiap orang untuk saling menjatuhkan, maka dalam abad 21 justru nilai utamanya ialah kerja sama. Jika Anda ingin sukses, maka harus memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan siapa saja dalam upaya mengembangkan usaha, karir dan pekerjaan, sehingga secara otomatis meningkatkan kualitas hidup.
4. Mandiri; kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup, membuat Anda mampu menjalani kehidupan sesuai yang diinginkan. Jika Anda mampu melakukan sesuatu yang Anda mau, sebenarnya Anda adalah orang sukses, sebab seringkali Anda tidak mampu melakukan apa yang Anda mau walau materi serba berkecukupan. Kemandirian dapat dicapai jika Anda mampu memanfaatkan peluang yang ada di depan mata dengan tanpa memilih-milih pekerjaan atau usaha. Jalani usaha/pekerjaan yang ada, tekuni, kembangkan, evaluasi dan kelola keuntungan!
5. Semangat Pantang Menyerah; menjalani kehidupan penuh liku-liku, jalan terjal, masalah, kesulitan, tantangan dan penderitaan, selama Anda tidak mengenal kata “Menyerah” insya Allah Anda berhasil. Batasan untuk menyerah ialah kematian, artinya jangan pernah menyerah selama Anda masih hidup. Ingat! Thomas Alva Edison mengatakan bahwa dengan menyerah sebenarnya seseorang sudah sangat dekat dengan keberhasilan. Ingat! Ibnu Hajar belajar 10 tahun justru tidak mampu menyerap ilmu yang dipelajari alias merasa bodoh, namun dengan melihat air yang menetes sedikit demi sedikit mampu menembus batu, justru menjadi Tokoh Islam terkemuka yang banyak melahirkan Ulama’ dan Ilmuan.
6. Beriman Penuh Keyakinan; orang Barat lari pada spritualitas karena kebingungan menghadapi era global ini, sebab kehidupan mereka menjauh dari nilai-nilai agama. Spritualitas Islam yang diwujudkan dengan keimanan penuh keyakinan tanpa keraguan, terbukti menjadi pegangan hidup bagi umat Islam yang mampu mencapainya. Untuk itu, dalam menjalankan ibadah sehari-hari, Anda melakukannya sepenuh hati, menjadikannya sebagai kebutuhan hidup dan penuh keyakinan.
7. Bahagia Dunia dan Akhirat; apalagi yang ingin dicapai jika sudah mampu bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini dapat diraih, jika mampu mengisi kehidupan dengan hal-hal yang bermanfaat, menjalani hidup apa adanya, berbuat baik secara tulus, memiliki manajeman konflik yang baik, beramal sholeh dan melakukan segala sesuatu guna memperoleh ridha Allah.
Metode Mengetahui dan Memahami Gaya Belajar
“Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D.
Setiap orang memiliki gaya unik masing-masing individu. Dalam berbagai penelitian di Barat ditemukan 3 Gaya Belajar yakni Visual, Auditori dan Kinestetik (VAK). Anda pahami dulu ketiganya, lalu temukan Gaya Belajar yang cocok dengan diri Anda dengan mengisi Tes Metode Mengetahui Gaya Belajar, insya Allah Anda memahami apa yang dimaksud Belajar Bagaimana Belajar (BBB) seperti yang diharapkan Luis Alberto Machado, Ph.D.
Gaya Belajar Unik Masing-Masing Individu (VAK)
Pembelajar Visual ; Memiliki indera mata yang kuat. Beberapa tips untuk Anda;
1. Memperhatikan dengan seksama proses pembelajaran,
2. Membuat kesimpulan buku dengan menggunakan cara dan bahasa sendiri
3. Membuat kata kunci sepert VAK (Visual, Auditori dan Kinestetik), penjelasan maksud diingat dan disampaikan kembali pada orang lain
4. Berlatih berbicara sendirian dan di depan umum
5. Perlu memanfaatkan waktu kosong dengan merenungkan sesuatu, membaca, menulis, dan menggambar.
6. Kata Kunci; Melihat, Membaca dan Berbicara.
Pembelajar Auditori; Memiliki indera pendengaran yang tajam. Beberapa tips untuk Anda;
1. Merekam kesimpulan setiap pelajaran di tape atau Hp, lalu mendengarkan hasil rekaman saat belajar sendiri.
2. Perlu merangsang diri untuk banyak bertanya,
3. Berbicara pada diri sendiri dan bermain drama.
4. Memperdalam suatu bidang ilmu sesuai minat dan kesenangannya, ketika sampai pada titik ini, maka semangat belajar membara dan motivasi meningkat.
5. Mengisi waktu kosong dengan berdongeng/bercerita pada orang lain, bermain musik, bernyanyi, berdebat dan berfilosofi (mengungkapkan kalimat-kalimat penuh makna),
6. Kata Kunci Membaca yang disukai, Menderngar dan Bertanya.
Pembelajar Kinestetik: Memiliki tubuh yang penuh potensi. Beberapa tips untuk Anda;
1. Membaca buku di tempat terbuka,
2. Paling baik belajar dengan tindakan fisik dan mengetahui secara langsung lewat pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
3. Belajar sambil menggerak-gerakkan kaki/tangan.
4. Fokus pada buku yang dipelajari selama 7 menit, lalu jalan-jalan sambil mencerna yang dibaca, begitu terus sampai waktu 1 jam belajar tiap hari selesai.
5. Menggunakan waktu kosong untuk; membuat kerajinan tangan, berkebun, merawat tanaman, olah raga, dan memperbaiki barang yang rusak (teknik).
6. Kata kunci Membaca sambil bergerak, Praktik dan Kreativitas fisik.
“Lingkungan yang positif dan kaya emosional bukan barang mewah tetapi sungguh merupakan kebutuhan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik pada abad 21,” Dr. Koburo Nabayasyi
Metode Mengetahui Gaya Belajar!
Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang cocok bagi Anda;
kepribadian, minat atau kesenangan, dan tingkah laku.
1. a) Duduk tegak saat membaca buku
b) Sering mengangguk-anggukkan kepala sambil membaca
c) Suka mempermainkan fulpen/kertas dan menggerakkan kaki sambil membaca
2. a) Suka Berhubungan dengan orang lain secara langsung yakni bertemu antar wajah
b) Suka berhubungan dengan orang lain melalui telepon/Hp atau internet
c) Suka berhubungan dengan orang lain sambil melakukan hal lainnya
3. a) Melihat lurus ke depan atau memandang ke pendidik
b) Melihat ke kiri dan ke kanan atau ke bawah saat pembelajaran.
c) Seorang yang melihat ke kanan (padahal bukan kidal) atau ke atas saat pembelajaran
4. a) Jika berbicara cepat
b) Berbicara dengan suara yang berirama
c) Berbicara dengan lambat atau terpatah-patah.
5. a) Punya ingatan yang bagus walau beberapa hari lalu.
b) Menghapal kata-kata atau gagasan yang pernah diucapkan
c) Ingat lebih baik menggunakan alat bantu teknologi/alat peraga
6. a) Tidak merasa bosan duduk lama mendengarkan materi pembelajaran
b) Kadang merasa bosan dan tidak, suka belajar di ruangan
c) Merasa bosan duduk lama dan senang belajar di luar di luar ruangan
7.a) Senang membaca buku
b) Senang bertanya
c) Senang belajar sambil praktik
8. a) Suka mengisi TTS dan menonton
b) Suka mendengarkan radio, drama dan diskusi/telewicara
c) Menyukai kegiatan sosial, olahraga atau lintas alam.
9. a) Selera berpakaian penuh gaya
b) Selera berpakaian yang penting merk
c) Selera berpakaian sederhana
10 .a) Menyatakan emosi dengan ekspresi muka
b) Mengungkapkan emosi melalui kata-kata atau ucapan
c) Mengungkapkan emosi melalui gerak tubuh seperti memukul
11. a) Aktivitas kreatif; menulis, menggambar dan melukis
b) Aktivitas kreatif; berdongeng, bermain musik, menyanyi dan berdiskusi
c) Aktivitas kreatif; kerajinan tangan, berkebun, menari dan olah raga
12. a) Saat diam suka melamun atau menatap ke angkasa
b) Saat diam suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri
c) Saat diam selalu merasa gelisah, tidak bisa duduk tenang
Setelah menjawab, coba dihitung mana yang terbanyak jawabannya
1. Kalau jawabannya banyak a) berarti Anda Pembelajar Visual.
2. Kalau jawabannya banyak b) berarti Anda Pembelajar Auditori
3. Kalau jawabannya banyak c) berarti Anda Pembelajar Kinestetik
4. Anda dapat memanfaatkan semua Gaya Belajar di atas, jika telah mampu mempraktikkan satu Gaya Belajar yang sesuai dalam kurun waktu tertentu.
Sebagai tindak lanjut dari hasil tes, diperlukan beberapa langkah praktis dalam belajar. Inilah Tips sederhana dalam belajar 5 M:
1. Membaca 10 menit setelah pulang sekolah dan bangun tidur
2. Menyediakan waktu 2 jam setiap hari untuk belajar (membaca/menulis/berpikir)
3. Menyenangi apa yang dipelajari
4. Menyukai semua guru agar dapat barokahnya
5. Membuat suasana dan tempat belajar yang baik
“Seekor ulat tergelantung di pohon, dia bergerak pelan-pelan untuk mencapai puncak, tapi akhirnya sampai juga, di waktu berbeda ulat di atas tali bergoyang terkena hembusan angin kencang, namun sampai juga merayap ke puncak.” Ahmad Zamhari Hasan
Cara Menemukan dan Mengembangkan 10 Kecerdasan Berganda
Menurut Howord Gardner terdapat 8 Kecerdasan Berganda (Multiple Intelegences) Versi Howard Gardner, sedang penulis yang sudah melakukan penelitian sederhana terhadap 1000 orang lebih selama 2 tahun menemukan 2 kecerdasan tambahan yakni Kecerdasan Otodidaktor dan Kecerdasan Spritualitas, jadilah 10 Kecerdasan Berganda. Untuk mampu menaklukkan Abad 21 Anda harus mampu mengembangkan minimal 4 Kecerdasan Berganda yang dimiliki. Berikut ini uraian 10 Kecerdasan Berganda yang disertai dengan metode mengetahuinya!
1. Kecerdasan Linguistik (Kemampuan Mengeksplorasi Bahasa), yang harus Anda lakukan ialah; bercerita, bermain permainan ingatan dengan nama, membaca dan menulis cerita, melakukan permainan kosa kata, mengerjakan teka-teki, padukan membaca dan menulis, menulis dengan kata-kata sendiri, berdebat, berdiskusi dan berceramah atau pidato. (Hamka, Hatta, Ibnu Taimiyah)
2. Kecerdasan Matematis Logis (Kemampuan Berhitung dan Bermain logika), yang harus Anda lakukan ialah; rangsang dengan pemecahan masalah, lakukan permainan berhitung dengan komputer atau kalkulator, gunakan logika (akal sehat/pikiran), miliki tempat untuk menghimpun semua hal, biarkan segala sesuatu diselesaikan secara bertahab, dan padukan kemampuan menghitung dengan materi lain. (Habibie, Enstein)
3. Kecerdasan Visual Spasial (Kemampuan Visualisasi yang kuat), yang harus Anda lakukan ialah; gunakan gambar untuk belajar, membuat buku corat coret khusus, padukan seni menggambar dengan pelajaran lain, gunakan gambar di dinding sebagai perangsang, berpindah ruang untuk mendapatkan pandangan baru, gunakan grafik komputer, mengikuti kursus komputer desaign grafis, menggunakan peta konsep, sketsa, poster dan berlatih membuat iklan, drama atau video. (Dedy Mizwar, Affandi,George Wasington)
4. Kecerdasan Musikal (Kemampuan Bermusik), yang harus Anda lakukan ialah; bermain alat musik, belajar lewat lagu, belajar diiringi musik lebih baik, bergabung dengan kelompok paduan suara, menulis nada musik, padukan musik dengan bidang lain, latihan menulis lirik atau puisi, menciptakan jenis musik tertentu, dan memanfaatkan komputer untuk mengembangkan kemampuan bermusik. (Iwan Fals, Bethhoven)
5. Kecerdasan Kinestetik (Kemampuan Mengeksplorasi Tubuh) yang harus Anda lakukan ialah; gunakan latihan fisik sebagai upaya meningkatkan kecerdasan, gunakan gerak dalam belajar, dramatisasikan proses belajar, mempraktikkan apa yang dipelajari, melakukan kerajinan tangan, olah raga sebagai sarana memfokuskan diri, gunakan permainan peran dan pelajaran lapangan, menulis di buku harian atau catatan, sebaiknya belajar teknik. (Michael Schumacer, Valentino Rosi, Taufik Hidayat, Thomas Alva Edison)
6. Kecerdasan Interpersonal (Kemampuan Berhubungan dengan Orang Lain), yang harus Anda lakukan ialah; lakukan aktivitas pembelajaran bersama, belajar kerja sama, memberi banyak waktu bersosialisasi, libatkan diri dalam organisasi, gunakan teknik belajar berpasangan, gunakan keterampilan berkomunikasi, padukan dengan semua mata pelajaran, jadikan proses belajar mengasyikkan, bekerja dengan tim, ajari orang lain, gunakan sebab akibat. (Amien Rais, Hermawan Kertajaya, Jack Ma)
7. Kecerdasan Intrapersonal (Kemampuan Mengeksplorasi diri), yang harus Anda lakukan ialah; lakukan pembicaraan dari hati ke hati, melakukkan pengembangan diri untuk mendobrak rintangan belajar, berpikir dan mendengarkan, lakukan studi mandiri, beri waktu merenungkan diri, dengarkan suara hati Anda dan diskusikan dengan teman, refleksikan apa yang dirasakan atau dipikirkan dalam tulisan, kontrol proses belajar, ajarkan bertanya dan ajarkan penguasaan diri. (Emha Ainun Nadjib, Frans Kafka)
8. Kecerdasan Naturalis (Kemampuan Belajar dari Semesta); bertani atau berkebun sambil mencari cara-cara bercocok tanam yang baru, menangani secara langsung baru memahami rahasia dari sesuatu, belajar pada jagad raya, lingkungan dan bumi tentang bermacam-macam hal, menguasai tentang tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti pertanian organik, mengelola lingkungan yang hijau dan Asri, dan mencintai keindahan alam. (Bob Sadino, Fauzi Shaleh).
9. Kecerdasan Otodidaktor (Kemampuan Belajar Sendiri), yang harus Anda lakukan ialah; belajar dari hal-hal kecil dan sederhana, membantu orang lain mendapatkan kemudahan dalam menyerap suatu makna dan hikmah, mengasah intuisi dengan melakukan kontemplasi (perenungan), mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, mempelopori sesuatu yang dianggap baru, senang membaca buku, pengalaman atau kenyataan, menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran dan melakukan kegiatan sosial. (Irwan Hidayat, D Zawawi Imron)
10. Kecerdasan Spritual (Kemampuan Spritualitas), yang harus Anda lakukan ialah; melakukan introspeksi diri terhadap perjalanan hidup yang dijalani, membaca dan mendalami Al-Qu’an/Hadits sebagai sarana mendapatkan ilmu atau hikmah, mendekatkan diri pada Allah melalui dzikir dan ibadah supaya komunikasi berlangsung intensif, dan berupaya mengajar atau memberikan ceramah (KH. Idris Jauhari, Ilham Arifin, Ary Ginanjar Agustian)
Setiap orang sebenarnya memiliki banyak Kecerdasan Berganda melebihi yang disebutkan di atas, hanya untuk kesuksesan pembelajaran, peningkatan karier dan pekerjaan masa depan, perlu memfokuskan diri untuk mendalami satu atau dua Becerdasan Berganda saja dalam kurun waktu tertentu. Ahmad Zamhari Hasan
Metode Mengetahui Kecerdasan Berganda
Lingkari atau silang dua kolom (a,b,c,d,e,f,g,h,i,j ), misalnya a) dan g) yang cocok bagi Anda; kepribadian, pemikiran, prilaku, minat, kesenangan dan keinginan.
1. a) suka membaca buku
b) suka berhitung
c) suka seni, menggambar atau memahat
d) suka menyanyi
e) suka melakukan olahraga fisik
f) suka bekerja sama
g) senang melihat sisi batiniah manusia
h) suka memelihara binatang peliharaan
i) belajar dari buku lebih mudah dari pada melalui orang lain
j) senang membaca Al-Qur’an
2. a) suka ceramah atau pidato
b) suka pada ketepatan
c) suka menggunakan metavora (perbandingan)
d) sensitif (peka) terhadap nada
e) memiliki kontrol terhadap obyek/sasaran
f) pintar berhubungan dengan orang lain
g) selalu melakukan penilaian terhadap diri sendiri
h) dapat mengenali dan menamai pohon, tumbuhan, dan bunga yang beragam
i) memiliki ego yang tinggi
j) suka mempelajari sejarah para Nabi atau Ulama’
3. a) berpikir sistematis (runut atau teratur)
b) suka berpikir menggunakan angka
c) berpikir dengan gambar
d) sensitif terhadap warna nada musik
e) berpikir mekanik ( seperti putaran mesin )
f) mampu membaca maksud hati orang lain
g) memiliki perasaan yang kuat
h) menyukai pengetahuan tentang tubuh bekerja dan kesehatan
i) berpikir radikal atau ekstrim
j) berpikir melingkar
4. a) mampu berargumentasi (berpendapat dengan alasan kuat)
b) menyukai keadaan yang teratur
c) mudah membaca peta, grafik dan diagram
d) sensitif terhadap kekuatan emosi musik
e) belajar dengan bergerak lebih menyenangkan
f) menikmati berada di tengah-tengah orang banyak
g) memiliki kesadaran terhadap kemampuan diri
h) suka bertani atau memancing
i) menyukai keadaan yang tidak teratur
j) memahami tanda-tanda dari fenomena alam
5. a) teratur dalam melakukan berbagai hal
b) suka berpikir logis (masuk akal)
c) memiliki indera warna yang hebat
d) sensitif (peka) terhadap susunan musik yang rumit
e) memiliki respon dan reflek yang bagus
f) memiliki banyak teman
g) peduli pada tujuan hidup
h) senang bekerja di kebun atau halaman rumah
i) memiliki insting (naluri yang alami) yang bagus
j) memiliki indera keenam yang bersifat spiritual
6. a) Memiliki kemampuan menulis
b) sangat suka bermain angka di komputer
c) mengingat berdasarkan gambar lebih mudah
d) mampu membuat lirik/syair/puisi
e) mahir dalam kerajinan tangan
f) mampu berkomunikasi dengan baik
g) memiliki motivasi diri yang tinggi
h) berminat pada masalah sosial dan motivasi manusia
i) senang belajar pada hal-hal kecil dan sepele
j) senang shalat dan berdzikir (baik sendiri atau bersama)
7. a) mengeja dengan mudah
b) suka memecahkan masalah
c) menggunakan semua indera untuk membayangkan sesuatu
d) sensitif terhadap irama musik
e) belajar dengan melibatkan diri dalam proses belajar
f) menikmati kegiatan bersama
g) ingin berbeda dari orang kebanyakan
h) senang informasi tentang jagad raya dan bumi
i) mampu melihat makna sesuatu dari sudut yang berbeda
j) suka berkomunikasi dengan hati nurani
8. a) suka permaianan kata-kata
b) senang melakukan percobaan-percobaan ilmiah
c) Mampu menggambarkan citra mental dalam gambar
d) terkadang suka pada suatu kekuatan di luar dirinya
e) gampang mengingat yang dilakukan bukan yang dikatakan
f) mampu bernegoisasi (tawar menawar) dengan baik
g) amat sadar pada kekuatan dan kelemahan diri
h) menyenangi isu lingkungan hidup dan pemanasan global
i) senang mengajar atau membantu orang dengan ilmu
j) menjadi orang yang paling bermanfaat sebagai prinsip hidup
9. a) punya ingatan tajam tentang hal-hal sepele
b) suka mencatat secara teratur
c) suka menonton film atau drama
d) menyenangi alat musik tertentu (gitar, suling atau gendang)
e) resah jika tidak melakukan apa-apa
f) suka menengahi pertengkaran
g) sadar diri
h) suka pada lingkungan asri dan alami
i) senang mempelopori hal-hal baru
j) melakukan segala sesuatu karena mengharap ridha Allah
10 a) senang belajar Bahasa
b) senang belajar Matematika atau Logika
c) senang belajar Melukis
d) senang belajar Seni Musik
e) senang belajar Ilmu Terapan atau Teknik
f) senang belajar Ilmu Sosial
g) senang belajar Humaniora (kemanusiaan)
h) senang belajar Ilmu Alam
i) senang belajar sendiri ilmu-ilmu yang bermanfaat
j) senang belajar Ilmu Agama
Sekarang hitung berapa jumlah masing masing kolom
a) ......... Kecerdasan Linguistik
b) ........ Kecerdasan Matematis Logis
c) ........ Kecerdasan Visual Spasial
d) ........ Kecerdasan Musikal
e) ........ Kecerdasan Kinestetis
f) ........ Kecerdasan Interpesonal
g) ........ Kecerdasan Intrapersonal
h) ........ Kecerdasan Naturalis
i) ........ Kecerdasan Otodidaktor
j) ........ Kecerdasan Spritual
“Orang mencari guru ke sana ke mari, malah ada yang melakukan perjalanan dengan jalan kaki mulai Cirebon sampai ujung pulau Madura, padahal guru ada di mana-mana, pada siapa saja, asal mampu membaca dengan cerdas melalui pandangan yang terbuka.” Ahmad Zamhari Hasan
Manfaat memahami berbagai Gaya Belajar dan Kecerdasan Berganda adalah:
1. Untuk dapat belajar dengan mudah, dan memudahkan Anda menerapkan prinsip BO seumur hidup, sebab telah mengetahui cara yang paling efektif dan mudah.
2. Untuk mengendalikan hidup Anda. Semua orang memiliki gaya unik, menurut Dr. Robert Sternberg sebagai gaya mengatur. “Cara yang disukai siswa dalam menggunakan kecerdasan mereka,” katanya “sama pentingnya dengan kumpulan kecerdasan itu sendiri.” Sebenarnya semua orang perlu mengatur aktivitasnya sendiri. Dan dalam melakukannya, mereka akan memiliki gaya pengaturan diri yang membuat mereka nyaman. Otak, perasaan dan hati mengendalikan aktivitas seperti pemerintah; legislatif (menciptakan, menfungsikan, membayangkan dan merencanakan), ekskutif (penerapan dan tindakan) yudikatif (penilaian, evaluasi dan perbandingan). Pemerintah mental ini melibatkan ketiga fungsi, setiap orang memiliki salah satu yang dominan.
3. Untuk guru dan orang tua; mereka bisa memahami bermacam-macam Gaya Belajar dan Kecerdasan Berganda yang dimiliki anak didik atau anaknya, sehingga bisa melayani semua perbedaan yang ada sesuai kebutuhan. Bagi orang tua bisa menghilangkan kasih sayang berlebihan pada salah satu anak karena ternyata mereka semua berpotensi atau memiliki kecerdasan berbeda sesuai dengan gaya masing-masing, hanya masalahnya belum dioptimalkan.
4. Bagi yang menekuni suatu profesi tertentu, menguasai kecerdasan berganda akan membantu menangani kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat menekuni pekerjaan, sebab diri telah memahami kecerdasan berganda yang dimiliki.
5. Bagi yang berwirausaha, hal ini membantu memudahkan mereka untuk menemukan gaya uniknya dalam bekerja, memberikan cara yang tepat menangani masalah-masalah yang timbul, menumbuhkan kreativitas, inovasi dan terobosan baru yang dibutuhkan.
Hal di atas membuktikan firman Allah “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At Tin; 4)
Beberapa Langkah Penting Agar Sukses (BO)
“Barang siapa berpegang teguh pada akalnya semata, niscaya dia akan sesat, barang siapa mencari kecukukan melalui harta bendanya, niscaya dia akan menjadi kekurangan; dan barang siapa yang mencari kemulyaan makhluk, niscaya dia akan terhina.” Ahli Hikmah
Supaya berhasil dalam BO, maka perlu empat langkah tambahan yakni meruntuhkan Tembok Mental penghalang dengan membangun Mental Baru, menumbuhkan sikap Percaya Diri, Merumuskan Cita-Cita dengan benar dan Cara Mengatasi Masalah.
Meruntuhkan Tembok Mental Untuk Belajar
1. Saya ini bodoh
2. Belajar itu sulit
3. Belajar itu tidak menyenangkan jadi harus dijauhi
Membangun Mental Baru agar Behasil dalam Belajar
1. Saya meyakini sebagai orang yang cerdas dan pintar
2. Belalar itu mudah asal mengetahui caranya
3. Belajar itu menyenangkan jika mampu mensiasatinya
“80 persen kesulitan belajar berhubungan dengan stress. Singkirkan stress, Maka Anda menyingkirkan berbagai kesulitan,” Gordon Stokes
Tips supaya percaya diri menurut Gordon Dryden & Jeannete Vos
1. Keselamatan dari bahaya fisik
2. Identitas diri; siapa aku? Untuk apa aku hidup? Apa yang harus kulakukan?
3. Keamanan emosi dari intimidasi dan rasa takut
4. Afiliasi ; memiliki harga diri dan martabat
5. Misi ; hidup memiliki tujuan dan arah
6. Keahlian di suatu bidang ilmu dalam kurun waktu minimal 3 tahun, lalu memperdalam bidang ilmu lainnya, sehingga memiliki beberapa keahlian.
Tips Mencapai Cita-Cita
1. Menulis cita-cita besar yang diraih
2. Meniti Tangga Sekolah sampai berhasil; Akademis dan Belajar Otodidak (BO)
3. Melakukan hal-hal kecil dalam hidup seperti; membaca/menulis 1 jam tiap hari, membantu orang lain sesuai kemampuan, dan beribadah dengan taat sebab kembali pada masing-masing individu.
4. Menjalani hidup sederhana dan apa adanya
Tips Mengatasi Masalah 5 M
1. Mencari konpensasi positif; berlari, mandi berlama-lama, olah raga dan main Games
2. Melihat masalah dengan cerdas; banyak yang lebih sengsara dari Anda, tapi Anda tetap mampu menjalani kehidupan, contoh; korban Tsunami Aceh.
3. Menghadapi masalah dengan kreatif; menulis dalam puisi, cerpen, novel dan buku
4. Mengadukan masalah pada Allah lewat shalat Tahajjud dan dzikir
5. Menyelesaikan masalah dengan; mempersempit masalah, menemukan jalan keluar terbaik dan menjalankannya dengan segala resiko.
Memiliki Kompetensi Pendukung
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq; 1-5)
Dalam menjalani kehidupan abad 21 ini, kita perlu memiliki beberapa keterampilan atau kompetensi, dalam kaitan dengan pembelajaran, paling tidak harus memiliki 3 kompetensi; memahami cara membaca buku secara kreatif, mengerti cara-cara menulis, dan mampu berkomunikasi yang bisa mempengaruhi orang lain.
Membaca buku secara kreatif
• Memilih buku bacaan
• Baca kata pengantar dulu, baru daftar isi, dan pendahuluan, hal ini agar kita memperoleh gambaran umum dari buku.
• Selesaikan bacaan secara utuh
• Baca ulang secara cepat dengan membuat garis bawah
• Menulis kesimpulan secara acak dalam komputer atau buku tulis.
• Mengatur tulisan menjadi teratur atau sistematis dan memberikan penjelasan
• Membuat tulisan dengan judul baru
• Melakukan telaah kritis pada beberapa kesimpulan
• mempraktikkan apa yang diketahui
Menulis yang kreatif
• Membiasakan diri mencatat setiap kali mendapatkan ide, ilham, sesuatu yang baru
• Mengulas ide yang ada dengan mengaitkan informasi dengan pengalaman
• Membaca buku yang berhubungan dengan sesuatu yang hendak ditulis
• Mencari informasi tambahan di internet
• Melakukan studi kasus atau lapangan untuk mendukung bukti-bukti yang ada
• Menyusun kerangka karangan Menulis berdasarkan kerangka karangan
• Dalam menulis, buat seakan-akan bercakap-cakap dengan pembaca
• Baca ulang atau diedit
• Manfaatkan tulisan dengan mengirim ke media, memberikan pada yang membutuhkan atau menulis Blok di intertet
Komunikasi yang berpengaruh menurut Michael Leboeuf
• Setiap berkomunikasi, mulailah dengan selalu memikirkan tujuan,
• Sesuaikan pesan Anda dengan audiens Anda,
• Berkomunikasi secara positif dengan menghindari pembicaraan sia-sia, apalagi negatif
• Menarik dan mempertahankan perhatian mereka pada Anda,
• Membangun kepercayaan dengan membangun komunikasi yang jujur dan membina hubungan baik,
• Mengunakan prinsip KISS (Keep it short and simple), semakin pendek dan sederhana pesan Anda, semakin besar pengaruhnya.
Membentuk Masyarakat masa depan; “Suatu masyarakat pembelajar berkesinambungan dan kreatif analitis dengan keterampilan untuk tidak tergantung secara ekonomi (pentingnya skill kewirausahaan). Suatu masyarakat dimana perolehan produktivitas dibagikan secara adil hingga memungkinkan baik waktu kerja maupun waktu luang menjadi sarana memenuhi potensi personal maksimal.” Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.
Langkah 2 : Menekuni Wirausaha Islam
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda; “Ada tiga faktor sebagai penyelamat dan tiga faktor perusak…. Adapun tiga faktor penyelamat adalah takut pada Allah dalam kesunyian dan keramaian; bersahaja baik dalam kondisi faqir maupun kaya; berlaku adil di waktu senang dan marah. Tiga faktor perusak adalah teramat kikir, mengikuti hawa nafsu, dan membanggakan diri senditi…”
Sejarah adalah sebuah perputaran zaman, pada setiap zaman muncul suatu kekuatan yang menguasai ekonomi dunia; zaman kuno dikuasai Funisia atau Mesir, Yunani dan Romawi, abad 5-7 Byzantium sebagai pusat perdagangan (untuk tingkat Asia Tenggara, Sriwijaya berkuasa abad ketujuh selama 600 tahun), Arab Islam memegang kendali pada abad 7-14, dilanjutkan dengan Eropa; Belgia dan Belanda, Itali, Prancis, Jerman, Inggris, setelah perang dunia kedua muncul Uni Sofyet, Jepang, Inggris dan AS sebagai kekuatan baru, akhir abad kedua puluh dan awal abad 21 sang penguasa tinggal AS sendirian memimpin dunia dengan sewenang-wenang meski Jepang dan Eropa tetap kuat, sedang Uni Soviet hancur karena salah mengelola ekonomi meski kini Rusia mulai menggeliat, pada awal abad 21 muncul kekuatan baru yakni China, Singapura dan India, bahkan China diperkirakan mampu mengimbangi AS pada tahun 2020, pertanyaannya, kemanakah Indonesia yang kaya dengan kekayaan alam? Menunggu 2050, nggak terlambat? Mari kita mulai saat ini, dengan pelatihan yang akan ditindaklanjuti praktik langsung dalam mengelola usaha!
“Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dan kerja, adalah kunci-kunci sukses baru menuju masa depan,” laporan Scans.
Realitas kehidupan masa kini menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl;
• Dunia berubah dengan laju semakin kencang
• Kehidupan, masyarakat, dan perekonomian, menjadi lebih kompleks
• Sifat dasar pekerjaan berubah dengan cepat; pertanian, industry, jasa dan informasi
• Jenis-jenis pekerjaan menghilang dengan kecepatan tak terbayangkan
• Inilah zaman ketidakpastan
Makna Wirausaha Islam
Entrepreneur adalah seseorang yang mengelola usahanya dengan mengatur sedemikian rupa supaya memperoleh keuntungan, dengan menanggung resiko, usaha tersebut dikelola sebaik-baiknya menggunakan segala sumber daya yang dimiliki, sehingga bisa tumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Wirausahawan dianggap berhasil, apabila mampu meningkatkan diri dari usaha kecil menjadi usaha menengah, syukur-syukur meningkat lagi menjadi usaha elit. Intinya ialah keberanian berwirausaha apa saja, mengelolanya secara profesional, bekerja keras dan cerdas.
Sedang Wirausaha Islam ialah pengelolaan usaha yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, tentu saja dikontekstualisasikan dengan era global atau informasi seperti yang kini berlangsung. Contoh yakni Fauzi Sholeh pemilik perumahan Pesona Depok dan Pesona Kahyangan yang berhasil karena menerapkan Manajeman ‘Azm dan tawakkal.
Perpaduan Antara ‘Azm dengan Tawakkal
Makna ‘Azm; usaha fisik, pikiran, perasaan, kesadaran dan hati. Usaha fisik bukan hanya kerja keras, melainkan juga cara mengatur waktu, menggunakan waktu minimal 42 jam dalam seminggu untuk usaha (7 jam setiap hari dengan 1 hari libur), dan memanfaatkan peluang sebaik-baiknya, juga ketekunan dalam mengelola usaha. Pikiran bermakna; melakukan kalkulasi terhadap usaha yang dikelola, merancang strategi yang tepat dan sesuai, membaca perubahan dan keadaan dengan cerdas, dan melakukan pencatatan agar diketahui penghasilan dan pengeluaran. Perasaan harus dicerdaskan dengan menjalin hubungan yang harmonis, berkomunikasi yang baik, semangat pantang menyerah, mental baja merasakan berbagai situasi, menjadikan krisis atau keterpurukan sebagai kesempatan, bersaing secara sehat. Semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, alam bawah sadar dimanfaatkan dengan relaksasi setelah lelah berusaha. Huruf “fa” dalam ayat di atas bermakna hati nurani, yang disucikan dengan memperbanyak istigfar, sehingga dapat bertawakkal dengan benar. Nabi Muhammad SAW membaca 100 Istigfar setiap hari, kita umatnya selayaknya membaca 1000 Istigfar atau minimal 100X setiap hari secara istiqomah seumur hidup.
Sedang tawakkal diwujudkan dalam banyak aspek; shalat karena butuh, memperkuat dengan Tahajjud, Dhuha dan Hajat, membaca surat Waqi’ah sehari sekali, bersedekah, berdoa hanya pada Allah dengan yakin, dan berdzikir. Menjalankan shalat lima waktu bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan sebagaimana kita membutuhkan makan, menyesal rasanya jika tidak shalat. Shalat Hajat, Dhuha dan Tahajjud telah dibuktikan intelektual dan pengusaha Muslim sebagai sarana mendukung upaya mereka dalam meraih keberhasilan. Surat waqi’ah berisi beberapa pertanyaan kritis Allah pada manusia tentang pencipta dan pengatur segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, sebuah ajakan untuk bertawakkal. Bersedekah dapat membantu kelangsungan usaha, sebab akan mendapatkan simpati dari orang lain, sekaligus Allah akan menambah rizki orang yang rajin bersedekah secara ikhlas. Berdoa hanya pada Allah untuk meminta dimudahkan dan dimurahkan rizki, sehingga usaha yang optimal menghasilkan sesuatu yang optimal pula. Dzikir sebagai bentuk tawakkal terakhir untuk mensinergikan usaha dengan tawakkal.
Sebagai Bukti, Aa Gym awalnya memulai usaha dengan menjadi pedagang buku, pedagang bakso dan baru merintis “bengkel akhlak sederhana,” berhubung Aa Gym konsisten menerapkan ‘Azm dan tawakkal, maka dari pedagang buku menjadi unit usaha MQ, dan dari “bengkel akhlak” menjadi Pesantren Daarut Tauhied, bahkan merambah unit-unit usaha lainnya. Dalam konteks ini, Aa Gym berhasil memperoleh “jatah” rizkinya, malah karena konsistensi tinggi dan pengabdian pada Islam melalui ceramah agama, Allah menambah “jatah” rizkinya melebihi yang dibayangkan sebelumnya.
“…apapun yang tengah dijalani saat ini –profesi apa pun- semestinya harus dianggap yang terbaik, oleh karena itu, ia harus pula dikelola secara profesional, secara sungguh-sungguh.” Elvyn G Masassya
Membuat visi dan misi yang sederhana dalam mengelola usaha, misal, Visi; membuat unit usaha makanan yang tiada banding kelezatannya dengan harga terjangkau, Misi; menjadikan makan sebagai gaya hidup baru yang menyenangkan sesuai dengan cara-cara yang Islami.
Menetapkan Tujuan dan Prioritas menurut Michael Leboeuf
Menetapkan tujuan-tujuan Anda sendiri; bisnis, karier, dan hidup.
Menulis tujuan-tujuan Anda
Merumuskan tujuan-tujuan yang menantang namun tetap berkemungkinan untuk dicapai
Sebuah tujuan harus dapat diukur, sebagai contoh; berapa penghasilan perbulan yang ingin dicapai, berapa yang terjual dalam kurun waktu tertentu, berapa besar presentase penjualan, antara biaya dengan pemasukan lebih besar pemasukan.
Tujuan-tujuan Anda harus sejalan dengan pernyataan visi dan misi Anda
Menetapkan prioritas tujuan sangat penting, dan berupaya menjalankan sebaik-baiknya
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan …..” (QS Ar-Ruum;8)
Cara Sukses Berwirausaha Islami
Dalam rangka meraih keberhasilan pengelolaan wirausaha Islam, maka dibutuhkan beberapa hal yakni mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan, memahami cara sederhana memperluas jaringan, dan berusaha menjadi kaya dengan cara-cara yang Islami.
Penerapan nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan
Kejujuran sebagai modal utama; nilai modal kejujuran unlimited (tak terhingga), ingat Nabi Muhammad sukses dengan nilai ini.
Berani memulai usaha dari nol dengan tanpa mengenal kata gagal, gengsi, takut, menyerah, dan malas.
Perhitungan pangkal kaya dan sukses; cara mengelola keuntungan sama pentingnya dengan besarnya keuntungan yang diperoleh, artinya atur keuangan dengan baik.
Mengembangkan usaha terus menerus; terkadang usaha kembang kempis, mampu bertahan, mengalami kemajuan, stagnan atau jalan di tempat, dan terkadang hampir bangkrut, maka dengan prinsip belajar dan terus menerus mengembangkan sumber daya yang ada, insya Allah dapat diatasi
Bangga dengan kesuksesan orang lain membuat Anda bahagia menjalani hidup
Bersabar dalam menekuni usaha
Membayar hak pekerja atau karyawan tepat waktu dan memberikan insentif
Konsumen adalah raja yang dilayani super terbaik
Kreatif dalam mengelola usaha, tidak pernah berhenti untuk melakukan terobosan-terobosan baru yang diperhitungkan dengan matang
Mengelola Hutang Piutang dengan benar
Bekerja dengan cerdas; artinya dalam bekerja senantiasa memanfaatkan pikiran/imajinasi
Sedekah pendukung utama kesuksesan usaha, hal ini sudah dibuktikan kebenarannya
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah 261)
Cara memperluas jaringan menurut Mechael Le Bouf;
Mempersiapkan sejumlah kartu nama, nomor Hp/telepon, dan email,
Mencari unit usaha lain yang saling melengkapi dengan usaha yang sedang dikelola, misalnya pendakwah, pengajar, dan pengusaha sukses,
Bekerja sama dengan para pesaing yang mau dan mampu bersaing secara sehat merupakan peluang untuk memperluas jaringan dengan cara saling merekomendasikan pada pelanggan atau konsumen,
“Segala yang berputar akan kembali” kalau ingin memperoleh refrensi, maka harus merefrensikan orang lain.
Menghadiri beberapa pertemuan /undangan atau silaturrahmi untuk memperluas jaringan dan menambah teman baru, pastikan mendapatkan kontak penting dan refrensi dari orang-orang yang hadir,
Bergabung dalam kelompok sosial, kelompok dunia maya atau keagamaan
Memperluas hubungan lewat dunia Maya dengan tetap berhati-hati
Menjadi Kaya dengan cara yang Islami
1. Berpegang teguh pada nilai-nilai dan ajaran Islam
2. Membuka cakrawala berpikir bahwa rizki Allah luas
3. Memiliki kepribadian yang baik
4. Memiliki jiwa Wirausaha yang tahan uji
5. Memiliki mental baja yang terasah dengan masalah dan krisis
6. Mengatur waktu dengan baik
7. Melakukan differensiasi usaha yang beragam
8. Membaca perubahan yang terjadi, melakukan langkah-langkah tepat
9. Mampu mengelola informasi menjadi bahan produktif
10. Menjadikan usaha yang dikelola sebagai anugerah Allah terbaik
“Allah menyayangi orang yang bersikap murah hati, baik ketika menjual, membeli atau menagih (hutang).” (HR. Bukhari)
Tes Wirausaha Islam
Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang sesuai dengan kepribadian, prilaku, kebiasaan, dan tidak boleh berbohong demi kepentingan Anda sendiri.
1) Mau memulai usaha dari nol
2) Mau memulai usaha dengan modal besar
3) Mau mengembangkan usaha yang ada
1) Saya akan membayar gaji atau upah bekerja dengan lebih baik, malah ditambah bonus
2) Saya akan menunda pembayaran gaji pekerja demi mengembangkan usaha
3) Saya akan membayar gaji pekerja sesuai UMR (Upah Minimum Regional)
1) Prinsip bisnis menggabungkan antara kelancaran dan keuntungan
2) Prinsip bisnis keuntungan besar
3) Prinsip bisnis kelancaran usaha
1) Menggunakan cara-cara berwirausaha yang sesuai ajaran agama
2) Menghalalkan segala cara
3) Tidak peduli sesuai ajaran agama atau tidak
1) Kejujuran sebagai modal utama
2) Uang sebagai modal utama
3) Keahlian sebagai modal utama
1) Menjadikan pesaing sebagai partner bisnis
2) Menjadikan pesaing sebagai musuh yang berusaha disingkirkan
3) Menjadikan pesaing sebagai sarana pembelajaran
1) Senang berhubungan dengan siapa saja
2) Senang berhubungan dengan orang yang berkepentingan saja
3) Senang berhubungan dengan orang yang mendatangkan keuntungan
1) Mengembangkan usaha sesuai situasi dan kondisi
2) Mengembangkan usaha dengan cepat dan terburu-buru
3) Mengembangkan usaha perlahan-lahan
1) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan peluang untuk maju
2) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan penyebab kegagalan
3) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan sarana untuk berkembang
1) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu secara sukarela
2) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu secara terpaksa
3) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu sebagai tanggung jawab sosial
1) Senantiasa berusaha optimal dan bertawakkal pada Allah secara seimbang
2) Mengandalkan usaha dan kemampuan diri saja untuk berhasil
3) Usaha lebih banyak dan kuat dibanding tawakkal (ibadah spritual dan sosial)
1) Riski Allah sangat luas di seluruh jagad raya
2) Rizki Allah terbatas yang ada di sekitar lingkungan kita saja
3) Rizki Allah seluas negara Indonesia di Nusantara
1) Mencari rizki guna menjalani hidup yang lebih baik di dunia dan akhirat
2) Mencari rizki untuk menjadi orang yang kaya raya
3) Mencari rizki guna memenuhi kebutuhan hidup sendiri, keluarga dan masyarakat
1) Bersabar dalam keadaan usaha susah, krisis, stagnan (jalan di tempat), dan maju
2) Menggerutu dan menyalahkan orang lain jika bisnis menurun atau stagnan
3) Bersabar jika bisnis menurun dan stagnan
1) Mengelola usaha dengan menggabungkan teori bisnis dengan praktik
2) Mengelola usaha asal-asalan (yang penting jalan)
3) Mengelola usaha berpekal pengalaman dalam praktik bisnis saja
Nilai tes; 1. a) 10 poin
2. b) 5 poin
3. c) 7 poin
4. Coba kalikan jumlah poin Anda; …………. X …………….. = ……………….
Jika memiliki Poin antara 100-150 berarti Anda di jalur yang benar untuk menjadi Wirausahawan Muslim yang sukses, tapi jika memiliki poin 100 ke bawah, Anda harus introspeksi diri sekaligus melakukan pembenahan dalam bertingkah laku dan mengelola usaha, sebagai alternatif Anda bisa bekerja pada orang lain dalam mencari penghasilan, sebab hal ini lebih aman dengan resiko kecil.
“Apabila engkau menghendaki suatu urusan, maka hendaklah dilakukan dengan pelan-pelan, sehingga Allah melapangkan (mental) dan menemukan jalan keluar.” (Ibnul Mubarok)
Makroprenuer dan Nilai-Nilainya
Makroprenuer yakni menekuni pekerjaan yang ada sambil mempersiapkan sebuah usaha yang paling disenangi pada masa mendatang, dan meninggalkan yang lama ketika usaha baru telah berjalan dengan baik. Istilah ini dipopulerkan Michael Le Bouf. Berhubung untuk menjadi makroprenuer butuh perubahan terhadap diri sendiri, maka perlu memahami tentang perubahan dalam mengelola usaha dan nilai-nilai makroprenuer supaya berhasil. Makropreneur juga cocok bagi yang bekerja pada orang lain, tapi merasa tidak aman karena pemecatan atau PHK, pekerjaan yang ditekuni tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh, tidak puas dengan gaji yang diperoleh, dan ingin menikmati tantangan baru dalam hidup.
Perubahan Usaha menuntut 5 hal (Rhenald Kasali);
• Visi tentang arah depan (Vision)
• Keterampilan (Skills) untuk mampu melakukan tuntutan baru, keterampilan ini harus terus dipelihara, ditumbuhkan dan dikembangkan
• Insentif yang memadai (Insentives), baik langsung maupun tidak langsung, cash non-cash, individual maupun kelompok.
• Sumber daya (Resources) yang memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan
• Rencana tindak (Action Plan); rangkaian tindakan yang diintegrasikan dalam langkah-langkah spesifik dan terencana, tertulis dan dimengerti.
Nilai-nilai Makroprenuer.
Menjadikan rumah atau kontrakan sebagai kantor untuk memulai bisnis dengan menyediakan ruang khusus, jam kerja khusus, dan peralatan yang memadai.
Memilih bidang usaha yang menguntungkan sesuai minat masing-masing.
Menjadi pembelajar seumur hidup dan pandai berkomunikasi.
Membidik konsumen, memenuhi kebutuhannya, secara khusus konsumen pertama adalah segalanya, dan mempertahankan hubungan yang baik.
Orientasi usaha fokus pada konsumen, bukan pada ego sendiri.
Ide-ide menarik dan unik banyak sekali yang perlu dicari, dirumuskan dan dituangkan dalam sebuah perencanaan.
Manfaatkan waktu dan energi sebaik-baiknya untuk keberhasilan usaha.
Menguasai peralatan teknologi yang benar-benar dibutuhkan dalam mengelola usaha.
Berkaca pada orang yang telah berhasil di bidang usaha yang ditekuni.
Perlu bekerja sama dengan pakar keuangan, mentor, kolega profesional jika sudah maju.
Dalam menekuni usaha di atas dilakukan dengan penuh kesabaran dan daya tahan yang luar biasa.
Ketika berhasil mengelola usaha, tentu Anda meningkat menjadi bos, baik skala kecil atau besar, untuk itu perlu bekal tambahan cara menjadi bos yang baik dengan memahami Level of Leadership menurut (Rhenald Kasali);
• Level 1; posisi Anda jadi bos karena SK, berfungsi sebagai manager yang bekerja dengan system dan senang memerintah pada bawahan.
• Level 2; permission (Relationship); memimpin dengan hati, membangun kasih sayang tanpa memandang persamaan atau perbedaan, dan menganggap karyawan atau pekerja sebagai partner bukan bawahan.
• Level 3; production (result) pemimpin yang berorientasi pada hasil bukan prosedur, pekerja atau karyawan dihargai karena prestasi kerja. Pemimpin yang mampu = good company
• Level 4; People Development, pengembagan sumber daya manusia & personhood guna menghadapi kompleksitas zaman dan menuju usaha yang great company
• Level 5; Personhood, pemimpin yang memiliki jati diri yang dibentuk oleh karakter yang kuat, sehingga siapa saja respek bukan hanya atas apa yang telah ia berikan (personal) atau manfaatnya, melainkan karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut.
Anda awalnya bertindak sebagai bos yang memerintah dengan seenaknya, hal ini kurang baik, untuk itu tingkatkan pada level 2 yakni bertindak sebagai partner bisnis terhadap karyawan atau pekerja, namun supaya usaha menguntungkan perlu orientasi pada hasil, inilah inti level 3. Agar perusahaan meningkat menjadi Good Company atau perusahaan baik, level ke 4 harus ditempuh, sedang jika ingin menjadi perusahaan yang hebat Great Company, level ke 5 menjadi keniscayaan.
Percayalah! Nilai-nilai yang kontekstual dengan era Global seperti; kejujuran, kegigihan, ketekunan, inovasi, kreativitas, pelayanan super terbaik, kepribadian yang baik, mental baja, entrepreneur atau makropreuer dan dermawan, hakikatnya seiring dengan nilai-nilai yang dianut Islam! Ahmad Zamhari Hasan
Langkah 3: Menjadi Mukmin Sejati
“Segala tingkah laku setiap mukmin harus berdasarkan tiga perkara, yaitu; melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ridha pada qodar (taqdir). Sekurang-kurangnya keadaan orang mukmin itu tidak lepas dari salah satu di antara ketiganya. Oleh sebab itu, setiap orang mukmin harus memiliki komitmen dalam hatinya, mendorong jiwanya dan merealisasikan melalui anggota tubuhnya sesuai dengan ketiga hal itu dalam setiap kondisinya.” Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Selama ini Anda berupaya mencapai derajat keimanan yang tinggi atau Mukmin sejati, namun Anda merasa tidak mampu mencapai hal itu. Salah satu masalahnya ialah kemungkinan Anda tidak tahu caranya, belum adanya panduan praktis tentang upaya menjadi Mukmin Sejati dan barometernya belum jelas. Dalam pembahasan ini, insya Allah merupakan jawaban yang tepat dari permasalahan ini. Bahkan, Alhamdulillah Anda dapat mengetahui dalam Tes Mukmin Sejati, sedang dalam keadaan Islam KTP atau Keturunan, Muslim yang sesungguhnya, atau Mukmin Sejati.
Berislam dengan benar
a) Bersyahadat dengan benar; memahami maknanya, meyakini kebenarannya, dan mempraktikkan dalam kenyataan. ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al-Anbiya’;25).
b) Shalat lima waktu sebagai sarana berkomunikasi dengan Allah dan filter bagi setiap individu
c) Puasa merupakan bentuk pengorbanan sekaligus pengontrol hawa nafsu
d) Zakat atau sedekah sebagai sarana mensucikan diri atau harta, bentuk kepedulian dan menciptakan keharmonisan sosial
e) Haji merupakan penyempurna ibadah, bagi yang tidak mampu memperbanyak ibadah dan amal sholeh pada hari Jum’at
f) Dzikir secara khusyu’
g) Membiasakan dalam kehidupan sehari-hari
“Beribadahlah pada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya ia melihatmu,” (HR. Abu Nu’aim/hasan).
Membentuk Kepribadian Mukmin Sejati
Untuk membentuk kepribadian Mukmin Sejati, intinya melakukan 3 hal yakni Menyucikan dari dari sifat-sifat tercela, Penanaman Nilai-nilai Islam dalam kepribadian, dan Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Poin-poin penting tentang hal ini, berasal dari buku, Kajian Lengkap Penyucian Jiwa Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa berdasarkan Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali.
Menyucikan Diri dari Sifat-Sifat Tercela
Ada beberapa hal yang harus disucikan dalam diri yakni; sombong, kafir, munafik, fasik, syirik, riya’, cinta kedudukan dan jabatan membabi buta, dengki, ujub, pelit, angan-angan kosong, Cinta dunia, marah, dan hawa nafsu, serta menutup pintu-pintu masuk setan
Sombong ialah merasa paling hebat dari yang lain, seperti Iblis yang merasa lebih hebat dari Nabi Adam karena diciptakan dari api, sedang Nabi Adam dari tanah. Kesombongan bermuara pada keinginan untuk disebut yang serba paling dan ingin memperlihatkan pada orang lain. “Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar buah dzarrah.” (HR. Bukhari)
Tingatan-tingkatan sombong; sombong pada Tuhan seperti Fir’aun, sombong pada Rasul dengan merasa lebih berhak menjadi Rasul dibanding Nabi Muhammad SAW yang berasal dari manusia biasa, sombong terhadap manusia dengan merasa paling mulia, sedang yang lain hina, merasa selalu berada di atas orang lain dan meremehkan orang.
Kesombongan berasal dari; merasa paling tinggi ilmu yang dimiliki, paling taat dalam beribadah dan beramal shaleh, merasa memiliki garis keturunan terbaik, merasa memiliki fisik yang sempurna, merasa memiliki harta yang banyak, merasa memiliki kekuatan atau kesaktian yang paling hebat, dan merasa memiliki murid atau pengikut terbanyak.
Supaya tidak sombong; mengetahui siapa diri kita dan siapa Tuhan kita, seseorang yang memahami dirinya sendiri akan bersikap tawadhu’, apalagi jika mengenal Allah dengan sebenarnya, membiasakan diri untuk merendah di hadapan orang lain seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, merasa bahwa diri seperti buih di tengah lautan yang luas, dan menyederhanakan sesuatu yang rumit atau sulit. “Kesederhanaan adalah sebagian dari iman,” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Kafir yakni mengingkari Allah dan Rasul yang dapat menggugurkan syariat dan menjerumuskan seseorang pada neraka jahannam. Supaya terhindar dari kekafiran; berkeyakinan pada satu Tuhan yakni Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir yang diutus Allah, meski setiap 100 tahun Allah mengutus seorang mujtahid (pembaharu) Islam.
Munafik terdiri dari pikiran dan perbuatan, munafik secara pikiran yakni apa yang dikatakan tentang keimanannya tidak sama dengan yang diyakini dalam hati (menimbulkan sikap ragu-ragu dalam keimanan), kemunafikan perbuatan apabila apa yang dikatakan tidak sama dengan yang dilakukan dan; suka melanggar janji, suka berbohong, khianat pada amanah, dan melakukan tipu muslihat.
Supaya tidak termasuk orang munafik; bila berjanji ditepati, jujur dalam berbicara dan perbuatan, menjalankan amanah atau tugas dengan penuh tanggung jawab, menjauhi tipu muslihat, berusaha menyesuaikan pembicaraan dengan tingkah laku, lebih banyak berusaha atau berkarya dari berbicara, dan beriman dengan penuh keyakinan.
Fasiq yakni mengerjakan hal-hal yang telah dilarang oleh Allah dan melanggar apa-apa yang diperintahkan. Supaya tidak termasuk orang fasiq; mengerjakan ibadah wajib, mencari rizki yang halal, memakan makanan yang halal, dan menghindari perbuatan maksiat, jika melakukannya cepat-cepat beritigfar.
Syirik yakni menyekutukan Allah dengan yang selainNya, menyifatiNya kepada sesuatu yang tidak berhak diterimaNya. Hindarilah memohon pada kuburan meski kuburan ahli ibadah atau Ulama’, berdoa pada selain Allah, dan lebih percaya azimat atau kesaktian dari pada Allah.
Supaya tidak syirik; jika menjenguk kuburan ahli ibadah atau Ulama’ sekadar sarana mengingat kematian, memotivasi diri mengikuti jejaknya, dan berdoa hanya pada Allah. Membaca La Ilaha Illallah wa muhammadur rasulullah setiap hari minimal 33X setiap hari, dan membaca surat Al-Ikhlas selesai Al-Fatehah dalam shalat lima waktu.
Riya’ yakni melakukan ibadah atau dzikir dengan mengharap pujian dan imbalan. Tingkatan-tingkatan riya’; melakukan ibadah tanpa tujuan sama sekali, kecuali ingin dipuji orang, orang yang beribadah dengan mengharap pahala dan pujian dengan mengharap pujian lebih besar, orang yang beribadah karena mengharap pahala dan pujian sama besar, orang yang apabila dilihat orang beribadah lebih rajin dibanding beribadah sendirian.
Perbuatan-perbuatan Riya’ atas ibadah; riya’ atas keimanan yakni dimulut mengaku Muslim padahal di hati hakikatnya seorang musrik/kafir/munafik, riya’ atas ibadah fardhu biasanya dilakukan orang bodoh, riya’ atas shalat sunnah dilakukan orang ‘Alim.
Tujuan-tujuan Riya’; kemaksiatan, misalnya orang yang kelihatan wara’ supaya dipuji orang semata, melakukan ibadah supaya mendapat imbalan yang halal, melakukan sesuatu karena khawatir orang lain memberikan penilaian yang buruk.
Supaya tidak Riya’; melepaskan riya’ sampai ke akar-akarnya dengan melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah dan melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi, dan mencegah akibat-akibat dari penyakit riya’ ketika beribadah yakni menghindari bisikin-bisikan setan dan rayuan hawa nafsu.
Cinta kedudukan dan jabatan secara membabi buta, membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mencapainya, termasuk menggadaikan agama yang dianut, tapi bagi orang yang memiliki kecakapan sebagai pemimpin seperti nabi Yusuf, Umar bin Khattap dan Umar bin Abdul Aziz dianjurkan untuk tampil dengan syarat demi kemaslahatan umat Islam dan manusia secara keseluruhan bukan demi tujuan pribadi.
Dengki; mengharapkan hilangnya kebahagiaan atau kenikmatan dari orang lain. “Dengki dapat memakan kebaikan (kebahagiaan) sebagaimana api memakan kayu bakar,” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah). Macam-macam dengki; tidak senang pada kenikmatan yang diperoleh orang lain dan mengharapkannya hilang (hasad), keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang sama dengan orang lain (ghabthah) atau melebihinya (munafasah/ persaingan) yang dilakukan dengan cara-cara tercela, untuk persaingan yang baik tidak termasuk hal ini.
Tidak ada kedengkian kecuali terhadap dua perkara; “seorang yang diberikan harta dan digunakan di jalan yang benar, dan seorang yang diberikan ilmu dan ia mengamalkan serta mengajarkan pada orang lain.” (HR. Bukhari Muslim)
Supaya tidak dengki terhadap orang lain; merasa senang dengan kebahagiaan orang lain siapa tahu dapat mengambil manfaat darinya, ketika timbul rasa dengki cepat-cepat beristigfar dan menghilangkannya agar tidak tertanam dalam jiwa, tawadhu’ atau rendah hati di hadapan siapa saja, menerima apa yang diperoleh apa adanya, malah penuh rasa syukur, dan ridha pada taqdir Allah baik atau buruk.
Ujub atau membanggakan diri sendiri, egois yang salah kaprah dan cepat merasa puas dengan apa yang telah diperoleh atau dicapai. “…janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS An-Najm;32) Zaid bin Aslam berkata; “Jangan meyakini apa yang kamu kerjakan itu telah sempurna karena itulah yang dinamakan ujub.”
Sifat ujub berasal dari perasaan bahwa dirinya telah menjadi manusia sempurna. Idlalu ‘amal ialah seseorang yang merasa memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, sehingga merasa berhak mendapatkan segala kenikmatan dari Allah atas amal atau ibadah yang telah dilakukan, dan tidak menyukai segala perkara yang tidak disukainya.
Ujub terbagi dalam; bangga atas kecantikan atau ketampanan, keindahan suara, dan semua hal yang berkaitan dengan fisik, bangga atas kemampuan atau kekuatan yang dimiliki, bangga atas kepintaran atau kecerdasan yang dimiliki, bangga atas garis keturunan yang berasal dari orang alim, penguasa, orang kaya atau ningrat, bangga karena memiliki banyak keturunan, pembantu dan sanak famili, bangga atas harta yang dimiliki, dan bangga atas pendapat sendiri, padahal keliru atau salah.
Supaya tidak ujub yakni melakukan yang sebaliknya, jika merasa pintar timbulkan bahwa diri bodoh, jika merasa paling taat beribadah, di luar sana masih banyak yang lebih taat, malah Malaikat beribadah setiap detik, jika merasa ujub karena usaha sendiri, coba selidiki dari mana asal semua potensi yang dimiliki manusia, ternyata berasal dari Allah, jadi untuk apa merasa bangga, mempelajari Al-Qur’an atau Sunnah untuk mencari sandaran atas suatu masalah, bersandar pada akal budi yang sehat, dan bertanya pada orang yang lebih alim dan bijaksana.
Pelit ialah tidak mau menggunakan hartanya walau membutuhkan atau tidak mau menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang lain. Pelit merupakan sifat yang menghalangi terciptanya persaudaraan, kehidupan masyarakat yang harmonis, dan saling tolong menolong. “Jauhilah sifat pelit, karena sifat ini telah mengajak umat-umat sebelumnya, sehingga mereka saling menumpahkan darah, menodai kehormatan, dan memutuskan silaturrahmi.” (HR. Hakim) “Tidaklah masuk ke surga orang yang pelit, penipu, pengkhianat dan berperangai buruk.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Tingkat pelit tertinggi; menahan harta yang dimiliki padahal dirinya membutuhkan, seperti sakit tidak mau berobat.
Tingkatan-tingkatan dermawan; itsar yakni mementingkan orang lain, dengan memberikan sesuatu yang sebenarnya dibutuhkannya, sifat ini dimiliki Rasulullah dan Abu Bakar r.a, Umar, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, as-sukha memberikan sesuatu yang tidak ia perlukan, melaksanakan wajib bis syar’i (membayar zakat dan berkurban), wajib bil muru’ah (kebiasaan/ iauran, selamatan, dan sedekah).
Supaya tidak pelit; manusia hidup pasti mati, maka untuk apa bersikap pelit, menjauhkan angan-angan yang berlebihan untuk kebutuhan yang akan datang, melakukan perenungan terhadap akibat-akibat buruk dari sifat pelit, melatih diri untuk mengutamakan orang lain dari diri sendiri, meyakini bahwa bersedekah justru membuat kaya harta dan hati.
Ghurur (angan-angan kosong) hidup dalam dunia khayal bukan kenyataan. Imam Ghazali sebenarnya telah menyusun kriteria ghurur ini sesuai zamannya, namun dalam kesempatan ini, hamba Allah berusaha menjelaskan sesuai keadaan sekarang.
Ingin menjadi orang yang sukses, padahal pemalas dan mudah menyerah pada keadaan. Merasa paling pintar, padahal jarang membaca teks dan kehidupan. Merasa menjadi orang yang suci, padahal sering berbuat maksiat, beribadah karena mengharap imbalan, dan berdzikir di depan banyak orang saja. Ingin shalat di bulan atau planet Mars, padahal tidak pernah melakukan penelitian mendalam untuk sampai ke bulan atau planet Mars. Berangan-angan menjadi orang yang hebat dan terkenal, tapi menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Melakukan musafir di jalan Allah karena kesaktian dan kedigdayaan. Hijrah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tapi tetap melakukan kemaksiatan dan kemunkaran. Mengajak orang lain berbuat baik, padahal diri sendiri tidak pernah melakukan. Merasa mampu mencapai derajat ma’rifatullah (mengetahui Allah dengan mata hati) dan musyahadah (menyaksikan Allah langsung), padahal sebenarnya belum mampu mencapainya.
Supaya tidak ghurur ialah berangan-angan sesuatu yang mungkin, berusaha mewujudkan angan dalam kenyataan, melakukan sesuatu yang ada di depan mata, menjalani kehidupan apa adanya, berusaha menjadi orang yang suci lahir dan batin, melakukan musafir dan hijrah karena Allah dengan mengerjakan hal-hal yang baik, berusaha mencapai cita-cita atau terkenal dengan cara-cara yang benar, dan menyimpan rahasia ma’rifatullah atau musyahadah jika pun mampu mencapainya, apalagi belum mampu.
Kemarahan yang dzalim, Abdulllah bin Amr r.a bertanya pada Rasulullah; “Apa yang menyelamatkanku dari kemurkaan Allah?” beliau menjawab “jangan marah!”
Sifat marah sebenarnya bisa positif jika digunakan untuk melindungi diri dan melawan kemunkaran. “Sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya.” (HR. Baihaqi). Murah hati lebih tinggi dari menahan amarah, sebab orang yang murah hati tidak merasa berat saat menahan amarah. “… Orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati …” (QS Al-Furqan;63). Berkaitan dengan kemarahan manusia terbagi; tafrith yakni sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk marah, ifrath yakni orang marah secara berlebihan sehingga keluar dari akal sehat, syariat dan ketaatan pada Allah, ini disebabkan gharizah (naluri atau tabiat) dan I’tiyadiyah (pergaulan), “Hanya dengan ketenangan hati dapat menahan gejolak emosi,” (hadtis).
Pengaruh amarah; berubahnya warna kulit menjadi merah, lisan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya, anggota tubuh bergerak untuk menganiaya atau melakukan kekerasan, hati dipenuhi kebencian, dendam, dan kemaharahan. “Orang yang kuat itu bukan diukur dengan keperkasaan fisik melainkan yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pada saat marah.” (HR. Bukhari Muslim).
Supaya mampu menahan amarah; merenungkan tentang ayat dan hadits yang mengutamakan menahan amarah dan bersikap lemah lembut, “ ….. dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (QS. Ali Imran;134), takut akan hukuman Allah jika melampiaskan amarah, mengetahui dampak negatif dari akibat kemarahan, dendam, dan kebencian, betapa buruk paras wajah saat marah, merenungkan penyebab-penyebab yang dapat menimbulkan kemarahan dan mencari solusinya, marah merupakan buah dari ujub.
Cinta dunia. “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” (Hadits)
Kategori orang dalam kehidupan dunia; menafikan kenikmatan dunia dengan menyibukkan diri pada kehidupan setelah kematian; ilmu, ibadah dan amal shaleh, sebaliknya kenikmatan yang diperoleh di dunia tidak membawa pada kenikmatan akhirat karena hidup mewah, berlebihan, maksiat dan terbawa permainan dunia, pertengahan antara keduanya yakni menjadikan kenikmatan dunia sebagai sarana menuju akhirat.
Supaya tidak cinta dunia; menikmati kehidupan apa adanya, mengontrol keinginan-keinginan, berhati-hati terhadap tawaran berbagai iklan atau brosur khususnya yang menawarkan sesuatu yang berlebihan, menikmati hiburan yang dibolehkan seperti berjalan-jalan ke tempat wisata, jalan-jalan ke gunung, dan menonton tontonan yang bermanfaat, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat kelak.
Hawa nafsu; hakikatnya semua hal tercela yang disebutkan sebelumnya berasal dari hawa nafsu yakni kecendrungan jiwa yang salah; “Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini ….” (QS. Al-Mukminuun;17). Menurut sufi; “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsu yang ada dalam dirimu.”
Supaya tidak terjebak hawa nafsu; menyucikan diri sesuai ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, mengendalikan hawa nafsu dengan terus mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, mengisi kehidupan dengan amal kebaikan, memanfaatkan waktu kosong dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, berpuasa, dan berolah raga.
Pintu-pintu masuk setan dalam hati menurut Imam Ghazali; marah dan syahwat, dengki dan tamak, kenyang dengan makanan, suka berhias, pakaian yang berlebihan, perabotan yang tidak berguna, dan rumah terlalu mewah, tamak terhadap manusia (menjilat), tergesa-gesa dan tidak berhati-hati, uang dan harta, pelit dan takut miskin, fanatik terhadap madzhab dan pemikiran, mengajak orang awam pada dzat dan sifat Allah, “ …. Hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS an-Nahl;98)
Nabi Muhammad SAW bersabda; “Barang siapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemulyaan taat, maka Allah akan menjadikannya kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara, dan menang tanpa pembela.”
Penanaman Nilai-Nilai Islam dalam Kepribadian
Adapun nilai-nilai Islam yang harus diintegrasikan dalam kepribadian ialah Ubudiyah, ikhlas, jujur pada Allah (shiddiq) dan manusia, zuhud, cinta kepada Allah (mahabbah), takut (khauf) dan penuh pengharapan (raja’), takwa dan wara’, syukur, sabar, berserah diri (taslim) dan ridha, tobat, muraqabah, mujahadah, muhasabah, dan mu’atabah.
Ubudiyah atau penghambaan manusia di hadapan Allah sesuai ayat “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al-Kitab …” (QS Al-Kahfi;1). Perlu diingat bahwa gelar hamba Allah hanya satu tingkat di bawah kerasulan, sebab seseorang yang benar-benar menjadi hamba Allah, maka berupaya sekuat tenaga untuk mampu ma’rifatullah sesuai kemampuan, beribadah wajib dan sunnah dengan penuh ketekunan, menyerahkan diri, harta dan tenaga pada Allah semata, mengabdikan hidup untuk Islam, dan menyebarkan kebaikan di muka bumi. Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kesempatan selalu mengaku sebagai hamba Allah dan Rasulnya, ini menunjukkan derajat yang tinggi disebut sebagai hamba Allah. Jika penulis buku ini ingin disebut hamba Allah, sebagai sarana agar mampu melaksanakan hal-hal di atas dalam kenyataan, bukan berarti sudah menjadi “hamba Allah” dalam arti sesungguhnya. Sebab hidup butuh proses untuk mencapai sesuatu yang tertinggi, hanya kematian yang menghentikan proses ini.
Menjadi hamba Allah juga merupakan sebuah sikap rendah hati manusia pada sesama, sehingga dapat menjalin kehidupan yang harmonis, berusaha menjadi yang terbaik sesuai bidang usaha yang dikelola dan beramal shaleh dengan hasil usaha agar umat Islam dapat diangkat dari kemiskinan dan pengangguran, berbicara sesuai kebutuhan sesuai yang dicontohkan nabi Muhammad, ringan tangan membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Konsep ubudiyah menunjukkan bahwa manusia dalam Islam hakikatnya sama yakni sebagai hamba Allah yang dapat menjadi mulia atau hina, derajat tinggi atau paling rendah, dan sebaik-baik manusia atau sebalinya, tergantung dari tingkah laku, hasil karya nyata, amal shaleh, ketaatan pada Allah, sumbangsih pada sesama manusia, dan kehidupan yang dijalani. Ini juga mengindikasikan pembelaan Islam terhadap kaum lemah, orang-orang miskin, kaum terlantar, orang-orang tertindas, dan orang-orang tak berdaya, sebab mereka semua hamba Allah.
Ikhlas yakni melakukan segala sesuatu karena Allah semata, ketika muncul godaan untuk melakukan sesuatu karena selain Allah, maka cepat-cepat dialihkan kembali. Tingkatan-tingkatan ikhlas; melakukan sesuatu karena mengharap ridha Allah semata (tertinggi), melakukan sesuatu karena mengharap pahala di akhirat, melakukan sesuatu karena mengharap surga, melakukan sesuatu karena Allah meski tetap mendapatkan upah, bayaran dan uang, dan seterusnya sampai karena mengharap surga. “kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS Al-Hijr;40).
Wujud ikhlas dalam kehidupan sehari-hari ialah melihat orang lain kelaparan membantu dengan makanan atau memberikan kebutuhan pokok tanpa ingin dipuji orang, melihat tetangga hidup menganggur, mengajak berdialog, lalu berupaya memberikan sumbangan pemikiran dan modal usaha jika memiliki, melihat orang sekitar hidup dalam kekurangan, maka berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan mencari jalan keluar agar tidak miskin lagi, melihat anak-anak tidak bersekolah, memberikan pendidikan gratis agar mereka bisa membaca dan menulis sebagai bekal untuk belajar sendiri saat dewasa, melihat orang-orang yang berbuat jahat atau maksiat berusaha memberikan nasihat melalui teladan yang baik dengan tidak melakukan hal yang sama, semua itu dilakukan karena mengharap ridha Allah. Sehingga kebaikan menyebar di muka bumi seperti air hujan yang menyuburkan tanaman.
Jika setiap umat Islam di Indonesia, mampu melatih keikhlasan ini sampai mampu mencapai puncaknya, lalu melakukan hal itu secara istiqamah sepanjang hidup, maka problem kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan, perlahan tapi pasti dapat diatasi.
Shiddiq (jujur) kepada Allah dan manusia, “….. orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah …” (QS Al-Ahzab;23).
Jujur pada Allah bermakna; manusia berusaha untuk jujur dalam perkataan, niat, keinginan, tekad, mewujudkannya, perbuatan, bernadzar dan melaksanakan syari’at agama. Jika ingin berniat untuk taat melaksanakan shalat Tahajjud, maka membulatkan tekad di dada, mewujudkannya dalam praktik, dan meningkatkan kualitas ibadah sampai batas kemampuan diri.
Kejujuran adalah barang langka di bumi Indonesia dalam krisis multi dimensi ini. Segala lapisan masyarakat mulai bawah, menengah dan atas, ramai-ramai berikrar “masa bodoh dengan kejujuran”, akibatnya bisa ditebak krisis tanpa kenal akhir menerpa ibu Pertiwi, bahkan ancaman krisis global sedang menanti di depan pelupuk mata.
Kalangan masyarakat kecil yang hidup susah dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan hidup, malah menjadikan kejujuran sebagai hiasan belaka, sedang praktik kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan kebohongan, kepalsuan, kepura-puraan, dan saling menjatuhkan.
Harapan untuk memperbaiki semua itu masih ada, asal mulai detik ini, setiap orang dari kita berusaha untuk jujur. Di sini ditulis “berusaha” yakni mengusahakan untuk bersikap jujur, jika dalam praktik berbohong, maka cepat-cepat beristigfar agar berbohong tidak menjadi kebiasaan. Begitu terus menerus yang dilakukan setiap hari, sehingga perlahan-lahan kejujuran menyatu dalam diri.
Dengan mewujudkan kejujuran dalam berbicara, bergaul, bermusyawarah, berdagang, bertani, bekerja, berusaha, dan berbagai aspek kehidupan, insya Allah rahmatNya akan diberikan pada umat Islam dan pintu rizki dibuka lebar-lebar.
Zuhud bermakna tiga hal; tidak senang ketika memiliki sesuatu dan tidak merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu, menganggap sama antara pujian dan celaan, hatinya dipenuhi kecintaan pada Allah, tapi tidak melupakan dunia.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seringkali kita kehilangan sesuatu; dompet, uang, kartu ATM atau kredit, tabungan, tas, barang lainnya, dan salah transfer uang, setelah hal itu terjadi, tidak menyesalinya, melainkan menganggap sesuatu yang biasa-biasa saja.
Orang yang zuhud; tersenyum saat mendapatkan celaan sebagaimana tersenyum saat mendapatkan pujian, lapang dada saat dibicarakan kejelekan di depan orang banyak sebagaimana lapang dada dibicarakan kebaikannya, bersikap tenang sewaktu mendapatkan fitnah sebagaimana mendapatkan kabar baik, senang mendapatkan rizki yang sedikit sebagaimana mendapatkan rizki yang berlimpah ruah.
Selama ini Zuhud diartikan dengan meninggalkan dunia sama sekali dan hidup penuh ketaatan pada Allah, padahal Allah menciptakan manusia untuk menjalani kehidupan dunia demi rasa cinta padaNya. Seseorang yang pekerjaannya hanya ibadah setiap detik dengan meninggalkan anak dan istri dalam kelaparan atau kekurangan, hakikatnya bukan orang zuhud. Seseorang yang beribadah setiap waktu, tapi kehidupannya ditanggung orang lain, bukan orang yang zuhud. Seseorang yang tidak mau bekerja karena beribadah saja pada Allah, bukan orang zuhud. Orang yang zuhud adalah mau bekerja apa saja asal halal, tapi dalam bekerja diniatkan karena Allah, menggunakan hasil pekerjaan sesuai kebutuhan bukan keinginan, berbagi pada orang lain, dan menjalankan ibadah secara khusu’ karena Allah.
Mahabatullah yakni mencintai Allah di atas siapa pun dan apa pun, sebab cinta sejati hanya milik Allah karena lima alasan; manusia menyukai kesempurnaan, kekekalan, keberadaan dan kehidupan, semua itu milik Allah, manusia mencintai yang berbuat baik kepadanya, sedang kebaikan Allah tidak terhitung dan tidak terbatas “… jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya ….” (QS Ibrahim;34), setiap manusia mencintai orang yang senang berbuat baik, senang menyebarkan kebaikan dan berbuat adil, siapakah yang mampu melakukan semua itu secara sempurna melainkan Allah, setiap orang mencintai keindahan (lahir dan batin) sebab keindahan memancarkan keagungan dan ketentraman, hanya Allah yang Maha Indah, adanya kesesuaian dan keteraturan dalam segala aspek kehidupan semesta, akhirat dan alam ghaib, siapa yang mengaturnya melainkan Allah.
Kemulyaan para sahabat dan Ulama’ terdahulu; pengetahuan tentang Allah, Malaikat, Kitab dan para Rasulnya, kemampuan memperbaiki diri dan memperbaiki akhlak orang lain dengan nasihat, dan kemampuan mensucikan diri dan jiwa dari perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat tercela.
Cinta pada Allah dapat diwujudkan dengan mencintai sesama manusia karena Allah. Orang yang melakukan perjalanan jauh untuk menemui saudaranya karena ingin bersilaturahmi dan memberikan sebagaian harta yang dimiliki padanya sebagai bentuk cinta pada Allah. Orang bekerja siang malam untuk mampu memenuhi kebutuhan keluarga sebagai bentuk tanggung jawab dan cinta pada Allah. Orang kaya memberikan modal usaha pada 10 orang pengangguran, sehingga memiliki usaha untuk hidup mandiri ditujukan sebagai bentuk cinta pada Allah. Seorang pemuda berbagi skill bidang tertentu pada orang lain sampai dia menguasainya sebagai keahlian yang bermanfaat, ini merupakan bentuk cinta pada Allah. Malah, Allah menegur umat Islam yang tidak mau menjenguk orang yang sakit, memakamkan jika meninggal dunia, dan membantunya jika membutuhkan sesuatu.
Allah Maha Segala, sebenarnya tidak butuh cinta manusia, hanya manusia yang butuh cinta Allah, sebab mereka tergantung padaNya, membutuhkan rizkiNya, memohon ampunanNya, mengharap ridhaNya, dan meminta dimasukkan dalam golongan orang-orang shaleh, jujur, baik, dan sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Jadi, bentuk cinta manusia karena Allah hakikatnya sama dengan mencintai Allah asal dilakukan secara tulus tanpa pamrih.
Raja’ adalah mengharapkan sesuatu pada masa mendatang yang dapat menimbulkan kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan yakni pengharapan pada rahmat dan ampunan Allah. Raja’ berkaitan dengan menunggu, apabila yang ditunggu lemah sebabnya disebut tipuan, sedang bila sebabnya tidak jelas disebut angan-angan.
Perbedaan antara raja’ dengan angan-angan karena adanya sebab. Jika seseorang mengharap untuk sukses dalam usaha, lalu berusaha mewujudkannya dengan cara-cara yang terbaik, ini yang disebut dengan Raja’. Jika orang berharap untuk sukses tanpa melakukan usaha apa pun, ini yang disebut angan-angan. Perwujudan usaha dengan cara-cara terbaik merupakan sebab kesuksesan.
Dalam abad 21 ini, dunia angan-angan seringkali mampu diwujudkan dalam kenyataan. Walt Disney berangan-angan untuk memiliki taman bermain sekaligus tempat hiburan, maka terbentuklah Disney Land di beberapa negara di dunia, sedang di Indonesia disebut Taman Fantasi. Orang-orang bermimpi berkomunikasi secara mudah, muncullah Handphone. Orang-orang bermimpi membuat dunia maya menjadi nyata, lahirlah internet dan ipod. Namun perlu dicatat bahwa mimpi yang diwujudkan menjadi nyata dikarenakan beberapa hal; keberanian mewujudkan mimpi walau ditentang dan diejek banyak orang, usaha yang gigih pantang menyerah, menekuni bidang tersebut selama bertahun-tahun baru menemukan titik terang, berulangkali jatuh bangun, membaca keadaan dengan cerdas, pandai memanfaatkan peluang sekecil apa pun, mampu bersinergi dengan orang lain, menemukan lingkungan yang tepat dengan keahlian yang tepat pula. Hakikatnya mereka yang mewujudkan mimpi menjadi nyata, disebut Raja’ atau pengharapan untuk sukses di dunia dengan sebab yang jelas.
Memang makna Raja’ tidak sekadar berhubungan dengan urusan dunia, tapi juga urusan akhirat. Dalam konteks ini, manusia berharap untuk diampuni dosa-dosanya dengan banyak beristigfar dan berbuat baik, manusia berharap mendapatkan surga dengan menjalankan syari’at agama, manusia berharap mencintai Allah dengan mencintai sesama manusia karena Allah, manusia berharap digolongkan dengan orang-orang shaleh, sahabat dan para Nabi dengan meneladani akhlak mulia mereka, manusia berharap ridha Allah dengan melakukan segala sesuatu yang dikehendakiNya dan menerima ketentuanNya baik atau buruk dengan lapang dada.
Khauf yakni perasaan takut pada Allah semata. Ketakutan terhadap azab Allah, siksa kubur yang dasyat, hari perhitungan, hari pembalasan, takut dimasukkan neraka padahal api sebagai unsur terkecilnya kita sudah ketakutan, dan lebih-lebih sangat takut jika tidak berjumpa dengan Allah. Juga takut bahwa amal ibadah tidak diterima oleh Allah, takut dosa-dosa tidak diampuni Allah, takut amal kebaikan tidak dapat mengimbangi dosa dan keburukan; “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS Al-Mukminuun;60).
Perwujudan rasa takut dalam kehidupan sehari-hari ialah berhati-hati dalam berbicara atau bertingkah laku supaya tidak terjebak pada kesalahan, jika pun berbuat salah dijadikan sarana pembelajaran untuk berbuat yang lebih baik, melaksanakan ibadah srpitual dan sosial secara sukarela, membiasakan diri berbuat baik, senantiasa memberikan yang terbaik dalam usaha agar keluarga hidup berkecukupan dan memberi manfaat pada orang lain, dan menimba ilmu setinggi-tingginya untuk diajarkan pada orang-orang yang membutuhkan.
Takwa ialah mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah, melaksanakan ibadah dan amal shaleh dalam makna ihsan, mendekatkan diri pada Allah, dan bersikap adil
“Sesungguhnya takwa memiliki jalan sendiri. Apabila seseorang melalui jalan itu, maka nilai-nilai ketakwaan akan terpatri di dalam dirinya dan perbuatannya akan mencerminkan cahaya Al-Qur’an dan Hadits.” Said Hawwa
Pernyataan Sa’id Hawwa penting dipelajari lebih lanjut. Setiap orang berusaha untuk menjadi yang paling bertakwa, sebab itulah bekal terbaik menuju kehidupan akhirat, sekaligus harapan Allah pada hamba-hambaNya.
Ketika Anda membulatkan tekad untuk bertakwa pada Allah, maka langkah yang ditempuh ialah memperbaiki shalat wajib yang dilakukan, khususnya bacaan-bacaan yang benar, pemahaman pada arti, sehingga dapat shalat dengan khusu’, menambah dengan shalat sunnah Qobliah dan Ba’diyah (sebelum/setelah shalat), menambah dengan shalat sunnah hajat, dhuha dan tahajjud, kedua memperbaiki puasa yang dilakukan tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan seluruh jasad lahiriah dan batin juga berpuasa, melakukan hal-hal yang baik selama berpuasa sebagai sarana berbuat baik 11 bulan kemudian, lalu berusaha menambah dengan puasa sunnah; menjelang Idul Adha, senin dan kamis dan puasa-puasa sunnah lainnya sesuai kemampuan atau kerelaan diri, ketiga, mengeluarkan zakat fitrah atau harta secara rutin ditambah sedekah kapan pun memperoleh rizki yang banyak, meningkatkan diri bersedekah sesuatu yang abadi seperti modal usaha atau ilmu, keempat berhubung haji bagi yang mampu, maka yang tidak mampu dapat senantiasa berbuat baik untuk mengimbanginya, kelima, beriman dengan keyakinan, keenam, musafir di jalan Allah tidak mesti berjalan kaki, menempuh kendaraan tidak apa, asal dilakukan dengan benar di tempat yang benar dengan cara yang benar, sebab ada sebagian orang yang berjalan kaki dari Jawa Barat sampai pulau Madura, namun yang dicari kesaktian dan kedigdayaan, suatu jalan yang jelas-jelas salah, ketujuh, melakukan hijrah dari tempat yang kurang baik atau kurang produktif ke tempat yang lebih baik atau produktif, sehingga prinsip orang terbaik ialah yang paling bermanfaat dapat dipegang teguh. Mungkin jalan di atas yang berusaha ditempuh hamba Allah, sedang Anda dapat mencari jalan takwa sendiri.
Makna takwa dalam kehidupan sehari-hari yakni berusaha untuk bermanfaat pada orang lain sesuai kemampuan, hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup sehingga dapat beribadah dengan tenang, bekerja apa saja asal halal, mewujudkan ibadah spritual dalam tingkah laku yang mulia seperti halnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, memiliki kepribadian yang tangguh dan kuat, dan menjadikan musibah, bencana atau nasib sial sebagai cara Allah mendidik seseorang untuk menjadi yang terbaik.
Wara’ ialah meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi diri, orang lain, lingkungan, dengan diniatkan karena Allah.
Tingkatan wara’ menurut Imam Ghazali. Pertama; wara’ wudul yakni meninggalkan segala perkara yang telah diharamkan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan menyebabkan seseorang berbuat maksiat, contoh, minuman keras (khamar) haram hukumnya, maka kita berusaha tidak meminumnya. Kedua, meninggalkan perkara syubhat yang tidak wajib ditinggalkan akan tetapi disunnahkan, dan meninggalkan yang perkara-perkara makruh, “Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu. “ (HR. Nasa’ie, Tirmidzi, Ibnu Hibban), misal menemukan uang di jalan, lalu kita berusaha mencari yang tidak punya, jika tidak ditemukan berinisiatif menyumbang pada orang yang membutuhkan atau masjid. Ketiga, wara’ muttaqien yakni “Tidaklah seseorang sampai kepada derajat muttaqien hingga ia meninggalkan apa yang dibolehkan bagiNya karena takut mengerjakan apa yang tidak diperbolehkan untuknya,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim) “Kami meninggalkan 9/10 perbuatan yang halal karena takut jatuh pada perbuatan yang haram,” Umar bin Khattab, contoh; orang yang makan sedikit atau secukupnya karena khawatir terlalu kenyang yang memudahkan setan untuk masuk, meninggalkan pakaian yang mewah untuk menggunakan pakaian sederhana karena mengharap ridha Allah seumur hidup, jika pada masa Umar bin Khattab dapat meninggalkan 9/10 perbuatan yang dibolehkan, maka untuk zaman kita sekarang, mampu meninggalkan 1/3 saja asal secara konsisten sudah cukup memadai. Keempat, wara’ as-shiddiqien yakni meninggalkan perkara-perkara yang jelas kehalalannya semata-mata karena Allah, sebagai misal; Rabi’ah Al-Adawiyah dan Ibnu Taimiyah tidak menikah karena ingin mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah dan mengabdikan diri pada Islam.
Makna wara’ dalam kehidupan sehari-hari yakni meninggalkan hal-hal yang tidak produktif, tidak bermanfaat, sesuatu yang sia-sia, dan membuat seseorang stagnan atau mandeg. Sesuatu yang jelas-jelas tidak produktif atau tidak menguntungkan sama sekali dalam usaha, berusaha untuk ditinggalkan dengan menggantinya dengan yang produktif. Seringkali seseorang merasa melakukan hal-hal berharga, padahal yang dilakukan nilai manfaatnya kecil atau tidak ada, maka perlu melakukan sesuatu yang bermanfaat agar menjalani hidup penuh makna. Berapa banyak kesia-siaan yang dilakukan dalam satu hari saja, apalagi dalam sebulan atau setahun, susah menghitungnya, mulai saat ini berusaha meninggalkan hal-hal yang sia-sia ini. Stagnan atau mandeg dalam usaha, kreativitas, dan pekerjaan membuat seseorang putus asa, jalan keluarnya, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, merenung di tempat yang sunyi sambil mendekatkan diri pada Allah, dan mencari peluang usaha baru jika yang lama tidak mungkin ditingkatkan.
Syukur adalah mengerahkan secara total apa yang dimilikinya untuk mengerjakan apa yang paling dicintai Allah. Rasulullah yang jelas-jelas dijamin masuk surga dan menjadi makhluk terbaik masih rajin beribadah sampai bengkak kakinya karena bersyukur, sehingga ketika Aisyah menegur secara halus, beliau bersabda “Apakah kamu tidak mau (Aisyah) kalau aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
Ilmu syukur; nikmat itu sendiri yang disyukuri, penerima nikmat yakni orang yang mendapatkan nikmat dan pemberi nikmat yakni Allah SWT, kebahagiaan atas nikmat yang diperoleh merupakan hal syukur, amal syukur yakni amal lisan dengan hamdalah, amal hati memperbanyak dzikir dalam berbagai keadaan, anggota tubuh melakukan sujud syukur, meningkatkan ketaatan dalam beribadah dan mendekatkan diri pada Allah.
Syukur paling mudah yang enggan dilakukan manusia ialah bersujud syukur, padahal hanya berniat untuk sujud syukur, bersujud sambil membaca “subhanallah walhadulillah wala haula wala quwwata illa billahil aliyil’adzim” atau bisa juga membaca “alhamdulillahirabbil alamien” sebanyak-banyaknya, jika bisa sampai menitikkan air mata. Mengapa hal ini perlu dilakukan?
Tahukah kita bahwa hidup yang dijalani dalam bayang-bayang kematian. Ketika naik angkot, bus, kapal laut dan pesawat rawan kecelakaan, diam di rumah rawan perampokan, tidur di ranjang rawan gempa bumi, duduk santai rawan banjir, berjalan-jalan rawan tertambrak kendaraan, makan daging rawan flu burung, berdiam diri rawan angin topan, berdiri di tanah datar rawan petir, dan lain sebagainya. Maka, kita dapat hidup detik ini harus disyukuri.
Meski Indonesia didera krisis sampai sekarang, namun kita masih dapat makan nyaman meski hanya dengan garam atau krupuk, tidur nyenyak di malam hari, dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga seadanya. Padahal, bisa jadi di bagian dunia berbeda orang-orang hidup kelaparan, ketakutan karena perang, dan kecemasan terus menerus. Bukankah ini pantas disyukuri?
Sampai sekarang, kita sehat walafiat jasmani dan rohani, padahal banyak yang tidak sehat salah satunya. Kita dapat menikmati menjadi orang Muslim dan Mukmin, sehingga mampu bersikap tenang dalam krisis ini, memiliki bekal untuk menjalani kehidupan setelah kematian, sedang orang lain yang tidak beriman hanya menikmati kehidupan dunia yang hampa ini. Adakah nikmat yang lebih besar dari hal ini?
Masih banyak serentetan fakta mengapa Anda harus bersyukur pada Allah. Tapi paling tidak, kini Anda memahami sebagian di antaranya. Dengan bersyukur, luar biasanya, Allah memberikan sesuatu yang lain. Menurut Imam Ghazali, orang yang pandai bersyukur akan memperoleh; kekayaan, doa yang mustajab, memberoleh rizki, mendapatkan ampunan, dan tobat diterima Allah.
Sedang syukur sesama manusia diwujudkan dalam; mengucapkan terima kasih setiap kali mendapatkan kebaikan, rizki, ilmu dan pertolongan, berusaha menempatkan sesuatu pada tempatnya dalam berhubungan sosial, membalas kebaikan dengan yang lebih baik, dan saling tolong menolong atau nasihat menasihati secara tulus.
Sabar lawannya keluh kesah. Sabar terbagi dalam; sabar yang berkaitan dengan tubuh, dan sabar menghadapi keinginan syahwat dan hawa nafsu.
Pertarungan antara motivasi positif (hati yang suci) dan motivasi negatif (hawa nafsu); Motivasi positif mengalahkan yang negatif hawa nafsu, maka seseorang bisa konsisten dalam bersabar. Motivasi negatif mengalahkan yang positif, sehingga hatinya dikuasai setan dan tidak ada keinginan untuk melawannya, orang yang sama sekali tidak sabar. Antara motivasi positif dengan negatif seimbang, terkadang saling mengalahkan, orang yang berusaha melawan hawa nafsunya, kadang bersabar dan kadang tidak. Untuk memperkuat motivasi positif; menumbuhkan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dalam berbagai aspek kehidupan, meningkatkan maqam diri semampu yang bisa dilakukan, membiasakan diri melawan motivasi negatif (hawa nafsu).
Tiga cara mengalahkan hawa nafsu; mengurangi kualitas dan kuantitas makanan yang lezat, tidak melihat hal-hal yang mengundang gejolah syahwat, menghibur diri dengan yang dibenarkan syariat seperti menikah.
Tingkatan-tingkatan sabar; tashabbbur yakni berusaha untuk bersabar, dalam bersabar seperti menanggung beban berat, orang yang dengan mudah bersifat sabar karena sudah terbiasa, dan tasyabaruu yakni yang memiliki kesababaran luar biasa meski sering didzalimi dan dianiaya lahir/batin.
Sabar dalam zaman sekarang diwujudkan dalam; bersabar dalam mengelola dan menghadapi persaingan usaha, malah menjadikan sarana meningkatkan diri atau mencari usaha yang benar-benar baru dan berbeda, bersabar dalam berhubungan dengan orang lain sebab orang yang bersabar kelihatan kalah dari luar tapi menjadi pemenang sejati, sabar dalam hidup berkeluarga dan membesarkan anak, bersabar dalam menghadapi kemaksiatan di depan mata, bersabar melihat terlalu banyaknya barang yang ditawarkan iklan, supermaket, mall dan pusat perbelanjaan, bersabar menghadapi tetangga, dan bersabar dalam menerima cobaan atau ujian Allah. Salah satu rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam sehingga tersebar di segala penjuru dunia, karena beliau memiliki kesabaran yang sempurna, padahal hampir setiap hari dianiaya, difitnah, diejek, dan didzalimi selama 13 tahun, sehingga memaksa beliau hijrah, sesampainya di Madinah yakni 10 tahun, masih diperangi kaumnya yang memaksa beliau berperang di jalan Allah.
Ridha ialah menerima apa pun ketentuan Allah secara sukarela untuk memperoleh ridhaNya, puncak dari ihsan yakni ridha Allah pada hamba-hambaNya. Untuk mencapai ridha, perlu ditumbuhkan rasa cinta pada Allah, cinta yang total menyebabkan menerima apa pun secara sukarela. Berdoa tidak menjatuhkan makam ridha, demikian juga bagi orang yang hijrah dari tempat maksiat menuju tempat yang lebih baik.
Tingkatan ridha; orang yang mencintai kematian karena rindu bertemu dengan Allah, orang yang mencintai kehidupan di dunia karena ingin berkhidmat pada Allah, dan orang yang berkata “Aku tidak memilih antara keduanya (kematian dan kehidupan), akan tetapi aku ridha atas apa yang dipilihkan Allah untukku,” ini merupakan derajat yang paling tinggi. Berusahalah istiqomah!
Umat islam yang mencintai kematian karena rindu pada Allah, sedangkan orang kafir takut mati, sebab menganggap mati sebagai akhir kehidupan. Alangkah berbahagianya menjadi seorang Muslim yang menjadikan kematian sebagai sarana untuk bertemu dengan Allah yang Maha Segala. Suatu pertemuan yang paling diidam-idamkan setiap hambaNya.
Ternyata mencintai kehidupan karena memanfaatkan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada Allah, membantu umat Islam keluar dari kemiskinan, keterbelakangan dan pengangguran, membantu umat manusia menjalani hidup yang lebih nyaman dan baik di dunia, dan menjalani setiap putaran detik atau jam untuk selalu mengingat Allah, juga termasuk dari bagian dari upaya memperoleh ridha Allah.
Tingkatan yang paling tinggi dari keduanya yakni tidak mencintai kematian dan kehidupan melainkan ridha apa pun kehendak Allah SWT. Jika Allah menghendaki untuk mati, dia menyerahkan nyawanya dengan senyum, jika Allah menghendaki untuk hidup agar bermanfaat lebih banyak pada orang lain, dia menjalaninya dengan senyum, jika Allah menghendakinya difitnah manusia tanpa alasan yang jelas, diterima dengan lapang dada, jika Allah menghendakinya menerima kegagalan demi kegagalan, diterima dengan keinginan untuk memperdalam ilmu, jika Allah menghendaki merenung sendirian mengingatNya semata, dijalani sepenuh hati, jika Allah menghendaki hidup menderita, dijalani sepenuh hati. Memang hal ini sesuatu yang amat sulit, tapi bila seseorang bertekad melakukannya, maka tampak mudah saat dijalani dengan sungguh-sungguh.
Ridha berkenaan dengan usaha atau pekerjaan yakni menerima hasilnya dengan lapang dada, mensyukurinya sebagai rahmat Allah meski hasilnya lebih kecil, memanfaatkan untuk hal-hal baik, dan terus menerus berusaha untuk kemudian disedekahkan pada kerabat dan orang-orang yang membutuhkan.
Tobat ialah mengakui kesalahan yang dilakukan, menyesalinya, memperbaikinya dan berusaha tidak mengulanginya. “…Dan bertobatlah pada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung,” (QS Anu-Nuur;31). Menurut Imam Ghazali, Tobat berhubungan dengan ibadah, kemaksiatan dan kedzaliman pada manusia.
Tobat dalam ibadah ialah mengingat sejak balig berapa kali melalaikan shalat, puasa dan zakat, lalu berupaya untuk menggantinya sedikit demi sedikit sampai merasa cukup memadai. Jika tidak dapat menempuh hal ini, dapat dilakukan dengan memperbanyak dzikir pada Allah yakni membaca istigfar 100X setiap hari, atau memperbanyak ibadah sunnah sebagai pengganti.
Tobat berkaitan dengan kemaksiatan yakni mengingat semenjak balig semua kesalahan, kekhilafan, dosa, keburukan, dan kekejian yang dilakukan, lalu menyesali yang telah dilakukannya dan memperhitungkan kadar kemaksiatan secara kualitas dan kuantitas untuk menggantinya dengan kebaikan. “…..sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS. Huud; 114) kemaksiatan pendengaran dengan banyak mendengarkan Al-Qur’an, nasihat agama, dan berdzikir, kemaksiatan dengan mata berusaha ditutup dengan melihat hal-hal positif atau baik, kemaksiatan anggota tubuh dengan memperbanyak ibadah.
Tobat karena melakukan Kedhzaliman pada manusia; apabila menghilangkan nyawa orang, maka harus membayar diyat (denda) dan meminta maaf pada keluarga, apabila dzalim harta atau kehormatan, maka harus meminta maaf dan menggantinya, apabila dzalim hati seperti menyebarkan kejelekan, maka harus meminta maaf pada orang-orang yang pernah mendengarnya.
Pembagian manusia dalam masalah tobat; seseorang yang bertobat dari kemaksiatannya secara total, konsisten sampai meninggal dunia, tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengganti ibadah-ibadah yang telah ditinggalkan, orang yang bertobat dengan rajin melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, serta meninggalkan dosa-dosa besar, tapi kadang tergelincir pada dosa yang tidak disengaja atau tidak berniat melakukannya, orang yang bertobat secara konsisten sampai beberapa lama, namun terkadang dikalahkan hawa nafsunya, sehingga melakukan dosa dengan sengaja, ia tetap berusaha taat dan melawan hawa nafsunya, sedang yang paling buruk yakni orang yang melakukan kemaksiatan lagi tanpa ada keinginan bertobat.
Berhubungan dengan tobat ini, rahmat Allah lebih besar dari mukaNya, renungkanlah kisah berikut ini!
“Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 orang, lalu ia bertanya tentang seorang yang paling mengerti agama. Ditunjukkanlah pada seorang pendeta, ketika sampai orang yang mengantarnya berkata, ‘wahai pendeta, orang ini telah membunuh 99 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ Pendeta itu berkata, ‘tidak mungkin!’ maka pendeta itu dibunuh sampai genap 100 orang. Kemudian ditunjuki pada orang alim ‘wahai orang alim, orang ini telah membunuh 100 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ orang alim itu berkata, ‘Mungkin, tidak ada yang menghalangi tobat hamba kepada Tuhannya. Lalu orang alim memberikan arahan, ‘Pergilah ke tempat itu, di sana penduduknya menyembah Allah, beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke tempat asalmu karena itu merupakan tempat penuh kemaksiatan.’ Lalu pergilah laki-laki itu ke tempat yang diberitahu orang alim tadi. Ketika di perjalanan laki-laki itu meninggal dunia. Terjadilah perdebatan antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Adzab, Malaikat Rahmat berkata, ‘Orang ini datang untuk bertobat’ Malaikat Adzab menjawab, ‘Akan tetapi ia belum melakukan kebaikan sama sekali.’ Maka datanglah Malaikat yang berwujud sebagai manusia, yang berdiri sebagai penengah dan berkata, ‘Ukurlah jarak antara tempat tujuannya dengan tempat dia berasal, mana yang paling dekat itulah yang menentukannya.’ Ketika diukur, ternyata jarak tempat yang dituju lebih dekat dari tempat ia berasal, lalu Malaikat rahmat membawanya. (HR Bukhari Muslim) Dalam riwayat lain “Perbedaan jarak antara keduanya hanya sejengkal.” Riwayat lain menyebutkan “Allah memerintahkan tanah yang ia berasal untuk menjauh dan tanah yang tujuannya mendekat, lalu memerintahkan Malaikat untuk berkata, ‘Ukurlah mana yang paling dekat.’ Ketika diukur, tempat tujuannya lebih dekat sejengkal, maka dosa-dosanya diampuni Allah.
Sebaliknya, ada orang yang sombong dengan ibadah, ketaatan pada Allah, dan merasa paling mulia di dunia, lalu Allah mengujinya dengan wanita, dia mampu menolak, mengujinya dengan berjudi dia mampu menolak, tapi dengan ujian alkohol atau khamr dia akhirnya meminumnya, sehingga kemudian berjudi dan berzina dengan wanita tersebut, setelah itu Allah mencabut nyawanya. Ini contoh su’ul khatimah karena kesombongannya merasa sok suci.
Melihat kedua kenyataan yang saling bertolak belakang ini, mari kita sekarang melihat posisi masing-masing. Jika kita dalam posisi senantiasa berbuat maksiat, cepat-cepat berusaha tobat. Jika kita taat beribadah, mampu menghindari maksiat, dan mendekatkan diri pada Allah, timbulkan perasaan dalam diri bahwa banyak orang di luar sana yang lebih segalanya dari kita, bahkan kita masih jauh untuk mampu disejajarkan dengan Ulama’, orang shaleh, apalagi dengan para Rasul. Jika kita kadang taat, kadang lalai, kadang-kadang bermaksiat, maka berusahalah untuk mengurangi kelalaian dan kemaksiatan karena takut pada adzab Allah. Sebagai tambahan, perlu memperbanyak doa supaya meninggal dalam husnul khatimah.
Muraqabah; mengawasi dengan tajam setiap amal perbuatan yang dilakukan, sebab jiwa tidak bisa dibiarkan bergerak sendiri, dan merasakan pengawasan Allah dalam segala kondisi “Beribadahlah pada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya ia melihatmu,” (HR. Abu Nu’aim/hasan).
Mujahadah; bersungguh-sungguh dalam beribadah, beramal shaleh, mendekatkan diri pada Allah, menuntut ilmu dan mengamalkannya. Abu Darda; “Jika bukan tiga hal, aku tidak ingin hidup walau hanya sehari, yaitu rasa haus karena Allah di waktu-waktu siang hari (puasa), sujud pada Allah di tengah malam, dan mengikuti majelis-majelis orang-orang yang memilih pembicaraan yang baik-baik sebagaimana kurma yang baik-baik dipilih.” Jika jiwa membangkang lawanlah dengan tekad bahwa kesungguh-sungguhan merupakan kebutuhan sebagaimana fisik membutuhkan makanan.
Muhasabah (introspeksi diri). Menyediakan waktu setiap hari, sejenak untuk muhasabah terhadap apa yang dilakukan dalam sehari (berapa kesalahan yang dilakukan, apa yang dilakukan untuk menutup kesalahan, kebaikan apa yang telah dilakukan, sudah cukupkah untuk menutupi dosa, sifat-sifat tercela apa yang belum hilang dalam diri, bagaimana cara mengilangkan), jika kesalahan lebih banyak dari kebaikan, maka memperbanyak istigfar dan memohon maaf jika bersalah pada orang, jika sebaliknya, berusaha untuk lebih baik keesokan harinya mengingat kesalahan-kesalahan di masa lalu masih belum tertutupi.
Mu’atabah; seseorang hakikatnya tidak memiliki daya dan upaya melainkan Allah, untuk itu berusaha mencela diri. Jiwa biasanya mengajak pada hidup enak, menyenangkan, mengikuti hawa nafsu dan melakukan kemaksiatan, maka kita harus senantiasa mencela kehendak hawa nafsu yang rendah ini.
Abdullah bin Mas’ud r.a; “Tunaikan apa yang telah Allah wajibkan pada Anda, niscaya Anda menjadi orang yang paling beribadah; jauhilah larangan-larangan Allah, niscaya Anda menjadi orang yang paling zuhud; dan puasalah dalam menerima bagian (rizki) Anda dari Allah, niscaya Anda menjadi orang yang paling kaya.”
Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari
a) Banyak berdoa pada Allah supaya memperoleh Akhlak yang mulia
b) Bertingkah laku seperti Al-Qur’an berjalan
c) Memperbaiki sandal, menjahit pakaian, mengerjakan pekerjaan rumah
d) Menghadiri undangan, menengok orang sakit, dan tidak sombong
e) Memperlakukan pembantu secara sama
f) Cerdas dan dididik langsung oleh Allah
g) Selalu memulai mengucapkan salam dan suka bersalaman dengan erat.
h) Memberikan penghormatan pada tamu
i) Paling dermawan
j) Tawadhu walau menjadi makhluk paling mulia
Menjalani Kehidupan Sehari-Hari
Luqman hakim berkata pada anaknya; “Wahai anakku! Sesungguhnya diri manusia itu terbagi tiga komponen, yaitu; sepetiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga lagi untuk cacing. Adapun yang untuk Allah adalah rohnya, yang untuk dirinya adalah amalnya, dan yang untuk cacing adalah jasadnya.”
Sebagai pegangan bagi Anda untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang lebih baik, maka perlu melakukan 3 hal yakni senantiasa meningkatkan kualitas pembacaan Al-Qur’an sampai taraf tertinggi seperti yang disarankan Imam Ghazali, melakukan amalan-amalan dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai hadits Nabi, dan beramal sholeh secara langsung.
Cara Mempelajari Al-Qur’an menurut Imam Ghazali
1. Memahami keagungan dan ketinggian firman Allah, karunia dan kasih sayang Allah pada makhlukNya dengan diturunkannya Al-Qur’an.
2. Mengagungkan Allah saat membaca Al-Qur’an di dalam hati, ingatlah ini firman Allah bukan perkataan manusia.
3. Kehadiran hati saat membaca Al-Qur’an dan meninggalkan bisikan hawa nafsu atau jiwa yang tercela.
4. Tadabbur; merenungkan dan memikirkan makna-makna yang dikandung Al-Qur’an, makanya dianjurkan membaca tartil atau pelan-pelan.
5. Tafahhum; mencari kejelasan makna setiap ayat Al-Qur’an dengan tepat dan benar, menyesuaikan pemahaman sesuai konteks zaman sekarang.
6. Menghindari hambatan-hambatan yang menghalangi pemahaman seseorang saat berupaya memahami Al-Qu’an, tidak terjebak pada makharijul huruf, taqlid buta, dan terus menerus berdosa, angkuh dan tergoda hawa nafsu.
7. Takhsys; menyadari bahwa dirinyalah sasaran Al-Qur’an, misalkan membaca ayat yang memberi perintah, maka dirinyalah yang diperintah, demikian juga saat mendengar larangan, nasihat, bimbingan dan petunjuk. “…. yang dengannya Kami teguhkan hatimu,” (QS Huud;120).
8. Taatstsur; hatinya terpengaruh dengan beragam kesan dengan bermacam-macam ayat yang dihayatinya, apapila ilmunya sempurna, maka rasa takut menyelimutinya, rasa cinta mengugah sanubari, dan rasa hormat yang mendalam.
9. Taraqqi; meningkatkan penghayatan sampai ke tingkat mendengarkan Al-Qur’an langsung dari Allah, adapun tingkatan-tingkatannya; seolah-olah seseorang membaca Al-Qur’an di hadapan Allah (tingkat rendah), menyaksikan dengan hati seakan-akan Allah melihatnya, berbicara padanya, membisikkan padanya berbagai nikmat dan kebaikan, melihat mutakallimin (Dzat yang berfirman) pada setiap kalam yang dibacanya, dan melihat sifat-sifatNya pada kalimat-kalimat yang ada, sehingga seluruh pikiran, perasaan, hati terhambat hanya pada Allah, yang lain fana (tingkat paling tinggi).
10. Tabarri; melepaskan diri dari daya dan kekuatan, merasa lemah, hanya memandang dengan pandangan ridha dan kesucian. Apabila membaca ayat-ayat pujian pada orang-orang Muttaqien, dan shaleh dirinya merasa melihat mereka, sehingga ingin memperbaiki diri dan meneladani, sedang apabila mendapat ayat-ayat tentang ancaman, siksa dan azab dirinyalah yang akan mengalami semua itu, sehingga hati tergoncang dan takut.
Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sepuluh surat dapat menolak sepulum macam bencana, yaitu; surat Al-Fatehah menolak murka Allah, surat Yaa Siin menolah dahaga di hari kiamat; surat At-Dhukhaan akan mencegah ketakutan di hari kiamat; Surat Waqi’ah mencegah kefakiran; surat Al-Mulk akan mencegah siksa kubur, surat Al-Kautsar akan menolak permusuhan, surat Al-Kafirun menolak datangnya kefakiran ketika dicabutnya nyawa, ssurat Al-Ikhlas menolak kemunafikan, surat Al-Falaq akan mencegah kejahatan dengki dari orang yang dengki, surat An-Naas akan menolak was-was.”
Beberapa Amalan Penting dalam kehidupan sehari-hari
Istigfar minimal 100X setiap hari “Sesungguhnya hatiku mengalami kelupaan sehingga aku beristigfar setiap hari seratus kali,” (HR. Muslim) “Siapa yang terus membaca istigfar, Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitan, kegembiraan dari setiap kesusahan. Dan Allah akan memberi rizki yang tanpa terkira,” (HR. Abu Daud, Nasa’I Ibnu Hibban). Beristigfar 1000X jika memiliki urusan yang sangat penting.
Jika sedang gelisah membaca:
(Ya hayyu ya qoyyuum birahmatika astaghiitsu) (HR. At-Tirmidzi)
(Rabbie Laa Usyrik bihi Syai’a) (HR. An-Nasa’i)
Sedekah seperti memerdekakan 10 hamba sahaya, ditulis 100 kebaikan, dihapus 100 kejelekan dan menjadi perisai setan dari pagi sampai sore. Membaca setiap hari 100X;
(Laa Ilaha Illallah wahdahu Laa syarikaka Lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir) (HR. Mutafaqun ‘Alaihi)
Seribu kebaikan dan menghapus seribu kesalahan yakni membaca Tasbih 100X tiap hari
“Apakah salah satu dari kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari? Lalu ada yang bertanya, Bagaimana kita mendapatkan seribu kebaikan?” Nabi SAW bersabda; Bertasbih kepada Allah sebanyak seratus kali hingga ditulis oleh Allah seribu kebaikan atau dihapus seribu kesalahan.” (HR. Muslim)
Ringan di lisan tapi berat di timbangan dan dicintai Allah yakni membaca (subhanallah wabihamdihi subhanallhil ‘adzhim)
Salah satu gudang surga yakni membaca (La Haula walaa quwata Illa billah) (HR. Muttafaq ‘Alaihi)
Doa yang paling banyak dibaca Rasulullah yakni doa sapu jagad (Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah, waqina adzabannaar)
Amalan Dzunun atau Nabi Yunus (Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzaalimien) Seseorang yang membaca doa ini dalam keadaan apa pun Allah akan mengabulkan doanya (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad dan Hakim)
Amal Sholeh merupakan salah satu pendukung kesuksesan, bentuk riilnya ialah;
1. Berjanji pada diri sendiri untuk membantu orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimiliki; ilmu, materi, tenaga, pikiran dan doa.
2. Jika Allah memberikan karunia berupa keberhasilan suatu saat nanti, berjanji untuk membantu minimal satu orang miskin, anak yatim piatu, pengangguran atau anak terlantar sampai mampu mandiri.
3. Segera melakukan kebaikan, sebagai misal; 15% keuntungan Pelatihan LFL digunakan untuk mensubsidi Kuliah Alternatif dan Pelatihan Gratis bagi Yatim Piatu, Fakir Miskin dan anak jalanan. Anda juga bisa melakukan hal yang sama agar bahagia di dunia dan akhirat.
“…..sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS. Huud; 114)
Tes Mukmin Sejati
Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang sesuai dengan kepribadian, prilaku, kebiasaan, dan tidak boleh berbohong demi kepentingan Anda sendiri.
a. Biasa bersikap rendah hati terhadap siapa saja
b. Terkadang bersikap rendah hati, terkadang tidak
c. Merasa paling hebat melebihi orang lain
a. Senang melihat orang lain sukses
b. Benci melihat orang lain sukses
c. Mau menjatuhkan orang lain yang sukses
a. Menjalani hidup apa adanya
b. Merasa beban hidup sangat berat dan susah, sehingga kadang mengeluh
c. Suka hidup dalam dunia angan-angan dibanding kenyataan
a. Ketika mau marah, mampu menahannya dengan baik
b. Melampiaskan amarah ala kadarnya
c. Melampiaskan amarah secara berlebihan
a. Mampu mengendalikan keinginan dan mengaturnya
b. Kadang mengikuti keinginan, kadang mampu mengontrolnya
c. Menuruti apa pun yang diinginkan, baik atau buruk
a. Selalu melihat kebaikan dalam diri orang lain walau berbuar jahat sekali pun
b. Selalu membalas kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan
c. Selalu berburuk sangka pada orang lain
a. Berbuat baik secara tulus dengan berusaha merahasiakannya
b. Membanggakan kebaikan yang dilakukan di depan orang banyak
c. Melakukan kebaikan karena ingin dipuji dan mendapat penhargaan
a. Tidak senang ketika memiliki sesuatu dan tidak merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu
b. Senang ketika memiliki sesuatu dan merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu
c. Kecintaan pada harta melebihi kecintaan pada diri dan orang lain
a. Bersedekah menjadi kebiasaan seperti halnya makan
b. Kadang bersedekah, kadang tidak
c. Tidak suka bersedekah dan memberi pada orang lain
a. Hanya takut pada Allah SWT
b. Takut pada siksa kubur dan neraka
c. Takut menghadapi kematian dan manusia
a. Sering memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta
b. Kadang memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta
c. Tidak pernah memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta karena dianggap sia-sia
a. Hidup merupakan pencarian jati diri guna mencapai ridha Allah
b. Hidup merupakan upaya mencari bekal guna mendapatkan surga
c. Hidup di dunia sudah dianggap mencukupi
a. Menerima karunia Allah dengan penuh rasa syukur, sehingga menimbulkan ketaatan beribadah dan beramal shaleh
b. Mensyukuri nikmat Allah ketika senang, sedang ketika ditimpa sengsara justru lupa
c. Apa yang diperoleh dianggap hasil jerih payah sendiri, sehingga tidak perlu bersyukur
a. Ketika melakukan kesalahan, langsung menyesalinya, membaca istigfar dan berusaha tidak mengulanginya
b. Saat melakukan kesalahan menyesalinya dan beristigfar, tapi kembali melakukan kesalahan
c. Ketika melakukan kesalahan, bersikap cuek
a. Menjalankan ibadah sebagai kebutuhan
b. Menjalankan ibadah sebagai kewajiban
c. Malas beribadah, malah melalaikannya
a. Saya beribadah seakan-akan melihat Allah langsung
b. Saya beribadah karena Allah pasti melihat yang dilakukan
c. Saya beribadah karena melihat orang lain melakukan hal yang sama
a. Apabila disebut nama Allah, hati gemetar
b. Apabila disebut nama Allah, hati merasa tenang
c. Apabila disebut nama Allah, biasa-biasa saja
a. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, iman bertambah kuat
b. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, mendapatkan suntingkan semangat baru
c. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, tidak ada perubahan sama sekali
a. Kebaikan dan keburukan berasal dari Allah
b. Kebaikan berasal dari Allah, keburukan berasal dari sendiri
c. Kebaikan dan keburukan berasal dari upaya Manusia
a. Melakukan segala sesuatu karena Allah dan ikhlas tanpa pamrih
b. Melakukan segala sesuatu karena Allah, tapi kadang mengharap pujian manusia
c. Melakukan segala sesuatu karena manusia
a. Menerima taqdir Allah secara sukarela, baik atau buruk
b. Menerima taqdir Allah ketika mendapatkan kebaikan atau rizki
c. Mengingkari kebenaran taqdir Allah karena merasa manusia mampu menentukan taqdirnya sendiri atau suka menyalahkan taqdir Allah
a. Yakin seyakin-yakinnya adanya alam ghaib
b. Percaya adanya alam ghaib dengan tanpa keraguan
c. Percaya adanya alam ghaib, meski kadang-kadang timbul keraguan
a. Saya yakin seyakin-yakinnya kebenaran-kebenaran Islam
b. Saya percaya kebenaran-kebanaran Islam dengan akal atau ilmu pengetahuan
c. Saya percaya kebenaran-kebenaran Islam karena diberitahu orang lain
a. Mengharap perjumpaan dengan Allah sebagai tujuan hidup
b. Mengharap kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak
c. Mengharap kehidupan yang lebih baik di dunia
Jika jawabannya banyak a) berarti Anda memang Mukmin Sejati, Istiqomahlah (konsisten)
Jika jawabannya banyak b) berarti Anda seorang Muslim yang berupaya menjadi Mukmin Sejati, berusahalah untuk meningkatkan diri dengan menjalankan Item a) semuanya
Jika jawabannya banyak c) berarti Anda Muslim karena KTP atau keturunan, berusahalah melakukan yang ada di Item b) supaya meningkat menjadi Muslim sesungguhnya. Wallahu ‘alam bisshowaab
Ali r.a; “Jadilah Anda sebaik-baik manusia dalam pandangan Allah, sementara dalam pandangan mata sendiri sebagai orang yang terjelek, dan jadilah orang sewajarnya dalam pandangan orang lain.”
Meningkatkan Kualitas Keimanan
Rukun Iman terdiri dari; percaya atau beriman pada Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul khususnya yang berjumlah 25, Kitab-kitab Allah; Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an (khususnya Al-Qur’an), hari kemudian, percaya pada ketentuan Allah. Ini bermakna spritual yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah (hamlum minallah) dan sosial yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan makluk lainnya (hamlum minalmakluk)
Tingkatan Keimanan
1. Percaya Rukun Iman dengan taqlid saja (ikut-ikutan tanpa ilmu)
2. ‘Ainul Yaqin; percaya dengan yakin, seperti kebenaran sunnatullah yang sudah dibuktikan Ilmu pengetahuan yang telah teruji kebenarannya dan muraqobah (Allah pasti melihat kita)
3. Ilmul Yakin; kayakinan tanpa keraguan setelah menyaksikan secara langsung kebenaran-kebenaran Islam dan ma’rifatullah (mata hati seakan-akan melihat Allah langsung)
4. Haqqul yakin; Yakin dengan panca indera, akal dan hati dengan menyaksikan secara langsung lahir dan batin tentang kebenaran-kebenaran Islam dan musyahadah (Melihat Allah langsung tanpa hijab seperti Nabi Musa, yang lebih tinggi seperti mi’rajnya Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha)
5. Istiqomah dalam keadaan Haqqul yakin
Contoh; Nabi Ibrahim AS memberi tauladan dalam proses keimanan yakni awalnya sebelum diangkat menjadi Nabi Percaya dengan penuh keraguan pada ciptaan Allah, lalu Percaya tanpa keraguan setelah melihat sunnatullah pada bulan, matahari, dan bintang, percaya dengan dengan ‘Ainul yakin setelah dibakar api tapi tidak apa-apa (dzat api yang panas diganti dingin atas kehendak Allah), Percaya dengan Ilmul yakin setelah melihat langsung mukjizat berupa burung yang dipotong-potong dan disebar ke beberapa gunung tapi bersatu kembali, terbang ke hadapan beliau, percaya dengan Haqqul yakin manakala beliau bersedia mengorbankan anaknya Nabi Isma’il karena Allah semata, meski kemudian diganti kambing/domba sebagai bentuk rahmat Allah, dan puncaknya beliau istiqomah dalam haqqul yakin sehingga mendapatkan gelar Khalilullah. Untuk sahabat Nabi Abu Bakr Shiddiq!
Nabi Ibrahim a.s pernah ditanya; “ Apakah yang menyebabkan Allah menjadikan Anda sebagai kekasihNya?” Nabi Ibrahim menjawab; “Allah menjadikanku kekasihNya (khaliluhu) sebab tiga hal, yaitu: Saya memilih urusan Allah daripada urusan yang lain; saya tidak pernah gelisah mengenai segala hal yang telah menjadi tanggungan Allah untukku; dan saya tidak pernah makan, baik makan malam maupun siang, melainkan bersama tamu.”
Untuk mampu mencapai semua itu, perlu mengambil langkah-langkah;
a) Memilih hal-hal yang mudah dilaksanakan
b) Setelah mampu, baru memilih hal-hal yang sulit tapi bisa dilakukan
c) Bertekad dalam diri untuk melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari
d) Melakukan semua itu dengan senang hati dan sukarela
e) Bersungguh-sungguh untuk mampu meningkatkan diri dalam segala aspek,
f) Berupaya konsisten sampai meninggal dunia
g) Berkeyakinan pada Allah tanpa keraguan secuil pun
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) Hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS; Al-Anbiya’; 47)
Epilog
Malaikat Jibril berkata; “Allah, Pemilik keagungan, mencintai tiga perkara dari hamba-hambaNya, yaitu; Mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbakti kepada Allah SWT; menangis ketika sedih karena telah melakukan maksiat; dan bersabar ketika tidak punya sesuatu buat memenuhi kebutuhan.”
3 Langkah Sederhana untuk meraih kesuksesan; Belajar Otodidak, Wirausaha Islam dan Mukmin Sejati merupakan satu kesatuan langkah yang dilakukan secara terpadu. Artinya, untuk meraih kesuksesan tidak boleh menonjolkan satu Item dengan meninggalkan lainnya, melainkan mengintigrasikan seluruhnya dalam kesatuan langkah. Untuk itu, perlu beberapa langkah berikut ini.
Pertama; Belajar Otodidak seumur hidup merupakan upaya untuk memahami, mengerti dan mendalami segala sesuatu dalam kehidupan yang dijalani dan memahami diri Anda masing-masing, sehingga Anda mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, mengantisipasi masa depan dengan baik, mewarnai kehidupan masa kini dengan kehidupan yang lebih baik, dan membawa bekal yang mencukupi untuk akhirat kelak.
Kedua; Wirausaha Islam merupakan cara untuk mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan abad 21 dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Cara-cara yang ditempuh merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan dengan nilai-nilai masa kini yang terbukti berhasil. Dari sini diharapkan muncul wirausahawan Muslim yang berwawasan global, sehingga dapat membantu kesejahteraan umat Islam lainnya. Berhubung, dalam bisnis tidak ada batasan agama, ras, suku dan latar belakang, maka Wirausahawan Muslim harus mampu bersinergi dengan siapa saja tanpa mengenal perbedaan masing-masing pihak. Hal ini tetap berkesesuaian dengan Islam.
Ketiga; Mukmin Sejati merupakan keharusan dalam abad 21. Inilah yang dimaksud Barat dengan Spritualitas Islam. Dengan menjadi Mukmin Sejati, Anda mampu bersikap benar dalam berbagai keadaan, tahan banting, menjadi manusia yang berusaha sempurna, memiliki benteng yang kokoh terhadap budaya lain yang merusak, dan melakukan segala sesuatu karena Allah dengan penuh keyakinan.
Keempat; perpaduan harmonis antara ketiganya yang insya Allah membimbing Anda untuk bahagia di dunia dan akhirat. Ketika Anda mencari kebahagiaan di dunia saja, coba renungkan, bukankah segala kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan bersifat semu atau sebentar. Itu karena kebahagiaan di dunia hanya sementara, sedang di akhirat kelak bersifat kekal selamanya. Alangkah nikmatnya menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat! Insya Allah (dengan keyakinan) hal itu dapat Anda capai dengan 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Selamat mempraktikkan!
Dalam rangka memudahkan Anda menempuh 3 Langkah di atas, maka kami menawarkan Pelatihan Learning For Living (LFL). Pelatihan ini bukan sekadar menjelaskan 3 Langkah tersebut, melainkan upaya mengintigrasikan seluruhnya dalam diri Anda masing-masing. Sehingga setelah Pelatihan, Anda mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin mengingat Pelatihan kembali, cukup membaca buku ini.
Sebagai bahan perenungan, bacalah puisi ini dengan penuh perasaan, serap maknanya, salami jiwanya, dan jadilah Mukmin yang seutuhnya!
PELATIHAN
Learning For Living (LFL)
Pembelajaran Untuk Kehidupan
Barat Balai Desa Wonosari No.26B Bondowoso
Kontak Person: 085235930884
“Tuntutlah ilmu dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat,” Hadits
Lifelong Education (Pembelajaran seumur hidup)
LFL merupakan lembaga Pelatihan yang berupaya mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menaklukkan abad 21, mengasah keterampilan kewirausahaan, menemukan potensi manusia dan mengembangkannya, membentuk kepribadian unggul yang tahan uji dan beramal sholeh, didukung Trainer dan Tim berpengalaman. 20% dari ketuntungan digunakan untuk mensubsidi Pelatihan Gratis bagi panti asuhan, anak yatim piatu dan fakir miskin.
Visi
Membentuk Generasi Visioner yang mau Belajar Otodidak seumur hidup, Mandiri, dan Beriman sempurna.
Misi
1. Membuka cakrawala baru bahwa kesuksesan mampu diraih dengan kemauan yang kuat untuk Belajar Otodidak seumur hidup.
2. Mengerti jenis Kecerdasan Berganda dan Gaya Belajar yang dimiliki, sehingga mampu mengembangkannya sesuai dengan kepribadian masing-masing untuk memudahkan dalam memilih profesi yang cocok.
3. Mampu bekerja sama dengan siapa saja, sehingga dapat hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
4. Memiliki keimanan yang kuat sebagai benteng menghadapi kompleksitas zaman dan akselerasi perubahan.
5. Melakukan Perubahan Pendidikan di Indonesia dengan perubahan yang signifikan dalam diri pelajar dan mahasiswa, sehingga mereka berhasil dalam hidupnya.
Jenis Pelatihan LFL dan Outputnya:
I. Pelatihan Belajar Otodidak
1. Mengerti Belajar Bagaimana Belajar (BBB), sebab cara belajar sama pentingnya dengan belajar.
2. Belajar bukan sekadar untuk ujian melainkan guna menjalani kehidupan yang lebih baik
3. Meruntuhkan penghalang mental untuk berhasil dalam belajar di sekolah/pesantren
4. Meyakini setiap orang merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah yang cerdas, ini dibuktikan dengan Tes Kecerdasan Berganda yang telah dipersiapkan.
5. Mampu belajar mandiri sesuai dengan gaya masing-masing anak yang memang unik dan khas, dibantu dengan Tes Mengetahui Gaya Belajar.
6. Memiliki semangat belajar seumur hidup
II. Pelatihan Wirausaha Islami
1. Memahami nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan
2. Mengerti dunia entrepreneur dan makroprenuer
3. Motivasi untuk bekerja apa saja asal halal
4. Menguasai skill kewirausahaan
5. Sukses menekuni usaha secara Islami
III. Pelatihan Mukmin Sejati
1. Memahami Islam secara spiritual dan sosial
2. Membuang sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam
3. Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari
4. Menjadi Mukmin Sejati
5. Amal Sholeh sebagai pendukung kesuksesan
LFL TEAM
Mengingat kompleksitas dari sistem kerja animasi, terkait dengan jumlah SDM untuk menempati posisi-posisi ideal, maka kami menyusun Team LFL guna berjalannya proses kerja
Nama-nama anggota team kreatif yang telah bergabung berikut sesuai dengan spesifikasinya, adalah sebagai berikut:
1. Zubairi
• Penasihat
2. Ahmad Zamhari Hasan, Posisi :
• Direktur
• Trainer
3. Jumladi:
• Editor & Graphics Design
4. Iqlimah :
• Administrasi
Pengalaman-Pengalaman:
1. Melakukan Pelatihan di tiga Pondok Pesantren di Sumatera Selatan, sekolah Mts/MA (Pondok Pesantren Aulia Cendikia Palembang, Pondok Pesantren Inayatullah Gasing Banyuasin, Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Banyuasin Sumsel)
2. Pelatihan Guru-guru TK Raudhatul Qur’an Banyuasin
3. Pondok Pesantren Syaichona Kholil Batu Besaung Samarinda (sekolah SMP/SMA).
4. MTs Normal Islam dengan 150 peserta di Samarinda Kalimantan Timur
5. Mahasiswa Institut Dirasah Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Madura Jatim
6. Panti Asuhan Raksa Putra Sindang Barang Bogor Jawa Barat
7. Pondok Pesantren Al-Ma’sum (SMP/SMA Terpadu) Cianjur Jabar
8. Pelatihan Pelajar, Orang Tua dan Guru di SD Islam Yasiru Kebayoran Lama Jakarta
9. Pelatihan Mahasiswa dan Guru di Cisarua Bogor
10. Pelatihan Pelajar SMP Terpadu & SMK berikut guru di Cikampek Jabar
11. Pelatihan Santri Pondok Pesantren Nur’aliyah Cibubur Jawa Barat
Untuk Pembiayaan, kami atur dengan cara berikut ini:
a. Dibayar Seikhlasnya, paling penting ialah saling berbagi ilmu demi peningkatan mutu anak didik. Malah ke depan, untuk Pesantren Gratis, Panti Asuhan dan Yayasan yang benar-benar sosial, insya Allah Gratis
b. Berhubung pelatihan ini merupakan sebuah upaya untuk membantu para pelajar, generasi muda dan masyarakat umum guna mampu menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Maka masalah pembiayaan disesuikan dengan kemampuan klien kami. Untuk wilayah Jawa Timur; Rp. 200.000 + uang transportasi. Untuk di luar Jawa Timur: Rp. 300.000+ Uang Transportasi. Masalah Ini dapat dirundingkan melalui No. Hp. 085235930884 (Ahmad Zamhari Hasan).
c. Pendaftaran dapat dilakukan dengan menghubungi; : 085235930884, sedang pembayaran dilakukan di tempat Pelatihan. Peserta setiap pelatihan dibatasi 100 orang.
d. Pelatihan ini juga mendukung program Kuliah Online Gratis yang kini sedang dijalani Trainer. www.sampenulis.blogspot.com
PROFIL TRAINER
(FOTO)
Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren TMI Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Selepas mondok lebih banyak Belajar Otodidak (BO) tentang; Pendidikan, sastra filsafat, Islam, dan politik.
Mempelopori lahirnya SUASA (Suara Sastra Al-Amien) yang membuatnya aktif menulis kolom, cerpen dan artikel, menjadi staf redaksi majalah Qalam, mempelopori penerbitan majalah Al-Hikam.
Karya tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul, sedang karya terbatu yakni “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” Kha Tulis Tiwa Press Jakarta. Pengalaman mengajar; Pondok Pesantren TMI Al-Amien Madura 2 tahun, Pondok Pesantren Daarul Ulum Bogor 1 tahun setengah, Pondok Pesantren Daarul Fattah Pecalongan Bondowoso, TPA dan MDA Wonosari Bondowoso 6 tahun. (08176956688
BAHAN BACAAN
Kitab Lengkap Penyujian Jiwa (Tazkiyatun Nafs) Intisari Ihya Ulumuddin, Sa’id Hawwa, PENA Jakarta, Cet IV November 2006
Nashaahi’ul ‘Ibaad; Nasehat Buat Hamba Allah, Muhammad Nawawi ibnu Umar Al Jawi, Surabaya; Amelia, 2005
Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong, Ahmad Zamhari Hasan, Kha Tulis Tiwa Press Jakarta, April 2007
Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses, Hasan, Zamhari Jakarta: Ka-Tulis-Tiwa Pres, cetakan I 2006
Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasjid, Bandung; Sinar Baru Algensindo, Cet ke 38 2005
Sosiologi Agama, The Sosiologi of Religion (1962), Max Weber, Penerjemah Mohammad Yamin, , IRCiSoD Yogyakarta, Cet. II 2002
Panduan Lengkap dan Praktis, PSIKOLOGI ISLAM, Muhammad Izzuddin Taufik, Gema Insani Depok, Desember 2006
Zikir dan Doa dalam Kesibukan, KH. Mawardi Labay El-Sulthani, PT. Al-Mawardi Prima Jakarta, cet. III 1996
Cahaya Pencerahan Dr. Aidh Al-Qarni
Antara Al-Ghazali dan Kant, Filsafat Etika Islam, Abdullah, M. Amin, penerjemah Drs. Hamzah, M.Ag, penyunting Husein Heriyanto, Bandung: Mizan, cet. I Agustus 2002
Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Agustian, Ary Ginanjar, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A, Jakarta: Arga Wijaya Persada 2001
Al-Qu’an Digital Ver 2.1, Jumadil Akhir 1425 (Agustus 2004) Website http://www.alquran-digital.com
Al-Qur’an Terjemahan Berbahasa Indonesia, Penyusun DISBINTALAD, Drs. H.A. Nazri Adlani, Drs. H. Hanafie Tamam, Drs. H.A. Faruq Nasution, Jakarta: Sari Agung, 2001
Terjemah Mukhtasyar Ihya ‘Ulumuddin, Kitab Keajaiban Hati, Al-Ghazali, Bird,
Menulis Dengan Emosi, Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Carmel, Penerjemah Eva Y, Penyunting Femmy Shahrani, Bandung: Kaifa, 2001
Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Camus, Albert, dkk, penerjemah Ade Ma’ruf, penyunting Anas Syahrul Alimi, Yogyakarta: Jendela, Cetakan pertama Maret 2002
BATAS NALAR, Rasionalitas dan Perilaku Manusia, Calne, Donald B. Jakarta: KPG, 2004
Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, Dinsi, Valentino, SE, MM, MBA dkk, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004
Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution, Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, Dryden, Gordon & Jeanette Vos, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, Cet. III Kaifa Bandung 2001
Dunia Sophie, Gaarder, Jostein, Sebuah Novel Filsafat, Penerjemah Rahmani Astuti, Penyunting Yuliani Liputo, Bandung: Mizan Utama, Cet XV 2004
Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Grunder Jr, Martin J. Penerjemah Lovely, Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka, Cet. I Maret 2006
Bidadari Posmodern, Hasan, Zamhari Yogyakarta: Lintang Sastra, Maret 2006
Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, Hanafi, Hasan, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, Yogyakarta: IRCiSoD, September 2003
3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis, Hall, Doug, penerjemah Mursid Widjanarko, Bandung: Kaifa, Cet. I 2004
Change, Kasali, Rhenald, Ph.D, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005
Marketing Your Self, Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis,Kartajaya, Hermawan, Editor Yuswohadi, Sunarto Ciptoharjono, Jakarta: MarkPlus & Co, 2005
Keterampilan Menjelang 2020 Untuk Era Global, Lampiran Satuan Tugas Tentang Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Think, LeGault, Michael, penyunting Rani Andriani Koswara, Jakarta: Trans Media, cet.1 2006
Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Pilliang, Yasraf Amir, Kebudayaan, Bandung: Jalasutra, 2004
Qoelho, Paulo, The Alchemist, Sang Alkemis, penerjemah Tanti Lesmana, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005
Cara Belajar Cepat Abad XXI, Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, Bandung: Nuansa, cetakan ketiga Mei, 2002
Character Building, Membentuk Watak, Mengubah Pemikiran, Sikap, dan Perilaku untuk Membentuk Pribadi Efektif guna Mencapai Sukses Sejati, Soedarsono, Soemarsono, Jakarta: PT Exel Media Komputindo, 2002
Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I dan II, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, Surabaya: pt bina ilmu, 1993
Imaji dan Imajinasi Suatu Telaah Filsafat Postmodern, Tedjoworo, H. Yogyakarta: Kanisius 2001,
Langganan:
Entri (Atom)